Agustus 2018, Tersambung Intersection Tol Palindra

Kepala Divisi VI PT Waskita Karya Proyek Tol Kapal Betung, Gunadi Soekardjo, menunjukkan pemasangan pipa Perforated Vertical Drain (PVD) sebelum dilakukan Vacum Consolidation Method (VCM) untuk percepat penurunan air tanah di ruas Pedu-Kayuagung, Foto: Hatta/Sumeks

PALEMBANG – Pembangunan Tol Kayuagung-Palembang-Betung (Kapal Betung) memiliki tantangan medan lebih kompleks dibanding Tol Palembang-Indralaya. Karena sebagian besar lahan dibangun di area basah.

“Betul, mulai dari STA 0 hingga STA 52, proyek Tol Kapal Betung ini di area basah yang pengerjaannya menggunakan metode vacum. Kendala utamanya pengiriman material dengan akses terbatas. Kesulitan lain, jauhnya jarak quary dari lokasi proyek. Rata-rata 20 hingga 40 km. Ditambah lagi timbunan dan muka air yang tinggi yang membutuhkan pengerjaan tanah minimal 2,5 meter hingga 3 meter,” ungkap Gunadi Soekardjo, Kepala Divisi VI PT Waskita Karya yang mengepalai pengerjaan Tol Kapal Betung, di sela-sela peninjauan progres pembangunan Tol Kapal Betung, kemarin (14/11).

Untuk material seperti agregat dan batu pecah, lanjut Gunadi, bukan berasal dari wilayah Sumsel. Sebagian didatangkan dari Lampung dan Bojonegara.

Sedangkan progres pengerjaan fisik Tol Kapal Betung dengan panjang 111,690 km, ungkap Gunadi, untuk seksi satu sudah mencapai 35 persen, seksi dua 40 persen, dan seksi tiga sekitar 15 persen. “Jadi, belum mencapai 50 persen totalnya,” imbuhnya.
Lebih jauh dikatakan, progres pembangunan Tol Kapal Betung masih terkendala pembebasan lahan. Sampai saat ini baru 75 persen lahan yang telah dibebaskan. Sisa 25 persen lagi masih tahap negosiasi, yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Banyuasin.

Baca Juga :  Gelapkan Motor dengan Alasan Ingin Besuk Teman

“Syarat proyek ini bisa cepat dikerjakan adalah ketersediaan tanah. Karena ini merupakan proyek nasional yang membutuhkan percepatan, termasuk dalam hal pembebasan lahan. Munculnya persoalan-persoalan terkait pembebasan dan tumpang tindih lahan diharapkan segera diselesaikan pemerintah daerah setempat. Jika tidak, pengerjaannya hanya bisa diselesaikan spot-spot atau tidak secara keseluruhan,” urainya.

Sementara itu, menjelang pelaksanaan Asian Games 2018, pada seksi satu untuk akses di Jejawi STA 33 di Desa Pedu, Kecamatan Jejawi, OKI, ditargetkan dapat diselesaikan sebelum Agustus 2018. “Paling tidak Agustus 2018 mendatang sudah terkoneksi dengan intersection Tol Palindra di STA 40. Tapi pada Juni-Juli 2018 sudah akan dilakukan uji coba,” ucapnya.

Proyek Tol Kapal Betung dikerjakan dengan sistem kontrak turn key dengan anggaran sebesar Rp9,9 triliun. Namun, ini tidak termasuk pengerjaan jembatan yang dikerjakan divisi dua dengan Pemilik/Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Sriwijaya Makmoer Persada (SRIMP). Target penyelesaian keseluruhan hingga Mei 2019 mendatang. (kms/ce4)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!