21 Jemaah Lapor Polda, Kerugian Hampir Rp800 Juta

PALEMBANG – Persoalan Abu Tours mulai bergulir ke ranah hukum. Karena tak kunjung ada kejelasan tentang nasib mereka, sekitar 50 jemaah Abu Tours and Travel Cabang Palembang mendatangi SPK Terpadu Polda Sumsel,

Kemarin (12/2), pukul 09.30 WIB, mereka melaporkan Direktur Utama PT Amanah Bersama Ummat (pimpinan Abu Tours and Travel) Hamzah Mamba terkait dugaan penipuan dan penggelapan terhadap dana umrah para jamaah. Dari 50-an jemaah, ada 21 yang diterima laporannya. Sedangkan 29 lainnya belum bisa melapor karena berkas yang dibawa kurang lengkap.

Di antaranya tidak membawa bukti seperti kuitansi pembayaran dan lainnya. Dari 21 korban yang diterima laporannya, dua orang ternyata anggota kepolisian. Masing-masing bertugas di Polda Sumsel dan Polresta Palembang. Semua pelaporan dikuasakan kepada advokat Riduan SH. Total kerugian ke-21 korban mencapai Rp799.390.000.

Salah seorang jemaah yang melapor Muklis (58), warga Ogan Ilir. Dia dan istrinya dijanjikan berangkat umrah 15 Januari 2018. Mereka sudah membayar lunas sejak 8 Agustus 2017 lalu. “Sampai sekarang tidak jelas. Sebenarnya, kami berharap masih bisa berangkat. Tapi, kalau tidak bisa lagi, ya kembalikan uang kami,” ujarnya.

Ditambahkan Junaidi (45), jemaah lain, dia tidak bisa berdiam diri lagi menunggu menunggu kepastian dari pihak Abu Tours. “Saya sudah hubungi kantor Abu Tours yang di Makassar. Bukannya akan memberangkatkan kami segera, mereka malah minta saya menambah biaya Rp15 juta per orang atau cari dua jemaah yang mau daftar dengan ongkos Rp21 juta. Kata mereka, dengan begitu baru bisa berangkat,” tuturnya.

Junaidi menyatakan, tawaran itu sangat memberatkan. “Jelas sekali menyalahi ketentuan awal. Uang sudah kami setor, persyaratan lengkap. Tiba-tiba mau dikenakan biaya lagi. Makanya kami laporkan ke polisi hari ini (kemarin),” cetusnya.

Jemaah lain, Yahya (58) mengatakan, dia mendaftar melalui agen di Tanjung Batu, Ogan Ilir (OI) Maret 2017. Ambil paket umrah Rp16 juta dan dijanjikan berangkat Februari 2018. “Sudah jadwal berangkat, ternyata tidak jadi. Saat kami hubungi, kata mereka sabar. Tapi sampai sekarang tidak jelas kapan,” ceritanya.

Nasib yang sama dialami Nyai (50) warga Sekip Palembang. Dia mendaftar di Abu Tours Desember 2016, dengan tarif Rp20 juta melalui agen di Jl Angkatan 66. “Janji berangkat Januari tadi. Perlengkapan sudah ada bahkan sudah ikut manasik di PSCC, “tuturnya.

Saat manasik, dia sudah membayangkan beribadah umrah di Tanah Suci. “Kata pembimbing waktu itu, kita berangkat… kita berangkat. Semangat sekali rasanya,” kata dia. Namun, semangat itu berangsur pudar. “Kami hanya menunggu kabar, semoga ada kejelasan karena uang Rp20 juta itu jerih payah saya bekerja bersama suami. Rasanya sedih seperti ini,” ungkap Nyai.

Nasib yang sama dialami Pilulyati (55). Warga Tangga Buntung itu mendaftar Juli 2016 dengan tarif umrah promo Rp16 juta. Dia dijanjikan berangkat Desember 2017. “Saya sudah ikut manasik di Hotel Aston November 2017 lalu. Bahkan sudah syukuran berangkat dua kali, “ bebernya.

Menurutnya, kalau memang tidak jadi berangkat, dia hanya minta uangnya dikembalikan. Sementara itu, H Edi Junaidi (50) tak sendirian gagal berangkat. Tapi, dia bersama sekitar 30 orang kawan-kawan satu komunitasnya. Mereka dapat tarif promo Rp12,5 juta. “Daftar Maret 2017 dan dijanjikan berangkat 28 Januari, tapi ternyata tidak jadi berangkat,” katanya.

Edi dan kawan-kawan bisa dapat paket umrah semurah itu karena ada temannya yang kenal dengan pimpinan cabang Abu Tours Palembang. “Tapi saat akan berangkat, pihak Abu Tours minta tambahan pajak 5 persen dulu karena adanya kenaikan dari pemerintah Arab Saudi,” tuturnya.

Dia kemudian berangkat ke Jakarta menemui Wajidi. Penjelasan yang didapatkannya, jika tetap ingin berangkat, ia harus menarik dua jemaah baru yang mau bayar Rp21 juta, plus biaya tambahan Rp6 juta.
“Kalau tidak, kami ber-30 bisa berangkat jika mau bayar masing-masing Rp15 juta,” cetusnya. Kata Edi, dia dan teman-temannya bisa menerima jika Abu Tour minta tambahan biaya untuk menutupi kenaikan pajak 5 persen.

“Tapi kalau mau menambah Rp15 juta lagi, rasanya sudah tidak masuk akal. Malah dikatakannya, uang kami tidak akan kembali kecuali kalau ikut aturan itu,” imbuhnya.

Pantauan koran ini, sebelum mendatangi Mapolda Sumsel, puluhan jemaah itu berkumpul dulu depan kantor Abu Tours di Pakjo. Mereka masih mendapati rolling door tetap terkunci rapat. Para jemaah terkejut ketika salah seorang warga mengatakan bahwa barang-barang di kantor itu sudah dipindahkan secara diam-diam pada malam hari.

“Ada beberapa orang datang naik mobil minibus dan boks, Jumat dan Sabtu, mulai sore hingga jam 10 malam. Mereka angkuti barang-barang inventaris dari kantor itu,” beber warga yang minta namanya dirahasiakan itu.

Informasi itu makin membuat para jemaah yang menunggu membulatkan tekad melapor ke pihak kepolisian. Kedatangan para jemaah disambut langsung Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnain Adinegara.
Dia menyebut, memang cukup banyak warga Sumsel yang jadi korban dugaan penipuan umrah paket murah oleh biro perjalanan. “Tentu akan kami selidiki dan proses sesuai hukum yang berlaku. Ini ranahnya tindak pidana penipuan,” tegasnya.

Ia berharap, pihak Abu Tours bertanggung jawab dengan secepatnya memberangkatkan semua jemaaah sesuai janji atau mengembalikan uang jemaah. Polda Sumsel akan berkoordinasi dengan Polda Sulsel. “Juga akan komunikasi dengan Kemenag Sumsel untuk melengkapi berkas penyidikan. Terutama terkait izin operasional Abu Tours,” sambungnya.

Ia memastikan, penyidik akan memanggil dan memeriksa kepala cabang Abu Tours di Palembang dan para pegawainya. Untuk mempermudah penyelidikan, kantor travel umrah itu kembali disegel.

Kapolda mengimbau kepada jemaah untuk tidak bertindak anarkis. Selain tidak akan menyelesaikan masalah, perusakan oleh jemaah justru akan menimbulkan masalah baru. “Mohon bersabar. Biarkan kepolisian yang memprosesnya,” pungkasnya.

Sementara, Kasubdit 1 Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Suwandi Prihantoro menegaskan, jajarannya sudah menyambangi kantor Abu Tours di Pakjo sekitar pukul 16.30 WIB. “Kami sudah pasang police line di sana untuk kepentingan penyidikan,” bebernya.

Kepala Cabang Abu Tours Palembang sejak beberapa hari lalu sudah coba dihubungi, tapi tak memberikan respon. Kemarin koran ini mencoba menghubungi Hj Yuli yang disebut-sebut istri dari Kepala Cabang Abu Tours Palembang, namun telepon tak diangkat. Sedangkan pesan yang dikirim melalui WhatsApp hanya dibaca, tanpa balasan.

Sudah 38 Jemaah Lapor

Tak hanya ke Polda Sumsel, sebagian jemaah juga mengadukan nasib mereka ke Kanwil Kemenag Sumsel. Jumlah yang melapor terus bertambah. Jika di akhir pekan lalu tercatat 24 orang, kemarin bertambah lagi 23 orang. “Total sudah 47 yang datang dan melapor,” kata Kakanwil Kemenag Sumsel HM Alfajri Zabidi melalui Kasubag Inmas H Saefudin Latief.

Identitas semua jemaah yang melapor ke posko Kemenag didata sebagai bahan untuk laporan ke Kemenag pusat. “Paling tidak, kita punya data dulu. Karena sudah minta manifes ke Abu Tour tidak dikasih. Kami juga dorong para jemaah yang dirugikan untuk melapor ke pihak berwajib,” ujarnya.

Kemenag sebagai institusi tidak bisa melaporkan itu. “Sehingga, jemaah yang jadi korban lah yang harus melapor. Data yang kami himpun bisa jadi data, sekaligus untuk laporan ke Kemenag pusat,” tandas Saefudin.

Menurutnya, semua kantor Kemenag di Sumsel diminta membuka posko mengakomodir jemaah yang mau melapor. Bahkan, di OKU Timur, sampai tingkat KUA telah diminta menerima pengaduan tentang Abu Tours. (wly//vis/tha/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!