Belasan Pewarta di Yaman Ditawan Pemberontak Huthi

Pemberontak Houthi rayakan kematian mantan Presiden Yaman. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Pemberontak Huthi di Yaman dikabarkan menyandera lusinan pewarta setempat. Sebagian di antaranya adalah para jurnalis dan karyawan stasiun televisi Al Youm, yang dianggap sebagai kaki tangan Partai Kongres Rakyat Umum, merupakan partai politik mendiang mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Menurut laporan organisasi nirlaba Reporter Tanpa Batas (RSF), pemberontak Huthi menyerang kantor Al Youm di Ibu Kota Sanaan dengan senjata berat. Kemudian mereka menyerbu dan menawan belasan jurnalis serta 41 pegawai, seperti dilansir dari laman Al Jazeera, Rabu (6/12).

Serangan itu terjadi dua hari setelah pemberontak Huthi berhasil menewaskan Saleh yang tadinya merupakan sekutu. Menurut RSF, pemberontak memaksa para pewarta memberikan kode transmisi dan kemudian mereka mengambil alih siaran. Selain mereka, 13 jurnalis dikabarkan ditawan oleh kelompok Huthi dan militan binaan Al-Qaidah.

“Kami mengutuk kekerasan kepada jurnalis dilakukan oleh kelompok Huthi, dan itu artinya melanggar Konvensi Jenewa. Kami mendesak supaya kelompok Huthi segera membebaskan para pewarta yang disandera,” kata Kepala Bagian Timur Tengah RSF, Alexandra Al Khazan.

Yaman selama ini berada di peringkat 166 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers dilansir RSF tahun ini.

Saleh dicegat kelompok pemberontak di Provinsi Marib dekat perbatasan dengan Arab Saudi. Mobil ditumpanginya ditembaki.

Baca Juga :  Ruman Mantan Presiden ini Diserbu, Bagaimana Nasib Saleh?

Kubu Saleh dan pejabat pemerintah Yaman, seperti Nabil al-Sufi dan Ali al-Bukhiti, membenarkan kabar itu. Rekaman gambar jasad Saleh juga beredar di media sosial Twitter.

Saleh yang tadinya mendukung kelompok Huthi mendadak berpaling, dan menyatakan siap berunding dengan koalisi pimpinan Arab Saudi. Hal itu membikin kelompok Huthi berang dan menganggap Saleh berkhianat. Pertikaian antara kedua kelompok yang mulanya mesra pecah di Ibu Kota Sanaa sejak Minggu pekan lalu.

Dilansir dari laman Reuters, pertempuran antara pemberontak Huthi dan pasukan yang setia kepada Saleh terjadi di jalanan kota Sanaa. Namun, kelompok Huthi berhasil memukul mundur dan merebut sejumlah wilayah semula dikuasai serdadu binaan Saleh, salah satunya bandara.

Menurut Komite Palang Merah Dunia, dalam baku tembak sengit antara kedua belah pihak itu menelan 125 korban jiwa, dan melukai 238 lainnya. Keadaan itu semakin parah karena pasukan koalisi Arab Saudi menggempur basis pemberontak Huthi di Sanaa menggunakan jet tempur. Hal itu diperparah dengan merebaknya wabah kolera dan ancaman kelaparan sebagian besar penduduknya.

Bahkan kabarnya kelompok Huthi meledakkan rumah Saleh di Ibu Kota Sanaa. Kelompok Huthi juga mengirim bala bantuan dan senjata dari markas mereka di sebelah utara Yaman.

Baca Juga :  Ruman Mantan Presiden ini Diserbu, Bagaimana Nasib Saleh?

Mereka turut menduduki rumah tangan kanan Saleh yang didapuk menjadi Menteri Dalam Negeri Yaman, Muhammad Abdullah al-Waqsi. Tiga ajudannya dibunuh dan staf lainnya ditawan. Kediaman kemenakan Saleh yang seorang jenderal, Tariq, juga diduduki, dilansir dari laman AFP.

Pemberontak Huthi juga membunuh kepala suku di wilayah Omran, Muhammad al-Zarka, dan membantai keluarganya. Al-Zarka dikenal sebagai orang dekat Saleh. Kini dikabarkan pasukan Huthi bergerak ke desa tempat kelahiran Saleh di luar Ibu Kota Sanaa.

Kelompok Ansar Allah atau Huthi didirikan oleh Hussain Badruddin al-Huthi, di wilayah Sa’dah, Yaman Utara, pada 1990-an. Gerakan politik keagamaan itu mulanya memang kental dengan Zaidi dan Syiah, tetapi belakangan juga merangkul kaum Sunni.

Saleh berkuasa sejak 1978 hingga 2012. Ketika dia menyatukan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990, kelompok Huthi tetap tidak mau tunduk. Dalam masa pemerintahan Saleh tercatat enam kali terlibat perang dengan Huthi yang didukung oleh Iran, dan menewaskan Hussain. Kini kelompok itu dipimpin sang adik, Abdul Malik al-Huthi.

Setelah 33 tahun berkuasa, Saleh lengser lima tahun lalu karena tekanan rakyat dan politik seiring dengan gelombang reformasi di Jazirah Arab (Arab Spring). Dia lantas mengalihkan tampuk kekuasaannya kepada sang wakil, Abdrabbuh Mansur Hadi.

Baca Juga :  Ruman Mantan Presiden ini Diserbu, Bagaimana Nasib Saleh?

Hanya saja tiga tahun lalu kelompok Huthi kembali memberontak dan berhasil menguasai Ibu Kota Sanaa, karena dibantu Saleh. Padahal di masa lalu kedua belah pihak itu justru bertikai. Hadi yang menjabat presiden terpaksa lari ke Arab Saudi, merupakan sekutunya. Tewasnya Saleh seolah memupus harapan penduduk Yaman supaya perang berakhir. Negara itu kini seolah menjadi ajang pertunjukan kekuatan antara Arab Saudi yang beraliran Sunni dengan Iran yang merupakan Syiah. (al/int)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!