Bekali Tim Udara Tiga Helikopter

SIAGA: Heli water bombing yang melintas di udara, kemarin. Foto: Kris/Sumatera Ekspres

SUMSEL – Prediksi BMKG yang menyebut kalau kemarau hingga November jadi ancaman besar bagi Sumsel. Khususnya Kota Palembang yang akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018.
Tanpa itu saja, ancaman munculnya titik api (hotspot) serta asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi sudah jadi pekerjaan rumah (PR) tahunan. Kini ditambah lagi keharusan agar sepanjang pelaksanaan event internasional itu bebas asap.
“Potensi asap ini jadi urgent karena bukan cuma menyangkut nama Sumsel, tapi Indonesia,” kata Asisten I Pemprov Sumsel, Drs H Akhmad Najib, di Hotel Aryaduta, kemarin (4/7). Karena itu, pencegahan dan antisipasi dini jadi bagian penting sejak saat ini.
Koordinasi yang baik dan maksimal antar stakeholder semua daerah harus sudah dilakukan. Kesiapsiagaan penanggulangan juga begitu. “Kita juga harus mengajak semua lapisan masyarakat untuk mengantisipasi hotspot yang muncul dengan langsung melakukan pemadaman,” jelasnya usai rapat penyusunan rencana kontijensi menghadapi ancaman bencana Karhutla di Sumsel.
Yang tak kalah penting dari pencegahan adalah memberikan sanksi tegas kepada para pelaku pembakaran hutan dan lahan. Dibalik tindakan tegas itu, supaya ada efek jera sehingga tak ada lagi yang melanggar.
“Terutama daerah yang berpotensi karhutla, seperti OKI, Banyuasin, Muba, Ogan Ilir, dan lainnya,” tutur Najib. Ditambahkan Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yana Pardiana, dari rapat koordinasi seluruh stakeholder terkait diharapkan bisa menemukan rencana terbaik untuk mencegah bencana asap.
“Kami pun sudah membuat satuan-satuan tugas yang bertugas untuk memonitor potensi bencana asap ini,” terangnya. Diungkap Yana, hingga Juni lalu, terdeteksi 214 hotspot. Tersebar di wilayah OKI, Ogan Ilir dan PALI. Juga di Belida, Muara Enim.
Untungnya, semuanya masih termonitor, dalam taraf rendah dibanding tahun sebelumnya.Tapi tetap jadi perhatian serius. Apalagi, saat ini angin berhembus dari Tenggara, Timur dan Selatan, semua mengarah ke Palembang.
Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan, menambahkan, salah satu cara penanggulangan bencana asap tidak lain dengan pencegahan. Kordinasi antara tim darat dan udara harus terjalin baik. “Ketika ada sedikit saja hotspot, segera tanggulangi,” tandasnya.
Untuk fasilitas tim udara, pihaknya telah menyiapkan tiga helikopter. Dua diantaranya dapat digunakan untuk melakukan water boombing. “Sudah disiagakan dan stan by di Bandara SMB II,” imbuhnya.
Sementara itu, koordinator BMKG Sumsel Nuga Putrantijo membenarkan jika titik puncak kemarau tahun ini diprediksi pada Agustus-September nanti. “Akan semakin berat mengingat kemarau diprediksi lebih kering dibanding 2016 dan 2017,” tuturnya.
Wilayah OKI, salah satu yang paling berpotensi hotspot dan karhutla juga telah siaga. Sejak Mei, terus dilakukan patroli lapangan. Semua perusahaan membangun pos pemantau di setiap areal perkebunan.
“Semua pihak sudah dikerahkan,” kata Kepala BPBD OKI Listiadi Martin melalui Kabid Bencana dan Logistik, Umar Hasan. Patroli rutin serta pendirian posko dilakukan pada lima kecamatan yang dianggap rawan seperti Cengal, Pangkalanlampam, Tulung Selapan, Air Sugihan, dan Jejawi. “Kami juga bangun posko di Pedamaran Timur, Pedamaran dan kecamatan lainnya,” bebernya.
Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api juga sudah bergerak. “Hingga saat ini belum ada laporan hotspot,” cetusnya. Kemarin pagi, ada kabut menyelimuti Kayuagung, tapi bukan asap. Setelah pukul 07.00 WIB, kabut hilang
Di Muba, Kades bersama pihak Kecamatan, Koramil, Polsek, Manggala Agni serta PBK langsung melakukan ground check jika ditemukan hotspot. “Kami semua sudah siaga karhutla,” jelas Kepala BPBD Muba, Haryadi SE MSi.
Posko karhutla telah disiagakan di Kecamatan Bayung Lencir tepatnya Desa Muara Medak, Muara Merang, Mendis, Mangsang, Pulau Gading, dan Kepayang. “Fokus kami, pengawasan lahan gambut yang mudah terbakar,” ungkapnya.
Termasuk yang ada di Kecamatan Sungai Lilin, Kecamatan Tungkal Jaya, Kecamatan Sekayu, Kecamatan Sungai Keruh, Kecamatan Batang Hari Leko serta Hutan Produksi Lalan. “Polisi tak segan menangkap dan memproses para pembakaran hutan maupun lahan,” ujar Kapolres Muba AKBP Andes Purwanti, melalui Wakapolres Muba, Kompol Dodi Eka Putra.
Sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara dibakar hingga pembuatan kanal air sudah dilakukan. Dandim 0401/Muba, Letkol Czi Mulyadi, mengatakan, prajurit TNI siap membantu mengantisipasi karhutla. Khusus lahan gambut di Muba, luasnya sekitar 150 ribu hektare. Bila terbakar, sangat sulit dipadamkan.
BPBD PALI gencar sosialisasi dan berikan imbauan agar masyarakat tidak bakar lahan untuk membuka lahan pertanian. Kerja keras itu mulai berhasil. Setidaknya dengan menurunkan jumlah hotspot. Pada April lalu, hanya delapan titik, Mei empat titik, Juni lima titik dan Juli ini satu titik.
“Masyarakat mulai mengerti. Kalau pun bakar lahan, sudah lebih dulu buat sekat sehingga api tidak meluas dan terpantau menjadi hotspot,” beber Kepala BPBD PALI, Junaidi Anuar SE MSi.
Terpisah, jajaran Polres, Kodim, BPDB dan masyarakat Ogan Ilir juga sudah siap mengantisipasi karhutla. Kemarin digelar apel bersama yang dikomandoi Kapolres Ogan Ilir AKBP Gazali Ahmad. Dalam apel tersebut ditampilkan semua fasilitas logistik untuk penanganan karhutla.
“Kami juga jadi bisa mengukur persiapan satgas,” ujarnya. Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Ogan Ilir, Jamhuri SSos, mengatakan, Indralaya Utara menjadi yang paling rawan karhutla. Ada 16 desa di sana, semuanya rawan. Karenanya, pada tiap desa ditempatkan tujuh orang anggota satgas. Tiap bulan, anggota satgas ini dapat insentif Rp1 juta. Tugasnya selama enam bulan. “Sudah pula kami siapkan 52 pos pantau baik dari masyarakat maupun dari pihak perusahaan,” katanya.
Pihaknya juga akan bekerjasama dengan Manggala Agni untuk melatih anggota satgas karhutla ini. Kepala BPBD Muratara, Zulkifli menuturkan, pihaknya bersama intansi terkait dan kelompok masyarakat sudah bersiap. “Kami telah bentuk tim hingga tingkat desa,” jelasnya.
Kendati masih terpantau adanya titik api di wilayah Muratara, Zulkifli mengklaim pihaknya merespon cepat dengan datang ke lokasi. Kemudian, melakukan pemadaman. ”Hari ini masih ada tadi, tapi sudah kami turunkan tim untuk
memadamkan api,” ucapnya. Untuk kesiapan peralatan seperti mesin pompa, kepyok api, water treatmen portable, motor trail, pompa pemadam karhutla, sekop dan perahu. Untuk lintas sektor BPBD juga melibatkan, berapa unit Damkar dari Tagana, pihak Basarnas, TNI dan Polri.
Kepala Pelaksana BPBD Musi Rawas, Paisol, mengatakan, pihaknya juga sudah membentuk tim dari tingkat kecamatan sampai ke desa, untuk merespon cepat mengenai titik api (hotspot). Sampai saat ini, pihaknya mengaku belum menemukan titik api yang muncul di Musi Rawas.
“Kita sudah melakukan persiapan baik dari tim, koordinasi lintas sektor maupun peralatan,” tandasnya. Dalam waktu sekat, digelar rakor untuk Kabupaten Mura, Prabumulih, dan Muba. “Tapi kita tetap waspada jangan sampai di wilayah ini muncul titik api,” tandasnya.(cj11/yud/sid/uni/ebi/cj13/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!