4 Perampok Letuskan Pistol

PALEMBANG – Kawanan perampok berjumlah empat orang beraksi di dalam Kota Palembang. Tepatnya 2 jam, 15 menit sebelum kedatangan Presiden Joko Widodo ke kota pempek. Mereka menggasak uang Rp30 juta dari dalam mobil Innova silver BG 1116 EE milik Eddy (40), kepala cabang (kacab) Petro Artha Indo.
Kejadiannya di depan kantor korban di Jl Residen A Rozak, Kelurahan 8 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, kemarin (12/10), pukul 13.45 WIB. Ceritanya, siang itu korban baru saja pulang mengambil uang tunai Rp30 juta dari sebuah bank di kawasan Celentang.
Dia tak sadar kalau perjalanannya diikuti empat orang pria yang berboncengan naik dua sepeda motor. Dalam perjalanan, ban kiri belakang mobilnya kempis. Ada tusukan besi. Namun, korban terus saja memacu mobilnya sampai ke kantor. Begitu korban memarkirkan mobilnya di halaman depan kantornya, para pelaku langsung mendekat.
Dua pelaku merapat ke sisi kiri dan kanan mobil. Awalnya, pelaku mencoba membuka pintu sebelah kiri depan, tapi tak berhasil. Lalu, pelaku melempar kaca mobil sebelah kanan depan (kaca di samping kemudi) hingga pecah menggunakan busi.
“Lalu pelaku mengacungkan pisau dan mengambil uang yang masih ada di tempat dekat rem tangan,” ujar korban.
Sejumlah karyawan Petro Artha Indo, perusahaan eksklusif distributor di bidang suplai BBM HSD Petronas, yang ada di lokasi terkejut melihat bos mereka dirampok.Mereka berusaha menolong. Namun, upaya mereka terhenti saat seorang pelaku mengacungkan pistol dan memuntahkan peluru ke udara.
“Setelah itu, mereka langsung kabur membawa uang Rp30 juta milik perusahaan yang baru saya ambil dari bank,” tutur korban.
Salah seorang karyawan Petro Artha Indo, Yuhardi (37) mengatakan, keempat pelaku menggunakan helm. Saat kejadian, dia dan teman-temannya sedang nongkrong di belakang kantor mereka. Begitu tahu bos mereka dirampok, Yuhardi dan kawan-kawannya langsung meneriaki para pelaku.
Teriakan itu membuat para pelaku panik. “Pelaku yang menembak pakai pistol itu terlihat bibirnya sumbing, Pistolnya warna silver. Kami sempat takut,” bebernya. Mendapatkan informasi perampokan itu, jajaran Polsek IT II di-back up personel Subdit III Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Di lokasi, petugas menemukan busi yang digunakan pelaku untuk memecahkan kaca mobil. Ditemukan pula sidik jari yang diduga milik pelaku. Polisi tengah mengecek rekaman CCTV yang terpasang di depan kantor Petro Artha Indo, termasuk CCTV di bank tempat korban mengambil uang. “Saat ini masih dalam penyelidikan. Mudah-mudahan, para pelaku bisa ditangkap secepatnya,” ujar Hadi Wijaya.
Kabid Humas Polda Sumsel AKBP Slamet Widodo, mengatakan, Polda dan jajaran tidak akan tinggal diam terhadap para perampok tersebut. “Akan dicari sampai dapat. Jika melawan, terpaksa ditindak tegas,” katanya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada dan berhat-hati. Kejahatan yang terjadi kadang bukan hanya karena ada niat dari para pelaku, tapi juga kesempatan.
Khusus untuk nasabah bank, apalagi yang membawa uang dalam jumlah banyak, polisi siap memberikan pengawalan. “Bisa hubungi kepolisian setempat atau terdekat. Gratis, tidak dipungut biaya karena itu bagian dari tugas kami untuk memberikan rasa aman,” pungkas Slamet.
Dia juga mengimbau kepada seluruh perusahaan atau tempat usaha agar melengkapi sarana keamanan di tempat masing-masing dengan memasang kamera pemantau atau CCTV. Tempatkan kamera di posisi yang strategis, sehingga saat terjadi sesuatu bisa merekam peristiwa tersebut.
“Manfaat CCTV ini cukup besar, terutama memudahkan pengungkapan ketika terjadi tindak kejahatan di tempat tersebut. Pelaku kejahatan juga mudah terdeteksi ciri-cirinya,” tandasnya.
Pengamat hukum dan kriminalitas, Haris Fakhri SH MH menyebut, faktor ekonomi yang tidak stabil menjadi pemicu sering terjadinya kriminalitas. Lapangan kerja yang terbatas dan pengangguran yang banyak, membuat masyarakat berpikir singkat. Melakukan kejahatan.
Kebutuhan “perut” membuat mereka berani untuk melanggar hukum. “Tidak hanya malam, tapi kejahatan juga terjadi di siang hari,” ujar Haris. Terkait masih maraknya pengunakan senpira, Haris menyatakan itu karena masih kurangnya pengawasan. “Harus dilakukan razia secara rutin. Tidak hanya di Palembang, tapi juga di daerah-daerah lain di wilayah Sumsel,” lanjutnya.
Keberadaan polisi juga menyebar di mana-mana. Baik yang berseragam resmi maupun pakaian sipil. “Dengan begitu, bisa dideteksi sedini mungkin setiap tindak kriminal yang akan terjadi,” ujarnya. Untuk masyarakat yang ingin mengambil dana besar, sebaiknya memang meminta pengawalan polisi. “Itu penting untuk keamanan dan keselamatan,” tukasnya. (vis/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!