Hilangkan Ego Sektoral, Bersama Perangi Narkoba

211
SEPAKAT: Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto, bersama tujuh instansi lainnya, menandatangani kesepakatan bersama memerangi narkoba. Yakni, Kanwil Kemenkumham Sumsel, Kanwil Bea Cukai Sumsel, Kanwil III PT Pegadaian Palembang, PT Angkasa Pura II Palembang, Imigrasi kelas I Palembang, dan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Palembang, kemarin (3/4). FOTO: EVAN ZUMARLI/SUMEKS

PALEMBANG – Sumatera Selatan (Sumsel), masih darurat narkoba. Tak hanya sekadar tempat transit, dari pengedar jaringan internasional dari ujung Sumatera tujuan Pulau Jawa. Tapi juga tempat peredaran yang empuk.
Satuan Tugas Bersih Narkoba (Satgas Sinar), tak akan mampu memeranginya sendirian. “Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Harus dibantu peran serta stokeholder lain,” kata Kapolda Sumsel Irjen Agung Budi Maryoto, di Aula Catur Sakti, kemarin (3/4).
Stakeholder lainnya dimaksud, kemarin diundang, dalam acara coffee morning mengusung tema “Sinergitas Lintas Sektoral dalam Rangka Mencegah dan Memberantas Kejahatan Narkoba.”
Hadir di antaranya dari Pemprov Sumsel, Pemkot Palembang, Kanwil Kemenkumham Sumsel, Kanwil Bea Cukai Sumsel, Kanwil III PT Pegadaian Palembang, PT Angkasa Pura II Palembang, Imigrasi kelas I Palembang, dan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Palembang, TNI, tokoh masyarakat dan agama, serta para kapolres se-Sumsel.
Agung menegaskan, narkoba sudah taraf mengkhawatirkan. Tahun 2016 lalu, secara keseluruhan se-Indonesia ada 41.025 kasus dengan 51.840 tersangka. Ada 40-50 orang per hari bahkan lebih, generasi muda mati karena narkoba.
Untuk tahun 2015, angka relevansi pengguna narkoba sebesar 5,1 juta per 249 juta. “Jadi, pentingnya sinergisitas dan hilangkan ego sektoral agar bisa sama-sama memeranginya,” harap jenderal bintang dua itu.
Pria kelahiran Cilacap, 19 Februari 1965 itu juga menyatakan peran serta masyarakat sangat penting. “Jangan hanya diam, tapi harus proaktif. Termasuk peran aktif Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala desa/lurah yang menjadi 3 pilar Polmas,” bebernya.
Dalam coffee morning kemarin, Kapolda juga menjalin nota kesepakatan dengan tujuh instansi lain. “Jadi, kami sudah sepakat untuk saling sinergis untuk memerangi narkoba. Sama-sama berusaha memutus distribusi narkoba agar tidak masuk ke Sumsel,” ucapnya.
Alumni Akpol 1987 itu juga menegaskan tidak akan main-main urusan penyalahgunaan narkoba. Termasuk pada bawahannya. “Bila ada anggota saya yang terlibat, tidak hanya saya pecat. Tapi juga dipidanakan,” tegas mantan Kakorltntas Polri itu.
Senada, Kepala Kanwil Kemenkumham Sumsel, Dr Sudirman D Hury SH MH, juga mengaku sudah memberi warning pada seluruh petugas lapas/rutan, untuk mengantisipasi jangan sampai ada narkoba masuk. “Saya ingin lapas bersih dari narkoba dan hal-hal yang dilarang lainnya. Harus terus dirazia. Petugas pun jika ada yang main-main dengan narkoba, akan menanggung sendiri akibatnya,” katanya.
Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Tommy Aria Dwianto, memaparkan Provinsi Sumsel saat ini berada di urutan ke-6 dari 34 propinsi se-Indonesia, terbanyak data ungkap perkara tindak pidana narkoba. Tahun 2016 lalu, ada 1.589 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 2.054 orang.
Sedangkan sampai triwulan 2017 ini, ada 462 kasus dengan jumlah tersangka sebanyak 644 orang (lihat grafis). “Untuk klasifikasi pengguna di tahun 2017 ini, dari kalangan wiraswasta yang paling banyak, yaitu 237 orang. Urusan kedua pengangguran sebanyak 117 orang,” kata Tommy.
Saat ini, lanjutnya, ada 72 jaringan aktif dan 11 negara yang terlibat dalam supply chain (rantai peredaran) narkoba ke Indonesia. Transitnya lewat Malaysia dan Singapura. “Dari pengembangan, memang barang bukti narkoba yang kami dapat itu lewat Malaysia dan Singapura,” ujarnya.
Mata rantai peredaran narkoba tersebut, terus diputus. Bukan sekadar kurir saja yang diburuh Satgas Sinar, tapi juga para bandar. “Siapapun yang melawan saat mau ditangkap, akan berakhir di kamar jenazah. Kami sudah membuktikannya,” tegas Tommy. (vis/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!