Berikan Akses Bagi Kaum Perempuan

Achmad Awaluddin, SP,ME

Oleh : Achmad Awaluddin, SP, ME

PADA saat ini, buah perjuangan RA Kartini dan para pejuang perempuan lainnya sudah dapat dirasakan manfaatnya. Gambaran keberhasilan ini terlihat berdasarkan data World Bank, yang menunjukkan data Angkatan Kerja Perempuan di Indonesia terus mengalami trend peningkatan, tahun 2004 Angkatan Kerja Perempuan sebesar 37,08 persen menjadi 37,97 persen di tahun 2014 atau terjadi peningkatan 0,89 persen dalam kurun waktu tersebut.
Dari hasil penelitian Papanek dan Schwede 1988, berjudul Women Are Good with Money: Earning and Managing in an Indonesian City, menyatakan dewasa ini motivasi kaum perempuan bekerja di dalam rumah maupun di luar rumah bukan lagi karena tuntutan ekonomi, melainkan untuk memanfaatkan pendidikan dan memenuhi tanggung jawab sosial. Tentu saja sebagai akibatnya sebagian atau seluruh waktunya tersita untuk kegiatan mencari nafkah atau meningkatkan karier mereka.
Terjadinya trend peningkatan angkatan kerja perempuan tersebut tentunya juga berdampak pada peningkatan jumlah ibu yang bekerja. Sedangkan sisi lainnya, seorang ibu juga memiliki peranan yang tidak kalah penting bagi keluarganya, yaitu sebagai ibu rumah tangga. Peranan di mana seorang perempuan memiliki tanggungjawab terhadap suami dan anak-anaknya, seperti mengasuh dan mendidik anak serta melayani suami.
Tulisan ini mencoba membahas pengaruh ibu yang bekerja tersebut terhadap pendidikan anak-anaknya, di mana hasil beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian di Amerika Serikat oleh Datcher-loury tahun 1988, mengatakan waktu perawatan ibu terhadap anak-anaknya berpengaruh signifikan meningkatkan lama bersekolah dari anak-anaknya tersebut, sedangkan ibu yang bekerja tentunya akan berdampak pada berkurangnya waktu kebersamaan dengan anaknya tersebut.
Hasil berbeda diperoleh dari penelitian Farzana Afridi di India tahun 2016 dan Xiandong Fan di Norwegia dan Amerika Serikat tahun 2015, menyatakan partisipasi ibu dalam angkatan kerja memiliki efek positif pada probabilitas anak-anaknya bersekolah, atau dapat disimpulkan ibu yang bekerja tidak berdampak negatif pada pendidikan anaknya. Hasil penelitian ini sedikit banyak menjawab kehawatiran akan keberlangsungan pendidikan anak-anak dari ibu yang bekerja.
Bagaimana Indonesia? Berdasarkan penelitian saya di Magister Ekonomi Terapan Universitas Padjajaran tahun 2017, berjudul Ibu Bekerja dan Kesenjangan Pendidikan Anak, di mana kesenjangan pendidikan menjadi interpretasi dari kualitas pendidikan anak, yang diukur dari kesesuaian usia anak dengan kelas ideal dengan juga memperhitungkan lama pendidikan yang telah diselesaikan. Kelas ideal mengacu pada UU No 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu usia 7 tahun menjadi usia minimal sekolah dasar.
Menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014, dengan jumlah sampel anak yang berusia 8 sampai 15 tahun sebanyak 109.417 anak. Status ibu bekerja, tingkat pendidikan ibu dan status perkawinan menjadi variabel yang mewakili karekteristik seorang ibu. Dikatakan bekerja jika ibu memperoleh pendapatan, sehingga untuk pekerja keluarga atau tidak dibayar, tidak termasuk dalam status ibu yang bekerja, serta tidak memisahkan jenis pekerjaan formal maupun informal.
Hasil penelitian menunjukkan fakta ibu yang bekerja berpengaruh negatif terhadap terjadinya kesenjangan pendidikan anak, atau anak dari ibu yang bekerja memiliki kelas yang lebih ideal sesuai dengan usianya. Kondisi ini sangat dimungkinkan karena dari pendapatan yang diperoleh, ibu lebih memilih untuk berinvestasi pada pendidikan anak-anaknya.
Tingkat pendidikan ibu juga berpengaruh negatif, fakta ini juga menunjukkan semakin bertambah tingkat pendidikan ini akan semakin meningkatkan kesadaran ibu akan pentingnya pendidikan bagi anaknya. Sedangkan untuk status perkawinan, anak yang memiliki ibu yang menikah berhubungan negatif terhadap kesenjangan pendidikan, atau anak-anak dari keluarga yang utuh memiliki kelas ideal dalam pendidikannya.
Lalu bagaimana Provinsi Sumatera Selatan? Hasil yang tidak jauh berbeda, di mana ibu yang bekerja juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan pendidikan anak.Sekalipun Sumsel telah menjalankan Program Sekolah Gratis, namun kenyataannya orangtua masih harus mengeluarkan biaya-biaya pendukung, seperti untuk transportasi, makan dan biaya lainnya.
Faka-fakta ini menunjukkan bahwa perjuangan RA Kartini memberikan pengaruh yang positif bagi kaum perempuan di Indonesia. Memberikan ruang kesempatan lebih kepada perempuan terhadap akses pendapatan dan pendidikan, maka akan mendorong lahirnya generasi-generasi penerus bangsa yang lebih baik.
Apa implikasinya terhadap kebijakan yang sebaiknya pemerintah jalankan? Pemerintah dapat menjalankan program pemberdayaan ekonomi keluarga, di mana ibu-ibu rumah tangga diberikan akses keterampilan, permodalan dan pemasaran, yang dapat bersinergi dengan program yang telah ada, seperti PKK, KUR dan program lainnya, serta dukungan pemasaran dengan memanfaatkan media internet juga dirasa perlu.
Program ini dapat dijalankan secara mandiri atau berkelompok, dapat dengan berbasis potensi daerah masing-masing untuk ketersedia bahan bakunya.Program ini juga dapat dilaksanakan di rumah, sehingga ibu masih dapat memberikan perhatian yang baik untuk keluarganya. Selain itu pemerintah perlu memberikan kemudahan-kemudahan terhadap penyerapan tenaga kerja perempuan sebagai upaya mencegah terjadinya kesenjangan pendidikan anak.
Mengutip perkataan dari RA Kartini, “Berilah pelajaran kepada anak-anak perempuan, dan dari sinilah peradaban bangsa dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas dan baik, maka mereka akan menyebarluaskan peradaban di antara bangsanyakepada anak-anak peradaban, dan kepandaian meraka akan diteruskan.” Selamat Hari Kartini. (*)

Baca Juga :  Urgensi Mendidik Anak

* KSK Badan Pusat Statistik Kabupaten OKU Selatan Provinsi Sumatera Selatan

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!