10 Bulan untuk 10 Besar

KONI Pusat, Satlak PRIMA, Komite Olimpiade Indonesia, Plt. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga diundang Sesmenpora Gatot Dewa Broto rapat di Kantor Kemenpora, Kamis (19/10). Foto: Kumaidi/Sumatera Ekspres

JAKARTA – Apapun dilakukan Pemerintah agar di Asian Games XVIII pada 18 Agustus-2 September 2018 nanti Indonesia bisa menembus 10 besar. Salah satunya adalah memperpendek rantai penggodokan atlet dengan mengamputasi kewenangan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas alias Satlak PRIMA. Kepastian itu didapat setelah ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) No. 95 tahun 2017 per tanggal 19 Oktober 2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional sebagai pengganti atas Perpres Nomor 15 Tahun 2016 tentang Program Indonesia Emas (PRIMA) oleh Presiden RI Joko Widodo.

Untuk menyambut penghilangan Satlak PRIMA, Kamis siang (19/10), KONI Pusat, Satlak PRIMA, Komite Olimpiade Indonesia, Plt. Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga diundang Sesmenpora Gatot Dewa Broto rapat di Kantor Kemenpora.

Hadir pula di rapat tersebut Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembanguan Setwapres, Deputi Bidang Hukum dan Perundang-undangan Kemensetneg, Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik, Hukum, Keamanan, Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, BPKP, dan Plt. Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK. Rapat ini lanjutan dari rapat yang dipimpin Wapres RI Jusuf Kalla sehari sebelumnya yang dihadiri Kepala Sekretariat Wapres dan seluruh Deputi serta Staf Khusus dan Tenaga Akhli Wapres, Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Ketua Umum KONI dan jajaran pimpinannya, Deputi dan Staf Khusus Menko PMK dan Wakil Sekjen KOI/INASGOC.

Baca Juga :  Realistis Lima Emas

“Ini gambaran keseriusan Pemerintah terkait terbitnya Perpres. Di Perpres ada peralihan fungsi yang semula di Satlak PRIMA kemudian kembali ke Kemenpora, ada yang langsung ke induk cabang olahraga dan NPC (National Paralympic Committee,red),” jelas Sesmenpora Gatot Dewa Broto di Media Center Kemenpora kamis (19/10).

Lanjut Gatot, induk tiap cabang olahraga mendapatkan kewenangan yang lebih besar. Dalam arti seperti penetapan kriteria, seleksi, dan promosi degradasi atlet. Sementara peran besar diberikan kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Sesuai amanat Perpres, KONI tetap diminta untuk bantu Menteri dalam konteks, pengawasan pencapaian target jelang Asian Games, apa yang jadi kendala, kekurangan secara teknis, yang selama ini menjadi tugas Satlak PRIMA itu sekarang menjadi tugas dan kewajiban KONI.

“Dengan adanya pemberlakuan Perpres otomatis kita sudah langsung kerja. Tapi kami ingin ini disempurnakan, misalnya penetapan, seleksi, kriteria promosi-degradasi, mungkin beberapa cabor tertentu perlu pemahaman standardisasi yang sama. Pekan depan kami akan kumpul bareng pimpinan cabor. Secara administratif kami ubah, secara teknis latihan atau persiapan para atlet tetap jalan,” lanjutnya. “Nanti KONI akan melakukan evaluasi, apakah tetap 20 cabor prioritas diperhatikan atau ada perubahan,” lanjutnya.

Baca Juga :  Ini Jawaban Alex Soal TKA LRT

Sebelum perubahan Perpres ini, fungsi KONI Pusat dipreteli dengan munculnya Satlak PRIMA yang bertugas menyiapkan atlet ke ajang lebih tinggi. KONI kembali mendapatkan peran besar setelah program Satlak PRIMA dihentikan. Untuk masa depan Satlak PRIMA, sesuai arahan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Ketua Ahmad Sutjipto akan diplot menjadi Dewan Penasehat di KONI. Sementara perangkat yang lainnya akan dieksekusi sambil jalan. Terkait masuknya Ahmad Sutjipto ke dalam Dewan Penasehat, Ketua KONI Pusat Tono Suratman tidak bisa menolak. Sementara untuk lainnya bisa masuk sebagai penasehat, staf khusus, staf ahli. Nanti mereka akan ditempatkan di satu wadah yang nantinya bisa kontrol tugas-tugas KONI dengan cabor.

Ketua KONI Pusat Tono Suratman menjelaskan, akan ada perubahan di tubuh KONI Pusat setelah menerima tugas baru ini. Yang urgent dilaksanakan menurutnya adalah pembenahan kapasitas building atau sumber daya manusianya. Pihaknya akan menyusun personel di posisi yang tepat sehingga berhasil. Dia juga mengaku optimistis bisa wujudkan ambisi Pemerintah agar Indonesia menembus 10 besar di Asian Games 2018 nanti. Sekalipun, waktu yang tersedia tinggal 10 bulan.

“Saya pernah mengalami sebagai Kasatlak Prima 2010-2011. kurang lebih misi organisasi tidak jauh berbeda dengan Pak Tjip. Saya yakin dan percaya, dengan pengalaman saya, dan juga dari para pengurus besar cabang olahraga, saya yakin bisa tercapai lebih optimal. Yakin bisa tembus 10 besar di Asian Games nanti,” tegasnya. Apakah akan kambinghitamkan perubahan ini jika gagal menembus 10 besar? “Saya yakin tidak, karena ini sudah program yang sudah berjalan, tinggal kita meningkatkan saja. Semangat untuk lebih fokus terhadap prestasi. Tetap optimistis Indonesia bisa menembus 10 besar di Asian Games 2018,” terangnya.(kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!