Beri Jaminan Rp150 Juta

81
GERAK CEPAT: Petugas mengecek kondisi Jembatan Ampera pasca ditabrak tongkang batubara, kemarin. Foto: Evan/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Insiden tertabraknya fender dan pilar Jembatan Ampera dua hari lalu disikapi serius Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Apalagi, kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Wali Kota H Harnojoyo bahkan menyaksikan langsung saat tongkang bermuatan 7.700 ton batu bara itu melintang di tengah sungai.
Orang nomor satu di Palembang itu memanggil pimpinan PT Jasa Armada Indonesia (JAI) Palembang Wilayah Operasi II, anak perusahaan Pelindo selaku pengelola kepanduan. “Sesuai Perda No 14/2011 tentang Penyelenggaraan Transportasi, maka wajib ada jaminan Rp150 juta,” ujar Harnojoyo.
Jaminan itu kemudian ditindaklanjuti pula dengan perbaikan fisik yang harus segera dilakukan. Wali Kota sengaja memanggil manajemen PT JAI, untuk mendengar penjelasan mengenai rencana perbaikan fender jembatan yang ditabrak tongkang ARK 04.
Sebagai acuan, pemkot berpegang pada Surat Edaran Gubernur Sumsel Nomor 024/0443/Dishub/2008 perihal Operasional Tongkang Angkutan Batu Bara. Juga Perwali No 50/2014 tentang Wajib Pandu Kapal/Tongkang.
Pada pertemuan itu, Teddy Gunawan dari PT JAI mengungkapkan kepada Wako, rencananya pagi ini mulai dilakukan perbaikan. “Tim survei yang ditunjuk oleh Singapura (pihak asuransi, red), sudah tiba. Semua, kami (PT JAI) bertanggung jawab. Tidak ke perusahaan batu bara,” tukasnya. “Memang fender fungsinya menahan benturan saat terjadi tabrakan. Tapi itu bukan benturan disengaja,” jelasnya lagi.
Hasil pemeriksaan internal, tambah dia, putusnya tali pandu merupakan hal teknis. Hanya saja, ia berdalih hal tersebut bukan menjadi fokus masalah. Melainkan bagaimana pihaknya bisa memperbaiki fender dan ikut menjaga kelestarian Jembatan Ampera.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, Kurniawan MSi, kembali menegaskan keinginan Pemkot Palembang agar kejadian ini tidak berulang. Mulai dari dilakukan pengecekan terhadap seluruh kelengkapan dan peralatan sebelum tongkang/tugboat berlayar arus ada.
Kurniawan mengingatkan, ada sejumlah poin penting dalam Perwali.Di antaranya mengatur masalah kepanduan bagi perusahaan. Sementara itu, Satuan Polair Polresta Palembang memeriksa empat orang terkait tertabraknya fender dan salah satu pilar Jembatan Ampera oleh tongkang ARK04. Mereka yang diperiksa, kapten, chief officer, chief engineer dan Yani, warga yang speedboat-nya terbalik dan tenggelam akibat kejadian itu.
“Keempat orang yang kami periksa masih sebagai saksi,” tutur Kasat Polair Polresta Palembang, Kompol Cristoper Panjaitan. Hari ini, pihaknya akan memeriksa chief assist. Dari keterangan para saksi, diketahui kalau insiden itu bukan dipicu tali penarik tugboat ke tongkang yang putus.
“Kipas mesin tugboat tidak berfungsi,” jelasnya. Ada kebocoran yang menyebabkan tekanan angin pada mesin tidak sampai ke atas. Karena bocor itu, baling-baling mati dan akhirnya tugboat terseret oleh tongkang bermuatan 7.700 metrik ton (MT) yang terbawa arus.
“Belum ada tersangka, kami lakukan penyelidikan dulu,” tegasnya. Cristoper menambahkan, pihaknya tidak menyita tongkang yang menabrak fender dan pilar Ampera itu. “Kami hanya tunda keberangkatannya. Sekarang tongkang batu bara itu di Pulau Kemaro,” tuturnya.
Sedangkan muatan batu baranya, boleh dipindahkan dan diangkut oleh tongkang lain. Untuk tugboat penarik tongkang saat ini juga ada di Pelabuhan Boom Baru. “Tugboat itu punya kepanduan anak perusahaan Pelindo,” bebernya. Cristoper mengungkapkan, pemilik tongkang batu bara itu salah satu perusahaan di PALI.
Untuk muatan tongkang, sudah sesuai jumlah yang diatur Dinas Pertambangan. “Standarnya 7.500-7.700 ton, itu sudah benar,” imbuhnya. Ke depan, setelah Jembatan Musi IV dan VI selesai, mungkin jumlah yang diangkut tidak boleh sebanyak itu lagi.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan (Sekper) PT Bukit Asam (persero) Tbk (PTBA), Adib Ubaidillah, menegaskan, PTBA bukan pemilik tongkang. Juga bukan pemilik batu bara yang diangkut saat kejadian.
“Tongkang dan muatan batu bara yang menabrak fender Jembatan Ampera tidak ada sangkut paut sama sekali dengan PTBA,” ujar dia. Kemungkinan, batu bara itu milik perusahaan lain.
“Sekarang kan banyak perusahaan batu bara. Kami tidak tahu punya siapa,” tegasnya. Adib menambahkan, untuk jadwal pengiriman batu bara milik PTBA setiap harinya tidak pasti. “Itu ada ketentuan dari syahbandar. Tidak bisa dipastikan. Bisa pagi dan siang, kalau malam tidak,” ujarnya.
Ditambahkan Kepala Humas PTBA Unit Dermaga Kertapati, M Ayub Khan, siang saat fender Ampera ditabrak, pihaknya tidak melakukan pengeluaran batu bara. “Kalau pastinya punya siapa, bisa tanya ke Pelindo atau Syahbandar,” imbuhnya.
Pantauan koran ini, semen terkelupas pada pilar pinggir arah 16 Ilir masih dibiarkan seperti itu. Sisa batu bara juga masih ada yang tersangkut dan menempel di sisi badan jembatan berusia 55 tahun itu.
Tampak, beberapa orang mengecek kondisi pilar bawah Ampera. Ada juga yang mengecek di bagian atas, “Baru cek-cek saja, belum diperbaiki,” ungkap Andi (33), warga. (aja/roz/vis/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!