Anak Aktif, Itu Wajar

Ilustrasi

JIKA anak balita rewel atau bandel jangan dihadapi dengan emosi atau malah mengasumsikan bahwa sang anak memiliki masalah psikologis. Pada anak, hal tersebut bisa jadi merupakan fase yang wajar.

“Banyak orangtua datang ke dokter anak atau psikolog dengan keluhan bahwa anaknya susah diatur, bandel, dan hiperaktif,’’ungkap dr Anton Suwindro MKes, yang bertugas di Klinik Adhitia,kemarin.

Menurutnya, perkembangan anak terutama otak secara garis besar terjadi dalam tiga tahap yaitu pada umur nol hingga satu tahun, satu hingga tiga tahun, dan tiga hingga enam tahun. Dalam tiga tahap perkembangan otak ini sikap anak berubah dan perlu penanganan yang berbeda pula.

“Dalam tiga tahap perkembangan anak itu orang tua perlu lakukan normalisasi perilaku anak dengan memberikan stimulus yang tepat,”katanya.

Umur nol sampai satu tahun, kata dia, adalah di mana otak belakang anak mengalami pertumbuhan pesat. Otak pada bagian ini mengatur sensorik seperti penglihatan, pendengaran, dan peraba. “Anak pada tahap ini mengikuti apa yang orangtuanya lakukan, misal kalau orangtuanya melambai nanti sang anak ikut melambai. Pada tahap ini anak adalah apa yang orangtuanya berikan,”ujarnya.

Pada tahap perkembangan yang kedua di umur satu hingga tiga tahun adalah masa dimana otak tengah berkembang. Otak tengah berfungsi mengendalikan motorik anak sehingga pada usia ini anak akan sangat aktif bergerak. Pada tahap inilah di mana biasanya sang anak akan melawan perintah orangtuanya.

“Umur satu sampai tiga tahun itu wajar kalau anak melawan keinginan orangtua. Anak memiliki keinginannya sendiri dan orangtua harus sabar menghadapi hal ini. Biasanya sih mulai umur segini ini yang membuat orangtua pusing,”ulasnya.
Pada tahap perkembangan otak yang ketiga di umur tiga sampai enam tahun, otak bagian depan mengalami perkembangan pesat. Otak pada bagian ini berperan pada daya imajinasi anak. Di umur dengan daya imajinasi tinggi, sang anak akan mengikuti apa yang dibayangkannya.

Orangtua yang memilki anak pada tahap ini disarankan untuk memberikan perhatian dan kontrol penuh pada apa saja yang mempengaruhi imajinasi anak seperti tontonan, bacaan, dan pengaruh dari luar lain yang memiliki efek negatif. (qiw/via)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!