Dalam Cerita Rusdi

Tepat siang itu saat matahari baru akan menggelincir dari angka 12, aku sampai di depan sebuah warung kopi milik lelaki keturunan Aceh, warung kopi itu usianya sudah lebih tua dari usiaku. Hanya letaknya saja yang sudah tiga kali berubah, kata ayahku warung kopi berawal dibawah pohon asam keramat tua, semak belukar yang ditebas oleh Amin lelaki rantauan Aceh. Setelah lima tahun Pak Amin mendirikan tenda warung kopinya ia harus mengangkat kaki dari tempat yang telah lama menjadi lahan perekonomian keluarganya, lataran tempat itu akan dibangun sebuah ruko milik orang bermata sipit.
Kemudian Pak Amin pindah ke beberapa meter dari lokasi pertamanya, agak mendekati persimpangan jalan yang cukup ramai dilalui orang-orang. Namun usia tempat jualannya itu harus bersumbu pendek, warung kopinya digusur karena ada pelebaran jalan. Terakhir dan sampai sekarang warung itu masih berdiri di sebuah lorong kecil pinggir jalan pintas antara ruko milik orang Tionghoa yang berjualan kelontongan dan ruko milik orang minang yang berdagang baju.
Di antara kedua ruko itulah Pak Amin mendirikan tenda warung kopinya, dan tempat aku berdiri. Sejak merantau ke Malaysia beberapa tahun terakhir aku tak pernah lagi nongkrong di sini. Seperti termakan rindu yang mendalam akan racikan kopi di warung tenda ini, aku kembali, ingin melihat kepiawaiannya memadu serbuk-serbuk kopi hitam pahit, gula pasir dan air hangat, tak usah kau ragukan lagi akan semerbak harum kopi itu yang akan membuatmu lupa akan segala-galanya.
Warungnya tak terlalu ramai karena belum jam istirahat para kuli-kuli pasar induk. Atau juga bukan malam hari waktu orang-orang melepas lelah seusai berkerja seharian. Di warung itu selain aku hanya ada dua lelaki, satu lelaki gemuk yang perutnya besar, entah diisi oleh apa? Nasi kesejahteraan atau hanya angin saja. Dan satu lelaki kurus, raut-raut wajahnya tampak kusut, seperti banyak pikiran, tapi mulutnya tiada henti menghisap sebatang rokok dengan kepulanan asap menyebar kemana-mana.
Sementara pak Amin, ahh… masih seperti dulu saja, kharismatik, wajahnya teduh, beralis tebal, berkumis tipis, berkulit sedikit gelap.
“Rusdi.” Tiba-tiba saja lamunanku terusik. Kamir.
“Apa kabar kau?” tanyanya kemudian. Aku masih tak terpikir akan bertemu kawan lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tak bertatap muka.
“Baik, kau?” tanyaku balik, Kamir duduk tanpa menunggu tawaran dariku, kemudian memesan secangkir kopi, tak butuh waktu lama bagi Pak Amin menyajikan secangkir kopi pesanan kawan lamaku ini.
“Kudengar kau ke Malaysia?”
“Iya.”
“Lalu, kapan kau kembali?”
“Dua bulan lalu.” Jawabku sekenanya. Kamir mengaduk-aduk kopinya, adukan itu seperti membawaku pada pusaran waktu, mengenang puluhan tahun dulu sewaktu kami masih sama-sama bersekolah. Seingatku Kamir bukan orang yang suka berulah. Sosok pemuda yang baik, dekat dengan bau-bau agama.
Tapi, waktu telah merubah semuanya dari Kamir, lenggan yang kutahu dulu putih polos kini sudah bergambar naga menyemburkan api, sedikit gelap. Perangainya sudah tak sedamai dulu, gersang kering dari kata bersahaja.
“Kenapa kau jadi seperti ini, seharusnya aku.”
“Seharusnya aku yang bertanya padamu?”
“Kematian.”
Puihhh… Kamir meludah tak jelas, membuat gemuruh di dadaku. Entah, apa yang terjadi dengan sahabatku ini?
“Tak perlu menjadi banci karena kematian.” Ucapnya, gemuruh didadaku kian kencang seperti ada badai yang menerjang keras di dalamnya, Detak jantung memacu tak jelas ritmanya, kalau saja aku tak ingat tentang kematian maka ingin kuselesaikan hidup kamir dalam sekali pukul. Mata pak Amin menangkap ketegangan yang sedang melanda diriku, pandangan sepasang mata iu seperti berbicara, tolong jangan buat keributan di sini.
Aku paham dengan semua itu. Maka perlahan-lahan kuredam amarah yang kian menyala ini. Kamir sedang lupa ia sedang bicara dengan siapa, bukan, bukan dengan pereman kampung yang hanya berkoko dalam sangkar seperti dirinya. Ia tak tahu tentang pekerjaanku di Malaysia, ah maaf bukan di Malaysia, maksudnya di Selat Malaka. Jadi perampok kapal-kapal milik asing yang melintas. Kamir lupa bahwa ia sedang menyalakan api dengan penjahat yang tiap harinya selalu menyekap, menyandra bahkan tak segan-segan membunuh dan bahkan setiap hari selalu diburu oleh polisi-polisi internasional.
Sedangkan dirinya, ahh sudahlah aku tak ingin memperbesar masalah ini. Sembari menyurutkan api yang hampir menyala dalam diri ini, aku hanya banyak diam, sementara kamir, entah sudah berapa patah kasar yang ia umpatkan untukku. Perlahan-lahan warung pak Amir mulai ramai dikunjungi oleh para kuli-kuli pakul dari pasar induk.
Kamir menegguk kopinya hanya menyisakan ampas, aku masih tetap diam, suasana hening, namun menyimpan bara dalam diri masing-masing. Kamir melenggos meninggalkanku tanpa membayar secangkir kopinya, pak Amin hanya memandang Kamir karena kopinya tak dibayar, aku mencegah, maksudku aku memandang pak amin, memberi pengertian, biar aku saja yang bayar.
Aku tak ingin bicara panjang lebar tentang kematian pada Kamir, yang tak pernah mengalami peristiwa pahit disaat sebuah peluru yang melintas dihadapan kedua bola mataku. Ketika kelompok perampok yang aku pimpin sedang beradu kontak dengan polisi internasional. Sejak saat itu aku mulai menyadari bahwa kematian akan senantiasa hadir pada diri kita, kapan pun di mana pun, dalam kondisi apapun.
Braakkk…
Seketika semua berubah jadi gaduh, orang-orang yang kudapati memandangi suatu tempat, sembari berlari-lari dengan penuh tanda tanya.
“Bang Kamir, Bang Kamir tewas ditabrak lari…” teriak seorang lelaki kurus sambil berlari-lari mencari pertolongan. Mataku nanar mendengar hal itu. (*).

Baca Juga :  Orang Gila Tak Wajib Puasa

Oleh: Fahry Alamsyah
Penulis ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Prabumulih.

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!