Belajar Incorporated dari Rekomendasi UNWTO soal Air Connectivity

212

JAKARTA – Salah satu yang membuat Menkomar Luhut Binsar Pandjaitan merasa “klik”?dengan Menpar Arief Yahya adalah benchmark. Selalu ada contoh sukses, dari negara?lain, yang membuatnya “pede” untuk melangkah dan membuat keputusan penting. Karena?tugas terbesar dari seorang pemimpin itu memberi arah dan mengalokasikan sumberdaya,?menuju arah tersebut.
“Indonesia Incorporated itu tidak bisa tidak! Kabupaten-Kabupaten di Danau Toba itu
tidak mungkin bisa jalan sendiri-sendiri. Harus sinergi, berkolaborasi, maju?bersama, incorporated,” ucap Menkomar Luhut Binsar Pandjaitan di Rapat Koordinasi?Nasional (Rakornas) Kemenpar yang di gelar di Hotel Borobudur, Jakarta, 30-31 Maret?2017.
Luhut juga langsung menunjuk dan memberi contoh Borobudur, Jawa Tengah. Tidak bisa?berdiri sendiri. Harus terintegrasi dengan sempurna, antar daerah yang memiliki
destinasi. Itu akan saling menguatkan, saling menaikkan value, dalam bingkai?”Indonesia Incorporated.”
“Sebentar lagi Badan Otorita Pariwisata Borobudur akan jadi! Maka Jogja Solo?Semarang (Joglosemar) harus terkoneksi baik dalam infrastruktur dasar maupun program?kepariwisataannya. Ada Sangiran di Solo, ada Karimunjawa di laut Jawa, ada
Jogjakarta, ada Dieng, yang saling menguatkan destinasi dengan ikon Borobudur,”?papar Luhut.
Itu semua adalah proses membangun soliditas destinasi. Kunci sukses pengembangan
destinasi itu dipaparkan dengan gamblang oleh Menpar Arief Yahya. Melalui satu rumus
yang dia sarikan dari banyak sumber, menjadi 3A. Atraksi, Akses, Amenitas. “Benar,
apa kata Pak Menko Luhut. Ketiga-tiganya harus kompak, ketiganya harus solid, speed
dan smart. Ketiganya harus incorporated, punya arah dan tujuan yang sama, memajukan?pariwisata,” ungkap Arief Yahya.
Dalam hal Akses, Arief Yahya meyakini hasil kajian UNWTO, United Nation World
Tourism Organization yang berpusat di Madrid, Spanyol itu bisa jadi bahan referensi.
Bahwa “jembatan udara” itu berdampak signifikan dalam pariwsata di negara kepulauan
seperti Indonesia. “Judulnya air connectivity and its impact on tourism. Ini bukan
kajian baru, tetapi sudah dilaunching UNWTO sejak 2014,” jelas Arief Yahya.
Pertama, harus ada deregulasi yang mendasar dalam penerbangan nasional. Permudah
izin slot, dibuka lebih banyak bandara, yang ada destinasi level dunia dibuat
international airport, lengkapi seluruh fasilitas yang terkait dengan syarat menjadi
bandara internasional, dan jangan dipersulit.
“Tiga poin yang harus disentuh. Air Service Agreement, Airport Development, Multiple
Brand Strategy for Legacy Carriers,” kata Arief yang mencuplik dari kajian panjang
UNWTO.
Dia mencontohkan kerjasama bilateral dalam air service, yang signifikan mendongkrak
angka kunjungan wisatawan. Jepang dan USA tahun 1998, langsung menaikkan inbound
tourism hingga 33%, dan menanbahn seats capacity 10%. Lalu Korea Selatan dan USA,
juga sama, menaikkan 26.2% tourism, dan menambah kapasitas angkut hingga 26%.
India dan USA tahun 2005 sejak ada agreement, juga langsung mendongkrak jumlah
wisman hingga 25,9% dan menambah daya tampung pengangkutan udara sampai 26%.
Australia-USA tahun 1995 juga menaikkan wisman sampai 16%, dengan seats capacity
15%. “Singapore, Thailand, Malaysia juga sudah menggunakan pola ini,” papar Arief
Yahya.
Kedua, pembangunan airport, perluasan terminal, perpanjangan runway, di Jepang,
langsung menaikkan jumlah kunjungan turis hingga 50-60% dalam 2 tahun, pasca
pembangunan. “Ini bukan kata Arief Yahya, bukan kata saya, tapi data UNWTO yang
berbicara tanpa kata-kata! Saya selalu menghindari subjektifitas dengan kata-kata,
biarlah angka yang bicara,” sebut Arief Yahya.
Jepang, Malaysia, Thailand, Singapore, Korea ceritanya sama. Pembangunan runway
Narita International Airport di Tokyo tahun 2012-2013. “Dari 8 juta wisatawan, naik
13 juta (2014) dan sekarang sudah 20 juta,” kata Arief. Senada ceritanya dengan
Kuala Lumpur International Airport-2 tahun 2014, terminal penumpang-2 utama Incheon
Seoul Korea juga tahun 2011, Changi Int Airport Singapore 2008, Pembangunan runway
Suvarnabhumi Bangkok dan reopening Don Mueang 2009 di Thailand, juga berdampak.
Ketiga, multiple brand strategy, yang dia contohkan Singapore Airlines. SQ istilah
populer maskapai penerbangan dari Singapura itu punya airlines yang kelas menengah
dan LCC – Low Cost Carrier, yakni Silk Air, Tiger dan Scoot. SQ sendiri bermain di
full service, jarak jauh atau long haul, Silk Air jarak menengah dan full service.
“Mereka punya Tiger Air yang nerrow body dan Scoot Air yang wide body, dua-duanya
LCC,” ungkap Arief Yahya.
Jepang punya All Nippon Airway (full service), Air Japan (chartered airlines), ANA
Wings (domestik), Air Do (LCC Domestik), Vanilla Air (LCC International). Thailand
juga punya Thai Airlines, untuk yang full service dan Thai Air serta Nok Air yang
sama-sama LCC.
“Semua benchmark itu sangat aktual dan diikuti banyak negara yang ingin sukses
serupa. Ingat, mereka bisa begitu, karena mereka begitu! Mereka menemukan formulasi
ini sudah melalui exercise yang panjang, proses jatuh bangun berdarah-darah. Kita
jangan memulai dari yang babak belur, kita harus memulai dari ujung akhir,” istilah
Menpar Arief Yahya.
Lalu bagaimana implementasi incorporated di Indonesia? Sampai di mana? Seberapa
jauh? Ikuti lanjutan catatan seri berikutnya, dari Rakornas Kemenpar Triwulan I
tahun 2017.(*/kmd)

Diskusi & Komentar

More News!