Bangun Pembangkit Listrik 300 MW

Penandatanganan perjanjian pembangunan pembangkit listrik Sumut di China. foto: istimewa

BEIJING – Indonesia tidak akan kekurangan pasokan listrik, terutama wilayah Sumatera. Ini setelah ditandatanganinya perjanjian kerja sama strategis antara China Energy Engineering Group Guangdong Electric Power Design Institute Co Ltd (GEDI) dan Best and Grow Indonesia untuk membangun pembangkit listrik 300 MW di Sumatera Utara, Kamis (16/6). Kerja sama ini diresmikan di Beijing.

Penandatanganan kerja sama stategis ini menjadi bagian dari program penunjang kemaritiman global di Indonesia. Kerja sama ini juga merupakan bagian dari pemaparan Indonesia Global Maritime Fulcrum: A Proposal for Belt & Road Initiative yang digagas oleh Indonesia dan China. Dalam penandatangan kerja sama ini Indonesia diwakili Komisaris Best & Grow Investment Group, Ishak Charlie, dengan Vice President GEDI, Chen Lan dan disaksikan oleh Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Acara itu digelar Kamis (16/6) pagi di Hotel Conrad, Beijing, China.

Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat terkait, termasuk Ketua BKPM, Thomas Lembong. Selain itu hadir pula Corporate Secretary Best & Grow Investment Group Paramitha Ersan. Dalam sambutannya, Luhut mengatakan jika selama ini China sudah membantu Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan.

“Semoga pertemuan hari ini bisa memberikan dampak bagi kita di masa depan. Kita ingin melihat kerja sama Tiongkok (China) dan Indonesia itu menjadi kekuatan baru di perokonomian dunia,” ungkap Luhut yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Baca Juga :  Baru Diluncurkan, Peminat Mobil ini Tinggi

Kerja sama ini tentunya menindaklanjuti MoU (Memorandum of Understanding) yang sudah dibuat bulan lalu, antara Indonesia dengan pihak investor dari China. Adanya kontrak kerja sama ini diharapkan pembangunan pembangkit listrik 300MW di Percut Sei, Sumatera Utara, segera berjalan.

Perjanjian kerja sama ini mencakup dua tahap. Pertama, Energy China GPEC yang melakukan Studi Kelayakan untuk memastikan bahan bakar yang paling efisien untuk
pabrik. Mereka juga harus menentukan desain yang paling efisien. Kedua, mencakup penutupan keuangan proyek dimana kedua belah pihak akan menjamin pembiayaan proyek. Total investasi untuk tahap kedua diperkirakan lebih dari 350 juta dolar AS (sekitar 4,65 triliun rupiah). (kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!