4 Tahun Campur Formalin

INTEROGASI: Kapolresta Palembang kombes Pol Wahyu Bintono HB menginterogasi Hasan, pemilik tahu yang diproduksi menggunakan cairan tahu formalin sebagai pengawet yang sudah dilakukan sejak empat tahun terakhir. Foto: Wely/Sumatera Ekspres

SUMSEL – Tiga pabrik tahu di kawasan Padang Selasa, Kecamatan Ilir Barat I pernah digerebek tim gabungan Juni 2017 lalu. Saat itu, dua pabrik terbukti menggunakan formalin alias zat pengawet mayat. Peringatan pun diberikan, dua tempat itu di-police line dan tak boleh berproduksi.
Meski jelas-jelas pakai formalin, tak ada kejelasan kasusnya. Kemarin (19/4), jajaran Satreskrim Polresta Palembang mengungkap peredaran tahu yang diduga mengandung formalin. Ada 150 ember yang berisi sekitar 15.000 tahu dari dua pabrik di Jl Putri Rambut Selako, Padang Selasa.
Sebanyak 50 ember diangkut mobil Gran Max BG 9077 NS yang dikendarai Hasan alias Ko Chang. Sebanyak 100 ember lagi diangkut truk BG 8961 UH yang disopiri Beno. Rencananya, semua tahu itu akan dibawa ke wilayah Banyuasin dan Sungai Lilin, Muba.
Pengakuan Hasan, dia ditangkap polisi Rabu malam (18/4), pukul 23.30 WIB, saat mengantarkan tahu itu ke Jakabaring. Dia mengakui, dalam produksi tahu miliknya menggunakan cairan formalin. Hal itu sudah dilakukannya empat tahun terakhir.
“Kalau tidak dikasih formalin, tahu ini akan cepat rusak saat dibawa ke luar kota. Kondisi jalan yang jelek, ditambah lagi tekstur tahu yang lembut, mudah rusak,” bebernya.
Tapi dengan diberi formalin, ketahanan tahu bisa sampai dua hari. Tapi jika tidak diberi formalin, maka tahu itu hanya akan bertahan lima jam. “Itulah alasan pengusaha tahu menggunakan formalin, supaya awet dan kami tidak rugi,” tuturnya.
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada solusi yang diberikan pemerintah supaya tahu awet, tapi mereka tidak melanggar hukum. “Kami tidak tahu cara lain,” ucap Hasan. Dia mendapatkan cairan formalin dari orang yang datang ke pabrik tahunya. Satu liter harganya Rp150 ribu.
“Sebanyak 240 ml formalin atau sebotol air mineral bisa digunakan untuk 30 ember tahu. Satu ember isinya 100 tahu dan harga per satu tahu Rp500,” tuturnya. Hasan menambahkan, formalin diberikan untuk tahu yang akan dijual ke luar kota saja.
Sedang untuk yang dalam kota atau pembeli langsung di pabrik, tidak diberi formalin. “Pedagang keliling tidak mau dikasih formalin,” cetusnya. Sementara Beno, sopir truk, mengaku hanya mengantarkan tahu milik bosnya.
Dia berdalih tidak tahu kalau tahu-tahu itu telah diberi formalin. “Aku cuma bagian antar. Kalau urusan produksi tidak tahu,” katanya. Tahu yang ia angkut memang akan dijual ke Banyuasin dan Sungai Lilin. “Tapi ada yang jemput di Jakabaring. Aku hanya mengantarkan tahu itu ke pedagang yang memesan,” imbuhnya.
Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono HB didampingi Kanit Reskrim Kompol Yon Edi Winara, mengatakan, pihaknya mendapat informasi ada tahu yang diduga mengandung formalin. Rabu malam, anggota Reskrim yang melakukan penyelidikan meringkus B (Beno) dan H (Hasan). “Kami gunakan metode coloring untuk menguji tahu itu dan warna hasil uji berubah,” katanya.
Indikasi kandungan formalin menguat sehingga petugas pun mengamankan kedua tersangka untuk penyidikan lebih lanjut. Sebanyak 150 ember tahu juga disita sebagai barang bukti. Hasan dan Beni terancam pasal 75 ayat 1 jo 136 B UU 2012 tentang Pangan, dengan ancaman 5 tahun penjara.
Rencana pengecekan ke dua pabrik belum dilakukan karena masih dalam pengembangan kasus. “Kami akan terus memonitoring keamanan pangan yang beredar, apalagi ini jelang Ramadan. Supaya tidak merugikan, apalagi membahayakan kesehatan masyarakat,” tandas Kapolresta.
Terpisah, pemilik pabrik tahu berformalin di Banyuasin juga diamankan pihak kepolisian. Tersangkanya, Ashari (46), warga Kelurahan Sterio, Kecamatan Banyuasin III. Tidak ingin mengalami kerugian karena tahu tak tahan lama mendorong tersangka gunakan zat pengawet mayat itu.
Pengakuan tersebut disampaikannya usai rilis di halaman Mapolres Banyuasin, kemarin. Kata Ashari, tahu yang ia produksi dipasarkan ke sejumlah pasar. Terutama di Pasar Pangkalan Balai. “Saya tidak ingin pedagang dan masyarakat yang membeli tahu kecewa dengan tahu yang dibeli tersebut. Jadi pakai formalin itu biar awet,” jelasnya.
Jika sampai ke pedagang kondisi tahu rusak, tentu tidak bisa dijual. Pembeli juga pasti tidak mau membeli tahu yang rusak. Ia mendapatkan cara mencampur zat formalin ke tahu secara otodidak. “Belajar sendiri,” ujarnya.
Caranya, rendam kacang kedelai selama tiga jam. Lalu, digiling dengan mesin pengilingan. Setelah halus, dimasak dalam kuali besar. Usai mendidih, diangkat serta disaring. Hasil penyaringan dimasukkan dalam tong besar. Kemudian, dicampur dengan pengental tahu sebanyak satu gelas.
Setelah mengental, dicetak sesuai ukuran. Lalu, siapkan air 60 – 70 liter. Dalam air itu dimasukan formalin sekitar 5 sendok makan.”Tahu direndam selama 12 jam, setelah itu baru dijual,” tuturnya.
Untuk zat formalin, dia dapatkan dari wilayah Serong, Kecamatan Talang Kelapa. Ashari mengaku baru gunakan zat pengawet mayat itu tiga bulan terakhir. Sedangkan dia telah menggeluti profesi ini sejak 2011 lalu. ”Saya menyesal, Pak. Padahal sebelum ini tidak pernah gunakan itu,” imbuhnya.
Kapolres Banyuasin AKBP Yudhi SM Pinem SIK didampingi Kasat Reskrim AKP Dwi Satya Arian SIK, mengatakan, penggerebekan tahu berformalin dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten Banyuasin.
Awalnya, dari pengecekan di Pasar Pangkalan Balai, Selasa (17/4) lalu. ”Ada temuan tahu yang dijual pedagang mengandung formalin,” ujarnya. Dari pedagang, diketahui kalau mereka mengambil tahu itu dari tersangka Ashari.
Para pedagang membeli tahu itu Rp300 per biji. Dijual lagi di pasar Rp800-1.000. Saat home industry tahu itu digerebek, petugas menyita enam ember yang berisi sekitar 1.000 tahu yang sudah direndam dengan air bercampur formalin.
Sedang dari pedagang di pasar sebelumnya disita 200 tahu yang juga mengandung formalin. “Produksi tahu pelaku sendiri mencapai 2.000-3.000 butir per harinya,” tukas Kapolres. Para pedagang yang jual tahu formalin masih berstatus saksi dalam kasus ini.
Sedangkan tersangka akan dijerat pasal 75 ayat 1 jo pasal 136 huruf (b) UU RI No 18/2012 tentang Pangan. Ancaman pidananya penjara 5 tahun dengan denda maksimal Rp10 miliar.(qda/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!