Ajar ke Sekolah Terpencil

GRATIS: Komunitas Sriwijaya Membacamenyiapkan buku dan mengajak masyarakat gemar membaca buku. Foto: Alfery/Sumatera Ekspres

Literatur seperti buku, majalah, komik di era teknologi saat ini mulai banyak ditinggalkan pembacanya. Padahal, membaca buku lebih mudah diingat ketimbang membaca karya tulis berbentuk aplikasi di online.

EKO PRASETYO – Palembang

SEKELOMPOK mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) membentuk komunitas yang concern mengampanyekan kebiasaan membaca buku. Komunitas itu diberi nama Sriwijaya Membaca. Terbentuk dari mengendurnya kebiasaan masyarakat membaca literasi konservatif seperti buku, komik, serta literasi lainnya
Taman di Jl POM IX, Palembang, jadi tempat mereka bersosialisasi. Siang kemarin (11/2), mereka duduk lesehan beralaskan spanduk bekas. Di depannya, tersaji puluhan buku bekas. Mulai dari komik, buku pelajaran, novel serta berbagai jenis buku lainnya.
Mereka menawarkan buku itu kepada pengunjung taman untuk dibaca secara gratis. “Membaca buku itu lebih gampang diingat ketimbang membaca melalui aplikasi Android saat ini. Kami sendiri sudah merasakannya. Makanya, kami membuat komunitas ini untuk mengajak masyarakat gemar membaca buku,” ujar Founder Sriwijaya Membaca, Sepri Beliansyah, kemarin (11/2).
Beli, sapaan Sepri Beliansyah, menerangkan saat awal terbentuk Oktober 2016, komunitas mereka telah menjalankan program kerja yakni 10 ribu buku untuk Sumsel. Melalui media sosial serta penyebaran brosur, mereka mengumpulkan buku dan membagikannya ke sejumlah sekolah, komunitas rumah belajar dan baca dan juga anak-anak jalanan di sekitaran Kota Palembang.
Sukses kegiatan tersebut, tahun ini mereka bakal menggagas kegiatan serupa yang lebih besar lagi. Yakni 100 ribu buku untuk Sumsel. “Penggalangan buku ini rupanya mendapat respon luar biasa dari berbagai kalangan. Bahkan, salah seorang donatur menyumbangkan buku satu pikap penuh,” kata Beli, didampingi Ketua Tim Partner dan Donasi, Tito Nurcahyo.
Kegiatan lainnya yang telah dijalankan yakni Go to School (GtS). Mereka bertandang ke sekolah di daerah terpencil untuk membagikan buku, mengajar murid serta menggelar kegiatan seminar dan workshop. Tahun ini, mereka akan berangkat ke Pulau Pisang di Provinsi Lampung.
Mereka akan mengunjungi SDN Pasar Pulau Pisang dimana bangunannya telah menjadi cagar budaya. “Total kami sudah mengunjungi 5 sekolah di Sumsel yang letaknya terpencil dan butuh perhatian,” ungkapnya.
Di setiap perjalanannya, Sriwijaya Membaca selalu merekrut volunteer. Mereka yang direkrut tidk sembarang. Harus memiliki fisik yang kuat. Memiliki kemampuan mengajar dan berinteraksi dengan anak. Serta memiliki buku untuk disumbangkan. Mengenai asal biaya perjalanan, semuanya sumbangan dari seluruh anggota dan volunteer.
“Perjalanan yang kami tempuh tidak semudah yang dibayangkan. Karena terpencil, kadang harus ditempuh dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter. Seperti kunjungan kami di SD Desa Kihungan, Kecamatan Lengkiti ,Kabupaten OKU. Kami harus melalui medan berlumpur, menyeberangi sungai serta masuk keluar hutan agar bisa sampai ke desa itu,” kenangnya.
Berinteraksi dengan anak yang kurang beruntung di daerah terpencil menjadi salah satu pengalaman berharga bagi Desi Apriani, salah seorang anggota Sriwijaya Membaca. Kunjungan itu menyadarkannya bahwa dirinya masih lebih beruntung jika dibandingkan anak di kawasan lain yang serba memiliki keterbatasan.
“Fasilitas yang kita terima di kota sangatlah lengkap. Kita harusnya bersyukur dengan apa yang dimiliki. Literatur dari segala bidang ilmu bisa kita dapatkan. Baik itu dari media cetak, buku, serta berbagai perpustakaan,” ucapnya.
Desi menerangkan momen paling berkesan yakni saat mengunjungi SD Desa Kihungan. SD tersebut terbuat dari papan. Letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Gurunya pun hanya ada tiga orang yang ketiganya berstatus pegawai honorer. Namun siswanya, sangat antusias untuk belajar.
“Buku pelajaran serta komik yang kami bawa langsung diserbu. Mereka pun banyak bertanya dengan apa yang ada di dalam buku kepada kami. Anak seperti mereka patut diberi kesempatan lebih untuk memperluas wawasannya,” ungkapnya.
Senada diungkapkan Tito. Meski lelah mendera mereka sepanjang perjalanan, namun kesempatan untuk berbagi tersebut enggan dilewatkannya. “Pasti capek dan melelahkan, Mas. Apalagi ke mana kami berkunjung pasti bawa buku untuk dibagikan. Jadi bebannya sangat berat. Tapi setelah sampai di lokasi, melihat keceriaan anak-anak itu membuat lelah kami itu hilang,” terangnya.
Tito menjelaskan kegiatan yang mereka lakukan disesuaikan dengan jadwal kuliah seluruh peserta perjalanan. “Kuliah tetap jalan. Waktunya kan bisa disesuaikan. Sehingga tidak akan mengganggu,” pungkasnya. (*/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!