Ancam Korban Lebih Banyak

RINGSEK: Truk kontainer BH 8007 ME yang disopiri Solehan, menabrak mobil Livina BG 1751 DC disopiri Nurman, hingga peti kemasnya jatuh menimpa bagian depan mobil, di Jl Basuki Rahmat-R Sukamto, kemarin. Tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Dalam sepekan, sudah tiga kasus laka lantas melibatkan truk kontainer. FOTO: EVAN ZUMARLI/SUMEKS

PALEMBANG – Lalu lintas di Kota Palembang masih akan babas bingkas selama pembangunan LRT berlangsung. Kemacetan diperparah, dengan truk-truk masih bebas melintas masuk dalam kota pada jam-jam yang dilarang. Rambu-rambu yang terpasang, terkesan hanya hiasan.
Sepekan ini, setidaknya tiga kasus laka lantas yang melibatkan truk kontainer pengangkut peti kemas. Seperti di Jl Demang Lebar Daun, di Jl Basuki Rahmat-R Sukamto (lihat grafis). Yang terbaru, kemarin (17/10), truk kontainer BH 8007 ME yang disopiri Solehan (55), hilang kendali dari arah Jl Basuki Rahmat menuju R Sukamto.
Truk bermuatan rubber (karet) itu, menabrak dari belakang mobil Livina BG 1751 DC yang dikemudikan Nurman (58). Terseret sejauh 70 meter, kedua truk kontainer baru berhenti setelah menabrak median jalan dan tiang lampu jalan. Mobil Livina sampai terputar balik arah, bagian depannya hancur tertimpa peti kemas yang terlepas setelah rantai pengikatnya putus.
Solehan mengaku rem truk yang dikemudikannya tiba-tiba blong. Padahal sejak berangkat dari kawasan Musi 2, remnya masih normal. Dia mengaku mengangkut karet milik pengusaha bernama Jamil, untuk dibawa ke Pelabuhan Boom Baru Palembang. “Saya sudah tiga tahun jadi sopir tronton. Tapi kali ini benar-benar naas. Ya namanya juga musibah,” dalihnya.
Dia terpaksa banting setir ke kanan menabrakkan ke median jalan, untuk menghindari kendaraan yang ditabrak lebih banyak. Sementara pengendara Livina, sempat shock begitu kendaraannya ditabrak dan terseret truk berukuran besar tersebut. Nurman bersama kedua adik perempuannya, dalam perjalanan ke arah Jl Seduduk Putih. ”Kaget, ketakutan. Mobil kami sampai berbalik arah dan rusak parah. Syukurlah, tidak ada yang cedera,” ucap warga Jl Macan Lindungan itu.
Wakasat Lantas Polresta Palembang Iptu Herman yang ditemui di TKP, mengatakan, kedua kendaraan sudah diamankan di pos laka. Termasuk sopirnya untuk dimintai keterangan. Kanit Laka Lantas, Iptu Merry, menambahkan dalam sebulan ini sudah ada 32 kali kejadian laka lantas dengan korban yang meninggal di atas 10 orang.
Dirinya pun mengaku dari total kejadian laka lantas, paling banyak disebabkan karena kelalaian yang angkanya mencapai 60 persen. “Untuk laka ini paling banyak truk karena rem blong dan anginan,” jelasnya.
Mengenai masih bebas melintasnya truk bermuatan besar masuk dalam kota, sebelumnya Kasat Lantas Kompol Yudha Widyatama Nugraha, mengaku itu merupakan kewenangan Dinas Perhubungan (Dishub). “Kaitannya dengan rambu dan trayek berarti itu merupakan kebijakan Dishub,” tegasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Kurniawan MSi, didampingi Kabid Pengawasan dan Pengendalian Operasi Marta Edison, menyatakan, laka lantas yang terjadi kemarin penanganannya dikoordinasikan dengan Satlantas Polresta Palembang. “Informasi yang kami dapat, sopirnya mengantuk,” ujarnya.
Kasus laka lantasnya ditangani Satlantas Polresta Palembang. Namun atas kerugian yang dialami oleh korban, maupun apil yang merupakan milik negara, kami tetap meminta ganti rugi sopir truk yang bersangkutan.
Kurniawan menambahkan, Dishub Kota Palembang mengacu pada Perwali No 59/2011 terkait izin melintas angkutan barang. Dimana truk atau kontainer tersebut tidak diperbolehkan melintas pada pukul 06.00-09.00 WIB dan 15.00-18.00 WIB.
Hanya saja memang untuk kendaraan angkutan yang diperbolehkan melintas, tergantung situasi dan kondisi di lapangan. Semisal, kendaraan yang mengangkut sembako dan kebutuhan hajat hidup orang banyak. “Hal ini telah diketahui oleh pengusaha angkutan,” tegasnya.
Sebab setiap kali mereka mendaftarkan kendaraan untuk uji kelayakan (KIR), juga diiringi sosialisasi dan imbauan yang terus dilakukan. “Sehingga, kekhawatiran akan pelanggaran yang dilakukan oleh pengusaha sebetulnya telah diminimalisir. Juga untuk hal tersebut, tidak seperti yang diperkirakan masyarakat, semisal sengaja dibolehkan melintas atau seperti apa. Karena memang sudah ada aturannya,” kata dia.
Marta Edison menimpali, di tengah kepadatan lalu lintas yang terjadi di Kota Palembang yang terus meningkat, pihaknya juga meminta kebijaksanaan pengusaha angkutan untuk mempertimbangkan waktu melintas. Apalagi, saat ini kemacetan tidak hanya ditemui pagi dan sore hari saat pergi dan pulang kerja. Tetapi mulai siang hari, sebagai dampak pembangunan di beberapa ruas jalan yang tentu akan menghambat aktivitas masyarakat.
“Oleh karenanya, kami akan terus mengimbau pengusaha angkutan, juga kepada masyarakat umum kami berharap untuk lebih bersabar menghadapi kemacetan ini. Karena petugas baik Dishub ataupun Satlantas tentu berada di lapangan untuk membantu masyarakat,” tukasnya. (vis/air/aja/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!