Bawa Penonton ke Masa Lampau

ADEGAN OPERA: Pemain wayang orang berjudul "Tion Hao Po Kok" memulai opera, kemarin. Foto: Irwansyah/Sumatera Ekspres

Komunitas maupun paguyuban Tiongkok berusaha melestarikan Wayang Orang di Palembang. Meski regenerasi pemain makin sulit, pementasannya dalam berbagai momen tetap terus digiatkan.
————————————–

SETIAP perayaan ulang tahun dewa, kelenteng-kelenteng di Metropolis tak pernah luput menyajikan penampilan opera klasik Tiongkok atau Wayang Orang Hokkian. “Kami selalu menampikan kesenian tradisional itu dan jumlah penontonnya sangat ramai,” ujar Wakil Ketua Majelis Tridharma Indonesia (Matrisia) Komda I Sumsel Tjik Harun, kemarin (4/2).
Terutama yang paling sering, kelenteng di kawasan Taksam. “Setiap HUT dewa, Wayang Orang ini selalu menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu warga,” ujarnya. Menariknya, meskipun opera klasik, penampilan seringkali dikombinasi dengan alat musik yang lebih modern seperti bank, tanjidor, ataupun karaoke.
“Jadi lebih apik, dan tak bosan orang menontonnya,” kata dia. Hanya memang, dia tak menampik perkembangan kesenian ini seperti jalan di tempat karena pelakonnya yang sedikit dan tak banyak berminat.
Itu karena proses regenerasi pemain yang sangat lambat. “Kebanyakan generasi muda lebih memilih kesenian modern dibandingkan memajukan Wayang Orang ini,” ujarnya. Itulah kenapa perlu dorongan, dengan harapan generasi muda lebih proaktif mempelajarinya.
“Persatuan Tempat Ibadah Tridharma (PTITD) juga akan komitmen ikut melakukan pembinaan,” tuturnya. Ini penting karena Wayang Orang itu mengandung falsafah hidup yang baik dan sangat tinggi.
Cerita-cerita yang ditampilkan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan sejarah masa lampau, baik kisah percintaan, problematika keluarga, konflik negara, dan lainnya.
“Jadi, hikmah cerita berupa pesan-pesan yang baik bisa dipetik dari ini,” tuturnya. Pihaknya pun berharap ditanamkan nilai-nilai itu pada generasi muda, seperti pada Pemilihan Koko-Cici Palembang.
“Wayang Orang ini juga bisa jadi salah satu materi dalam pemilihan tersebut. Dengan sendirinya orang muda harus belajar dan aktif,” tegasnya.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Palembang Hendri mengatakan, pihaknya sangat menantikan penampilan Wayang Orang ini. Apalagi setiap pentas, selalu ada pelajaran yang bisa didapat. Mulai dari sikap welas asih, kasih sayang, berbakti dan penyebaran dharma.
“Dari sisi bahasa dan cerita, ini sama persis dengan yang ada di Tiongkok. Khususnya wayang orang Sam Khau Bun Gei Siah ini dari sisi cerita berikut atribut dan perlengkapan pentas sangat lengkap. “Saat menontonnya, kita seperti dibawa ke masa lampau. Saya jadi seperti teringat masa kecil,” bebernya lugas.
Karena itu, pelestariannya sudah menjadi keharusan bagi generasi muda. Bahkan bila perlu, pembina dan pelatih wayang orang dilibatkan dalam proses penjurian khususnya terkait dengan kesenian asli Tiongkok. “Sudah ada rencana ke situ, nanti akan coba kita terapkan dalam Pemilihan Kok-Cici Palembang,” tegasnya.
Sementara, Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Sumsel Hindra Lili menambahkan, walaupun beberapa tahun lalu jarang tampil, sekarang kondisinya sudah mulai eksis lagi. Apalagi secara umum, pamor Wayang Orang sudah kembali dikenal masyarakat, terutama dari etnis Tionghoa. “Saya berharap ini bisa terus lestari sehingga anak-cucu tetap bisa menyaksikan,” tandasnya. (afi/fad/ce4)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!