Belajar Autodidak, Kejar Momen Wisuda

KOLEKSI: Diah Adelia menunjukkan koleksi bucket bunga yang dia buat sendiri. Foto: Rendi/Sumatera Ekspres

Orangnya muda dan punya jiwa semangat tinggi. Dialah Diah Adelia Dwijayanti, wirausahawan buket bunga yang baru merintis, tapi omzetnya sudah melesat. Seperti apa perjuangannya?

———————
RENDI KURNIAWAN- Palembang
———————

“Jika ingin lebih berhasil dari orang lain, kita tak punya pilihan kecuali bekerja lebih keras dan rajin”. Quote pengusaha Tiongkok Ann Wang Seng ini menginspirasi Diah Adelia untuk berbisnis buket bunga, Mother Floris. Dara yang kini masuk usia 25 tahun memulainya dengan jualan bunga keliling ke kampus-kampus, khususnya di momen wisuda.
“Alhamdulillah rezekinya lancar,” ungkapnya sambil tersenyum saat ditemui koran ini di kediamannya, kemarin (11/5). Diah bercerita, berniaga atau jualan memang salah satu hobinya sejak kecil. Asalkan itu menghasilkan uang dan halal pasti dia tak sungkan, termasuk jualan buket bunga. “Sekarang ini memang masih terus merintis. Tetep semangat saja, karena semua usaha itu kan dimulai dari nol,” terangnya.
Diah sendiri alumnus UIN Raden Fatah Palembang. Usaha dia mulai ketika usai lulus jenuh di rumah, tanpa kerjaan. Dari sana, dia pun berpikir untuk berwirausaha. “Saya lihat teman, berjualan buket bunga ini. Sepertinya asyik, jadi ya saya pun ikut mencoba,” tuturnya. Dia pun lalu memulainya bertahap dan belajar sendiri secara autodidak, termasuk merangkai buket bunga.
Dia terus mencari inovasi buket-buket bunga yang menarik, agar bisa laris di pasaran, baik itu dari Youtube atau browsing internet lainnya. “Aku juga biasanya sharing-sharing dengan teman-teman wirausaha juga. Mana ada model baru, pasti kita coba,” terangnya.
Namanya usaha, Diah sendiri mengaku merintis usaha memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena pasti akan hadapi masalah. Seperti saat dia pertama kali jualan di momen Yudisium Univeritas PGRI Agustus 2017 lalu. “Waktu itu masih awal jualan, bawa 20 buket bunga, yang harganya Rp10 ribu-Rp35 ribu. Tapi tak berhasil sama sekali karena hujan mendadak,” cetusnya.
Dari sana, dara berhijab ini pun sempat pesimis dan minder. “Sebab saya juga lihat produk yang dijual orang lebih bagus-bagus dan banyak kreasi baru,” sebutnya. Tak mau putus asa, dia juga coba mencari inovasi buket bunga yang baru. Seperti Buket meja, dan menjualnya di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. “Alhamdulillah, saat ini usaha terus berkembang. Sampai terkhir julan di Universitas Tridinanti laris manis. Dari seluruh buket dibawa hanya tersisa dua,” ungkapnya.
Jadi kalau dulu pertama usaha dengan modal Rp400 ribu. Kini omzetnya sudah lumayan. “Kadang bisa dapat sampai Rp2 juta, itu tertinggi,” tambahnya. Sebenarnya keuntungan itu menurutnya relatif. Tergantung pintar-pintar orang berjualan melihat momen dan semangatnya seperti apa.
Diah pun mengungkapkan, dari dagangan bunga yang dipatok dari harga Rp5 ribu sampai Rp85 ribu, memang tak sepenuhnya selalu mendapat untung tinggi. “Sebenarnya kalau kita pandai melihat peluang, yakin, dan semangat, pasti berhasil. Kalau saya memang selalu bidik saat gelaran wisuda, itu momen tepat berjualan. Selain itu kita selalu rajin juga berjualan di dunia maya, seperti medsos,” jelasnya.
Melihat peluang yang terus naik, tak menutup kemungkinan anak kedua dari tiga bersaudara ini akan terus fokus berjualan ke depan. Sampai cita-citanya memiliki outlet buket bunga yang besar itu berhasil nanti. “Insya Allah mudah-mudahan. Amin,” pungkasnya. (*/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!