Bandara Dijaga Ketat, Lewat Darat-Perairan

GIRING: Tiga tersangka peredaran sabu jaringan Medan-Palembang-PALI digiring anggota BNNP SUmsel, kemarin. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

Terbongkarnya peredaran 17 kg sabu asal Medan ini mengingatkan beberapa keberhasilan aparat kepolisian di wilayah Banyuasin, perbatasan dengan Palembang. Melalui razia rutin, acapkali mendapati sabu-sabu, ganja, dan ekstasi dalam jumlah besar yang dibawa dengan bus atau mobil pribadi.
Seperti pada 1 Januari 2018. Polres Banyuasin menangkap Wahid Nursoleh (21), warga Kabupaten Mesuji, Lampung di Km 42, Kelurahan Kayuara Kuning, Kecamatan Banyuasin III, tepatnya depan Gerbang Pemkab Banyuasin. Darinya disita 1,6 kg sabu-sabu asal Aceh.
Pada 6 Januari pukul 02.00 WIB, Satnarkoba Polres Banyuasin menyita 2 kg sabu dan 9.000 butir ekstasi di Jalan Lintas Timur, Palembang-Betung, Km 29, tepatnya depan SPBU Mainan, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin. Pembawanya, Rimbo alias Rembo (39), warga Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin dan Ikhsan alias Mangkok (35), warga Riau.
Pada 16 Februari, pukul 20.00 WIB, Satnarkoba Polres Banyuasin mengagalkan peredaran 2.700 butir pil ekstasi logo apel senilai Rp810 juta ke wilayah Kota Palembang. Penangkapan di Jalan Palembang-Jambi, Km 42, Kelurahan Kayuara Kuning, Kecamatan Banyuasin III, depan pintu gerbang Pemkab Banyuasin.
Kemudian, menyita 1 kg sabu pada 2 Mei di jalan lingkar Pemkab Banyuasin Desa Mulia Agung. Kedua kurir sabu tersebut, Berlian Subrata (22), warga Kecamatan Keluang dan Gulamin (34), warga Kecamatan Plakat Tinggi, Muba diciduk.
Pada 1 Mei, polisi menangkap Nofrianto (24), warga Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, yang membawa 10 kg ganja asal Aceh. Penangkapan di Jalintim, Palembang-Betung.
Pada 8 Juni pukul 05,00 WIB, sebanyak 24 kilogram narkotika jenis ganja ditemukan Satnarkoba Polres Banyuasin di Jalintim Palembang-Betung, depan gerbang Pemkab Banyuasin Km 42.
Terakhir, meringkus tiga kurir sabu seberat 1 kilogram senilai Rp1,2 miliar, 21 Juli lalu. Juga depan gerbang Perkantoran Pemkab Banyuasin. Ketiga tersangkanya, Yulinar (55), warga Kabupaten Lhokseumawe Aceh, Hendri (30), warga Kecamatan BP Peliung, OKUT dan Syaiful Mahdi (33), warga Kabupaten Aceh Utara, Aceh.
“Kami terus galakkan razia,”kata Kapolres Banyuasin AKBP Yudhi SM Pinem SIK didampingi Kasat Narkoba AKP Liswan Nurhafis, kemarin. Diakuinya, Jalintim Palembang-Betung merupakan daerah rawan peredaran narkoba. “Tidak hanya itu, daerah perairan akan diperketat,” tambahnya.
BNNP Sumsel mendeteksi, titik rawan yang kerap menjadi jalur primadona bagi pengedar narkoba antarprovinsi adalah jalur udara. Tapi gencarnya penangkapan aparat termasuk BNN membuat jaringan narkoba putar otak.
Jalan darat dan perairan tetap jadi alternatif yang lebih aman dibandingkan jalur udara. Termasuk dalam hal pengemasan narkobanya juga terbilang baru. “Dibungkus dalam alumunium foil seolah-olah produk dari negara Tiongkok dan seragam. Ini salah satunya bertujuan untuk mengelabui petugas,” sebut Kepala BNNP Sumsel Brigjen Pol Jhon Turman Panjaitan.
Di sisi lain, upaya pencegahan peredaran narkoba dirasa belum maksimal lantaran alat-alat dan perlengkapan yang menyatakan darurat narkoba belum memadai. “Salah satunya bisa dilihat di terminal dan pelabuhan yang kerap dimanfaatkan mafia narkoba memasukkan barang haram tanpa haris khawatir terdeteksi mesin X-ray seperti halnya di bandara,” tukasnya.
Narkoba yang masuk Sumsel kebanyakan dari Aceh, Medan dan Riau. Dibawa lewat jalur darat. Para sindikat yang tertangkap punya beragam modus agar “paketnya” lolos dari pemeriksaan.

Lapas Perketat Keamanan
Dua kasus keterlibatan oknum sipir dalam peredaran narkoba disikapi serius pimpinan lapas dan rutan di Sumsel. Seperti di Lapas Narkotika Kelas III Palembang. “Sudah dua kali kami berhasil gagalkan penyelundupan narkoba ke dalam lapas,” ujar Kepala Lapas Narkotika Kelas III Palembang Hudi Ismono AMd IP SH MH didampingi Ade Irianto A Md IP SH MH, Kasubsi Pembinaan.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Palembang, Mardan mengungkapkan, pascaditangkapnya oknum petugas lapas oleh BNNP Sumsel, pihaknya terus memperketat pengawasan dan pengamanan. Bahkan setiap pengunjung yang datang, diperiksa secara lengkap, identitas hingga barang bawaan dan maksud kunjungannya.
“Semoga saja ini tidak terjadi di Rutan Kelas I Palembang,” tandasnya. Secara berkala mereka lakukan sidak dan razia ke dalam kamar tahanan dan napi.
Untuk memastikan tidak ada petugasnya yang terlibat narkoba, akan dilakukan tes urine semua anggota. Menurutnya, 50-60 persen dari total 1.600 warga binaan di Rutan. Plt Kalapas Tanjung Raja Ogan Ilir, Badarudin. mengatakan, pihaknya terus melakukan pengawasan maksimal. “Kami kerja sama dengan kepolisian dan BNN,” ujar dia.(qda/sid/afi/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!