Bertaruh Bersama Striker Palsu

Piala Dunia selalu ada kaitannya dengan false nine. Ingat siapa pemain yang jadi penentu gelar juara Jerman saat Piala Dunia 2014? Dia Mario Goetze, yang notebene bukanlah striker murni. Lalu, siapa yang jadi bintang tahun ini?

STRIKER palsu, atau false nine, belum akan kehilangan panggung. Piala Dunia 2018 takkan jauh berbeda dari Piala Dunia 2010 dan 2014 yang jadi panggungnya striker palsu. Lihat Thomas Mueller dan James Rodriguez, top scorer Piala Dunia 2010 dan 2015. Keduanya bukanlah striker murni. Mueller dan James lebih ke attacking midfielder.

Kali ini mereka datang lagi. Tak cuma Mueller dan James, masih ada Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Neymar bahkan sampai Mohamed Salah yang jadi pertaruhan false nine di ajang empat tahunan paling bergengsi itu. Itu belum termasuk Iago Aspas, false nine Spanyol yang diuji coba lawan Tunisia di Krasnodar Stadium, Krasnodar, Minggu dini hari WIB (10/6).

La Furia Roja menang 1-0, dan Aspas yang jadi pembedanya. Dia menciptakan gol ke-5-nya untuk Spanyol di menit ke-84. Dan, posisi Aspas tidaklah striker murni seperti Diego Costa atau Rodrigo Moreno. Dia jadi senjata Julen Lopetegui saat ingin mengusung false nine yang di eranya jarang dia lakukan.

Baca Juga :  Presiden Galatama Jagokan Spanyol

Enam kali uji coba sebelum Piala Dunia, dua kali saja Lopetegui memakai false nine dan kedua-duanya bersama Aspas. ”Kapan pun Julen memercayai saya (berperan jadi false nine) di situ saya akan membuktikannya,” koar mantan striker Liverpool tersebut seperti dikutip Mundo Deportivo.

Lopetegui pun ingin memanfaatkan fleksibiltas Aspas itu. Selain Aspas, dia masih punya Isco yang saat Kualifikasi Piala Dunia 2018 juga jadi false nine-nya. Entrenador yang memberi gelar juara Euro U-19 2012 dan Euro U-21 2013 bagi La Rojita itu bahkan konfiden memasang false nine dan true nine sekaligus dalam satu laga.

”Solusi itu sudah berjalan hari ini (kemarin, Red). Bahkan, kalau perlu (main dengan dua striker beda karakter sekaligus) langsung sebagai starter,” imbuh entrenador 51 tahun itu. False nine, seperti kata penulis Jonathan Wilson itu sebagai kreator pembeda. Karena, mereka itu bisa jadi kreator serangan, sekaligus pembeda.

Tengok efek Brasil yang memiliki Neymar, ataupun Jerman yang masih bergantung pada Mueller, Hazard yang lebih bersinar ketimbang barisan bomber Belgia atau Salah yang menjadi buah bibir sebelum Piala Dunia. Jumlah assist dan golnya masih termasuk yang dominan dalam timnya masing-masing.

Baca Juga :  Presiden Galatama Jagokan Spanyol

Inggris yang punya Harry Kane pun juga mulai menjajal Raheem Sterling untuk menjadi false nine. Sterling moncer di tangan Pep Guardiola bersama Manchester City musim ini. Catat, di balik sukses Messi sebagai false nine juga ada Pep. Nah, Pep pun menilai Sterling punya ide-ide bermain sebagai striker.

Meskipun, dia berposisi asli sebagai winger. Sama dengan posisi asli Neymar dan Salah. Dilansir Daily Mail, Pep menggaris bawahi inti jadi false nine. ”Naluri gol, petarung, bisa main dinamis, itu yang harus dipenuhi. Dia (Sterling) sudah memilikinya, tinggal bagaimana dia bisa meningkatkannya,” sebut Pep.

Selain itu butuh pemain yang versatile agar jadi seorang false nine tangguh. Sterling pun bisa main di kedua sayap City dan The Three Lions. Begitu pula dengan James saat main untuk Bayern Muenchen atau timnas Kolombia. ”Verstilitas itu yang tak mudah disamai,” beber FIFA, melalui Technical Study Group (TSG)-nya.

Kenapa rata-rata pemain second line? ”Karena mereka mampu menghubungkan di antara lini tengah, dan membuka ruang di antara winger atau fullback untuk menembus garis defense-nya lawan,” lanjut TSG FIFA. (ren/ion/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!