Bukit Siguntang Riwayatmu Kini

DR Farida Wargadalem MSi

Oleh: Dr Farida Wargadalem MSi*

Bukit Siguntang, tanah leluhur bangsa Melayu. Tanahnya Iskandar Zulkarnain, dan tanahnya Parameswara yang berlayar dari Palembang menuju tanah semenanjung lebih dari 750 tahun lalu. Tanah yang disebut-sebut di dalam tambo-tambo Orang Minang, Orang Aceh dan Melaka tentunya sebagai tanah leluhur mereka. Tanah nan sakral.
Sebuah tinggalan tak ternilai. Dapat dibayangkan bagaimana pihak kolonial Belanda saja tak berani berbuat apapun atas tanah ini, kecuali menjadikannya sebagai kawasan rekreasi. Mendengarkan kicauan burung, dan menikmati udara segar dengan pemandangan hamparan kota Palembang yang masih sedikit penduduknya. Sehingga pemandangan bisa sejauh mata memandang, ketika mereka berkuasa dari 1821 hingga Jepang masuk 1942. Begitu pula dengan Inggris, selama tiga tahun delapan bulan, sejak April 1812 juga melakukan hal yang sama. Bagaimana dengan Jepang yang sempat berkuasa disini hingga 1945, faktanya tanah ini terus terjaga.
Sayangnya, pemahaman nilai sejarah yang kurang membuat pihak berwenang mencoba mengubah Bukit Siguntang dengan membuat bangunan-bangunan di atasnya. Jika tak salah ini pada 1990-an dengan didahului pemagaran lokasi. Ini mengingat makin bersemangatnya penduduk mendirikan bangunan-bangunan untuk berbagai kepentingan, khususnya rumah pribadi.
Apakah pemagaran berarti hanya itu wilayah Siguntang? Jawabnya jelas tidak. Semua kawasan di sekitarnya, terdapat beberapa situs, diantaranya situs Kambang Unglen, Kambang Purun, Ladang Sirap, Padang Kapas, juga Karanganyar. Di berbagai situs tersebut banyak ditemukan batu bata, kaca, pecahan keramik, tembikar tanah liat (dengan alat pembuatnya), bangunan air, bangunan yang terbuat dari batu dan bata, sisa-sisa perahu kayu, dan lainnya. Dari temuan-temuan tersebut menunjukkan kurun waktunya bersamaan dengan berbagai temuan di Bukit Siguntang.
Temuan di Bukit Siguntang tak kalah hebatnya. Diantaranya arca Budha dengan tinggi sekitar 3-4 meter, bata kuno, prasasti, arca Budha, arca Bodhisattwa, arca Lokeswara, arca Kuwera, arca Budha dari perunggu, lapik arca, manik-manik, lempengan-lempengan emas, dan lainyna, dengan kurun waktu sekitar abad VII-IX (Purwanti dan Taim, 1995; Munandar, dkk, 2007). Berbagai temuan arkeologis di atas membuktikan Bukit Siguntang adalah situs keagamaan, yang merupakan simbol Gunung Meru. Situs-situs disekitarnya adalah penunjang situs Bukit Siguntang. Dapat dibayangkan betapa penting Bukit Siguntang dengan berbagai temuan di atas.
Setelah berkuasanya raja-raja dari Kerajaan Palembang dan berlanjut pada masa kesultanan, Bukit Siguntang tetap pada posisi sebagai tanah yang paling sakral. Sejarah mencatat bahwa Bukit Siguntang menjadi “pangkalan terakhir” bagi para pembangkang di uluan maupun di Kota Palembang sendiri. Mereka akan dihukum dan disumpah di Bukit Siguntang agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Inilah Siguntang, sebuah bukit yang selau rujukan terakhir bagi upaya mengamankan wilayah nan luas melebihi provinsi Sumatera Selatan saat ini.
Bagaimana Siguntang menjadi tempat berlindung, dan memohon kepada para leluhur agar melindungi Palembang, ketika Palembang berada pada saat-saat kritis ketika berperang dengan Banten abad 16 dan upaya itu berhasil.
Berbagai penjelasan di atas, akan sangat ironi jika dibanding dengan kondisinya saat ini. Cobalah pembaca memandang dan melihat ke sana, semua telah berubah. Betul bagian atas di tata agar tak terkesan “angker” seperti selama ini menjadi lokasi “pertapaan” bagi orang-orang tertentu yang beranggapan kesakralan Bukit Siguntang adalah lahan buat “meminta” dengan berbagai alasan. Betul, bahwa di sana telah salah dengan adanya bangunan-bangunan yang tidak perlu. Tetapi, apakah kesalahan itu perlu dilanjutkan dan bahkan lebih parah? Bangunan di bagian atas hilang, namun muncul tiga lapis kolam yang cukup lebar di puncaknya. Bukankah dalam konsep agama Buddha, puncak itu adalah “Meru” tempat yang paling sakral. Bagaimana menjelaskan fungsi kolam tersebut jika dikaitkan dengan “puncak’ Bukit Siguntang.
Begitu pula dengan pembangunan galeri. Pantaskah bangunan itu ada di sana? Mengapa harus di sana? Bukankah banyak lokasi lain yang dapat dipakai sebagai galeri. Apa isinya, tinggalan Sriwijaya dan hasil-hasil ekskavasi atas Bukit Siguntang dan kawasan penunjangnya? Bukankah itu aneh, memamerkan tapi menghancurkan. Apakah itu lokasi aman? Apa dasar menyatakan itu aman? Lokasi galeri memanjang dari bangunan musala, gerbang dan setelahnya.
Pembangunan bakal galeri menggunakan alat berat traktor. Jika diteliti tidak kurang dua hingga tiga meter tanah dikeduk dengan alat itu. Jika alat berat yang bekerja, apa yang dapat dikatakan lagi. Sungguh sangat tak sebanding dengan kerja para arkeolog yang harus membuat petak dan secara hati-hati menyisir tanah dengan alat-alat standar guna menghindarkan pecah, rusaknya temuan di petak tersebut. Kawan-kawan dari Balai Arkeologi (Balar) Palembang tahu betul soal itu. Bukankah mereka beberapa kali melakukan ekskavasi di sana dengan melibatkan mahasiswa, guru dan lainnya.
Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, apakah kaki Bukit Siguntang bukan situs? Jauh sebelumnya sudah ditemukan struktur bangunan bata di kaki bukit itu. Tahun delapan puluhan ketika kami mahasiswa kuliah lapangan di sana, menyelusuri kawasan, hingga turun ke kawasan Lebak Keranji, disepanjang jalan itu kami menemukan banyak sekali manik-manik warna warni. Mari adakan penelitian terhadap penduduk sekitar, apa yang mereka temukan secara tidak sengaja saat membangun, tidak mustahil akan menemukan hal sama, atau bahkan lainnya. Upaya penggalian untuk membuat jamban di sana, belum jauh cangkul masuk ke tanah, sudah ditemukan bata-bata yang diperkirakan usianya abad 8. (**)

* Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumsel, Dosen Sejarah Universitas Sriwijaya.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!