Bhinneka Tunggal Ika Harus Jadi Nafas Kegiatan Pemuda

JAKARTA - Bergumul dengan Ribuan peserta seminar dari elemen kepemudaan dan pelajar di Forestero Hall Kampung Coklat Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (6/12). Foto: Kumaidi/Sumatera Ekspres

JAKARTA – Bergumul dengan ribuan peserta seminar dari elemen kepemudaan dan pelajar di Forestero Hall Kampung Coklat Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (6/12), 72 pemuda peserta Kirab Pemuda mendapat wejangan dari mantan Panglima TNI Agus Suhartono.

Wejangan itu berisi bagaimana meningkatkan kesadaran geografi guna merawat wawasan kebangsaan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan melalui acara Seminar Nasional Kepemudaan dengan tema “Peran Pemuda dalam Pembangunan Bangsa”.

Selain mantan Panglima TNI Agus Suhartono, hadir pula di acara tersbeut adalah Staf Khusus Kemenpora Anggia Ermarini dan Diaspora Indonesia Livi Zheng. “Semakin tinggi kesadaran geografi, makin kental pula wawasan kebangsaan sehingga dalam memecahkan masalah bangsa atau dalam menyusun kebijakan dapat lebih komprehensif. Kebetulan, para peserta Kirab Pemuda sudah keliling Indonesia, jadi mereka para pemuda ini sudah tahu keragaman Indonesia,” ungkap Agus.

Staf Khusus Kemenpora Anggia Ermarini menjelaskan, kirab pemuda pantas ditutup di Blitar karena Blitar memiliki peran besar dalam cikal bakal terbentuknya nusantara. Di Bumi Bung Karno ini bersemayam abu Raden Wijaya, yakni raja pertama Majapahit. Raja bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana ini disimbolkan sebagai awal lahirnya Pancasila dan negara Indonesia. Sebab, Raden Wijaya merupakan sosok yang telah menghidupkan semua agama, di dalamnya sarat dengan nilai persatuan dan kebinekaan tunggal Ikaan. Gelar itu juga menyiratkan, bahwa toleransi beragama sudah ada sejak awal jaman kerajaan Majapahit ada.

Baca Juga :  Baca Kitab Kirab Pemuda Pecahkan Rekor MURI

“Jadi pemuda tidak hanya asal habiskan waktu tapi bagaimana mengisi waktu dengan nilai kebangsaan, bhinneka tunggal ika menjadi nafas setiap kegiatan. Ini karena pancasila sudah sempurna bagi bangsa Indonesia. Selama Kirab Pemuda para pemuda ini ada titik singgah mereka. Selama di satu tempat itu mereka berbaur dengan masyarakat. Ini sebagai perjalanan untuk membukukan dan menyerap segala budaya kemudian menguatkan keberahaman Indonesia karena kitalah nusantara,” terang Anggia.

Ketua Fatayat NU ini menjelaskan, peluang pemuda dalam membangun bangsa sangat besar. Mengingat, 27 persen penduduk Indoensia sampai 20245 ke depan, adalah pemuda. Artinya, pemuda memiliki prosentase lebih banyak dari anak-anak dan orang tua.
Potensi ini harus dimanfaatkan untuk menguatkan diri untuk ambil peran berkreasi lebih banyak lagi untuk lihat dunia luar sehingga tahu perkembangan zaman. Kemudian dengan modal itu memunculkan kreasi membahana. Dengan begitu, pemuda bisa berikan kontribusi positif kepada masyarakat.

“Pemuda itu kreatif, energinya banyak tidak pernah habis, kritis. Pemuda kok gak kritis itu patut dipertanyakan. Kritis itu snagat dibutuhkan supaya bisa bangun bangsa. Pemuda juga harus punya kepercayaan diri tinggi sebagai modal bangun dan memberdayakan pemuda,” terangnya.

Anggota juga menyarankan bahwa pemuda juga jangan anti politik. Ini salah satu jalan untuk memperjuangkan kepentingan pemuda melalui kebijakan. Politik juga bisa digunakan alat untuk perluasan kerja, misalnya. Mengingat, pemuda selalu memiliki ciri khas. Seperti pemuda zaman now, cirinya eksis. Generasi milenial punya hubungan dengan dunia luar secara terbuka dan terus menerus.

Baca Juga :  Bali IFC Jadi Ajang Mencari Bakat Pemain Muda

Sementara Bupati Blitar Rijanto mengaku bangga dengan program unggulan Kemenpora Kirab Pemuda Nusantara 2017 yang berakhir di Bumi Bung Karno. “Para pemuda dan pemudi dari berbagai daerah di tanah air yang tergabung dalam Kirab Pemuda harus mampu meniru dan mencontohkan para tokoh-tokoh yang telah mendahului seperti (alm) Bung Karno yang mampu melahirkan Pancasila sebagai pedoman negara, selain itu banyak pemuda yang kelahiran Blitar menjadi orang-orang besar lainnya yakni Mantan panglima TNi Agus Suhartono, Pahlawan PETA Supriadi, mantan wakil Presiden Budiono, Wakil Ketua KPK M. Yasin. (kmd))

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!