Beban 3,6 Ribu Ton per Kabel

PALEMBANG – Progres pembangunan Jembatan Musi VI, masih berkutat di angka 60 persen. Meski demikian, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Jembatan Musi VI, Joko Saputra, mengklaim optimis jembatan yang menghubungkan Jl KH Wahid Hasyim-Jl SM Mansyur akan kelar sebelum Asian Games 2018.
“Tahun ini, kami sedang menyambung konstruksi lantai jembatan. Jembatan juga akan dilengkapi ornamen serta art lighting,” ujar Joko kepada Sumatera Ekspres, kemarin (12/1). Jalan akses menuju Jembatan Musi VI, juga akan dibangun tahun ini.
Diketahui panjang jalan akses jembatan di Seberang Ilir dibangun sepanjang 550 meter, mengubungkan Jl SM Mansyur ke pangkal jembatan di Jl PSI Lautan. Sementara untuk Seberang Ulu sepanjang 225 meter, menghubungkan Jl KH Wahid Hasyim dengan pangkal jembatan di Jl Faqih Usman.
Jembatan akan memiliki panjang 1.125 meter dan lebar 11 meter ini, menelan anggaran Rp560 miliar. “Jembatan ini ditargetkan selesai sebelum perhelatan Asian Games mendatang. Mungkin sekitar Juni atau Juli, sudah bisa digunakan,” klaimnya.
Konstruksi Jembatan Musi VI dijaminnya kokoh dan mampu bertahan dalam waktu yang lama. Jembatan yang ditahan oleh 36 kabel seling tersebut mampu bertahan hingga 100 tahun. Satu kabel seling yang menjadi penahan konstruksi jembatan juga memiliki kekuatan beban seberat 3.600 ton.
Mengenai cuaca saat ini, menurut Joko jelas menjadi kendala penyambungan pengerjaan pelat lantai jembatan. “Kalau hujan, terpaksa kami berhenti kerja. Itu kendala yang kami hadapi di lapangan. Pekerjaan ini, kami targetkan sebulan selesai,” tegasnya.
Masih kata Joko, jika Jembatan Musi VI sudah beroperasi, harapannya kemacetan di kawasan Jembatan Ampera bisa berkurang. “Setidaknya jembatan tersebut bisa memecah volume kendaraan hingga 40 persen dari yang ada saat ini. Kemacetan di Ampera bisa berkurang separuhnya,” pungkasnya.
Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMGK) memperkirakan hujan akan tetap terjadi hingga Mei mendatang. Namun pada Desember dan Januari ini menjadi puncak musim hujan. Karenannya, masyarakat yang akan melakukan aktivitas di luar ruangan mempersiapkan diri
Staf Data dan Informasi BKMG Statmen Bandara SMB II Palembang, Dara Kasihairani, mengatakan, periode musim hujan dan Sumsel itu terjadi pada Desember dan Januari. Intensitas hujan masuk kategori sedang dan lebat yang mencapai 200 hingga 200 milimeter dan kecepatan angin mencapai 2- 10 knot bahkan mencapai 20 knot.
“Memang sangat bervariasi tergantung pada kondisi harian,” katanya kemarin.
Selain itu, pada Maret intensitas hujan pun tetap tinggi dan puncaknya. Pasalnya pada bulan ini terjadi pertumbuhan awan baru yang menyebabkan hujan. “Itu memang menjadi siklus cuaca di wilayah Sumsel,” paparnya.
Sedangkan untuk musim kemarau, Dara mengaku, dimulai pada akhir Mei atau awal Juni. Namun tahun ini musim kemarau tergolong normal dan tidak ada yang ekstrem. Mengingat, faktor yang memperparah kondisi kemarau yakni El-Nino tahun ini tidak aktif.
Kendati begitu, Sumsel bukan berarti bebas dari karhutla. Pasalnya, faktor lain yang menyebabkan karhutla tetap saja ada. “Kalau dari segi cuaca mungkin kecil, tapi faktor lain tetap terbuka,” paparnya. (kos/yun/cj11/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!