Banyak Ngaku Miskin

WAWANCARA: Suasana antrean wawancara dan verifikasi UKT cama Unsri jalur SBMPTN 2018 di Kampus Unsri Bukit Besar. Foto: M Hatta/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Wawancara dan verifikasi Uang Kuliah Tunggal (UKT) calon mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018, berlangsung unik. Karena sebagian dari mereka mengaku miskin.
“Ya, memang banyak juga yang mengaku miskin agar UKT berkurang,” kata Ketua Bidang Humas dan Promosi SBMPTN Prof Dr H Zulkifli Dahlan DEA, di sela verifikasi di kampus Bukit Besar, kemarin kemarin (5/7). Verifikasi berlangsung dua hari, Kamis (5/7) dan kemarin (6/7).
Berdasarkan laporan petugas yang melakukan verifikasi, lanjut dia, calon mahasiswa yang didampingi orangtuanya mengajukan negosiasi pengurangan UKT. Umumnya karena permasalahan ekonomi keluarga. “Sebelum proses verifikasi dan wawancara UKT, bagi peserta dinyatakan lolos harus registrasi online. Dari data diakses inilah yang akan menentukan besaran biaya kuliahnya atau UKT,” jelasnya.
Nah, lanjut dia, dari registrasi online itulah calon mahasiswa dan orangtuanya melakukan wawancara. Dari situ, sebut Prof Dr H Zulkifli, dilakukan negosiasi, apakah setuju atau tidak dengan ketentuan tersebut. “Diantara pertanyaan yang diajukan, misalnya berapa penghasilan orang tua, rumah milik sendiri, sewa, atau warisan. Bangunan rumah dari batu atau kayu. Selain itu juga akan diminta salinan rekening listrik tiga bulan terakhir,” terangnya.
Di Unsri, sebut dia, UKT terdiri 8 level, dengan level terendah Rp500 ribu. “Khusus UKT tertinggi atau level 8, kita menyiapkan jalur tersendiri. Jadi calon mahasiswa dan orangtuanya tak perlu mengantre,” imbuhnya.
Diketahui, UKT termahal atau level 8 ada lima fakultas. Yakni Fakultas Hukum dengan UKT Rp6,5 juta, Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Rp7,6 juta, Fakultas Teknik Rp7,6 juta, Fakultas Ekonomi Rp6 juta, dan Fakultas MIPA Rp2,2 juta.
Sementara itu, bila dalam dua hari masih ada yang belum melakukan registrasi ulang, sebut dia, pihaknya akan tetap melayani dengan cara membantunya. “Silakan datang ke sekretariat, kita akan bantu. Sebab jika tidak registrasi online, maka tidak bisa menentukan UKT dan tidak bisa ikut verifikasi di kampus Unsri Inderalaya pada 11-12 Juli nanti, sekaligus tes kesehatan,” sambungnya.
Khusus tes kesehatan, bagi calon mahasiswa yang terindikasi narkoba, langsung gagal menjadi calon mahasiswa. “Ini sudah menjadi aturan dan ketentuan setiap tahunnya,” tegasnya seraya menambahkan, ada 10 persen calon mahasiswa yang belum melakukan registrasi online.
Raka, salah satu calon mahasiswa yang menunggu wawancara ditemani orangtuanya mengaku, saat registrasi dia mendapat UKT level empat atau sekitar Rp4 jutaan. “Saya berharap saat wawancara nanti bisa turun menjadi Rp2 – 2,5 juta. Orang tua saya hanya pensiunan yang uang pensiunnya kecil. Saya anak pertama, masih ada dua adek lagi yang sekolah,” tuturnya. (nni)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!