Aturan Baru Servis, ini Saran Pelatih Indonesia

Marcus Fernaldi (kiri) bersama Herry Iman Pierngadi (tengah), dan Kevin Sanjaya (kanan). foto: badmintonindonesia

BIRMINGHAM – Badminton World Federation (BWF) mengeluarkan aturan baru servis, yakni 115 cm di atas permukaan lapangan. Aturan baru tersebut sudah diuji coba pada turnamen German Open pekan lalu. Hasilnya, banyak pemain yang protes.

Turnamen di depan mata yang akan menerapkan aturan servis baru tersebut adalah All England 2018 yang dikenal paling bergengsi di dunia di Birmingham Arena, Birmingham, Rabu (14/3).

Nah, kasta German Open dan All England sangat jauh berbeda. Di Jerman masih ada babak kualifikasi dan pesertanya tidak seluruhnya merupakan pemain ranking atas. Namun di Birmingham, semua peringkat teratas dunia wajib ikut, kecuali ada surat keterangan dokter (cedera).

Bisa dibayangkan, jika banyaknya protes di lapangan dari pemain seperti di German Open, terjadi juga di All England. “Ini (servis baru) merugikan pemain. Kami harus mencari solusi, jangan sampai terlalu lama menyalahkan aturan baru. Bagaimanapun juga, aturan harus dijalani dan harus beradaptasi,” kata Kepala Pelatih ganda putra PBSI, Herry Iman Pierngadi kepada Badminton Indonesia.

Menurut Herry, hakim servis bakal sangat menentukan. Bisa dibilang, pengadil yang duduk di seberang wasit utama itu akan banyak memengaruhi pertandingan. “Bisa saja kemenangan ditentukan oleh service judge,” tutur Herry.

Baca Juga :  Sssttt... Pembayaran Pensiun PNS Diubah

Dia menjelaskan, di final ganda putra German Open pekan kemarin, pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto merasakan kekesalan gara-gara aturan baru.

“Fajar main dari babak pertama sampai semifinal, servisnya aman. Tetapi kenapa di final bisa disalahkan sampai lima kali. Posisi servisnya sama, tingginya sama, semua sama. Bedanya ya service judge-nya, beda orang,” kata Herry.

Pelatih yang punya andil besar ‘melahirkan’ duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Marcus Fernaldi/Kevin Sanjaya ini menilai, BWF perlu mempertimbangkan human error di aturan servis yang baru ini.

“Jadi yang menentukan itu service judge, peluang human error juga besar. Kalau perlu ada hawk eye juga, jadi kalau dinyatakan salah, pemain yang tidak terima bisa challenge (pembuktian dengan tayangan ulang), bukti yang jelas, ada rekaman, otentik dan bisa dipertanggungjawabkan. Lebih fair. Kalau sekarang kan penilaian sesaat saja, yang tahu hanya service judge dan Tuhan, dan keputusan itu mutlak, tidak bisa diprotes,” pungkas Herry. (adk/jpnn)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!