Di Bawah Mutu Standar Terendah

PALEMBANG – Penyelidikan kasus dugaan beras oplosan di Lahat kini dinaikkan tahapnya ke penyidikan. Kualitas 39.330 kilogram (39,33 ton) beras yang ditemukan Subdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumsel terbukti tak layak konsumsi.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengungkapkan, uji mutu dilakukan pada tiga laboratorium. Yakni Laboratorium Forensik (Labfor) Polri cabang Palembang, laboratorium Dinas Pertanian Sumsel, dan Balai Besar Penelitian Padi (BBPadi) di Subang, Jawa Barat.
“Hasil dari tiga laboratorium itu, beras yang ditemukan kualitasnya jauh di bawah Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan di bawah kelas mutu beras untuk campuran pakan ternak,” beber Agung. Hasil itu disampaikannya dalam ekspose kemarin (11/8), didampingi Wakapolda Brigjen Pol Asep Suhendar dan Direktur Reskrimsus Kombes Pol Irawan David Syah.
Ia merinci, beras mutu 5 (SNI 6128-2008) punya kadar air 15 persen, beras kepala 60 persen, beras pecah 35 persen, menir 5 persen, beras merah 3 persen, beras kuning dan rusak 5 persen, butir kapur 5 persen, benda asing 0,20 persen dan butir gabah/100 gram maksimal 3 persen.
Tapi, hasil pengujian untuk sampel beras yang ditemukan di Gudang Bulog Subdivre Lahat 22 Juli lalu cukup memprihatinkan. Kadar airnya 11,85 persen, beras kepala hanya 28,34 persen, beras patah mencapai 58,59 persen, menir 13, 07 persen, beras merah 1,47 persen, beras kuning dan rusak hingga 15,95 persen.
Untuk butir kapur 0,06 persen, benda asing 0,09 persen dan butir gabah/100 gram 3 persen. “Karena itu, penyelidikan yang telah dilakukan ditingkatkan menjadi penyidikan,” tegas Kapolda. Lazimnya, akan ada yang jadi tersangka dalam kasus ini.
Karena, penyidik Polda akan mengirimkan surat perintah dimulainya penyidikan (SPPD) kepada kejaksaan. Ada lima pegawai Sub Divre Lahat yang telah diperiksa. Yakni Agus Mulyawan (kasubdivre Lahat), Gusdi Pramana (ketua tim pelaksana), Febri Akbar (kepala gudang), Aditya (staf pelaksana), dan Nizar (staf administrasi).
Nantinya, penyidik akan melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka. “Harus sesuai alat bukti yang ada. Juga pasal apa yang dilanggar, sesuai dengan beban dan tingkat perbuatan masing-masing,” lanjutnya.
Selain keterangan dari kelima orang itu, penyidik Polda Sumsel juga mendapat laporan dari tiga warga Lahat. Merka mengaku mendapat pembagian beras sejahtera (rastra) yang kondisinya tidak baik.
“Mereka sudah melapor ke Bulog. Tapi, tidak ada pergantian. Bahkan, dikembalikan lagi ke masyarakat. Prinsipnya, kami ambil dari sisi pelanggaran. Kegiatan lain yang tidak melanggar, ya teruskan saja,” lanjutnya.
Kapolda tak mau terlalu berpolemik soal dugaan diplos atau pun re-processing versi Bulog. “Pada kenyataan, hasil lab telah menunjukkan kalau beras yang kita uji itu bahkan dibawah standar yang paling rendah. Apapun alasannya, kalau itu menyalahi, ada konsekuensi hukumnya,” cetusnya.
Tersangka nantinya terancam pasal 62 ayat (1) Jo pasal 8 ayat (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman sekitar 5 tahun penjara dan denda Rp 2 miliar.
Direktur Reskrimsus Kombes Pol Irawan David Syah menambahkan, hasil uji laboratorium dari BBPadi, keluar pada Sabtu (5/8) lalu. Dua hari kemudian, Polda mengambil keterangan dari tim ahli.
Mereka, Suhartini MF.Sc (ahli peneliti tananam padi), Indra Bakti SH MSi (ahli perlindungan konsumen Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel), Dr Eva Achjani Julfa SH MH (ahli pidana Universitas Indonesia), dan dari Laboratorium Pengujian BBPadi, serta Balai Besar Laboratorium Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
“Kami akan segera gelar perkara untuk menentukan tersangka,” tukasnya. Diwartakan sebelumnya, pasca penyelidikan selama lima hari sejak 18-22 Juli, tim Ditreskrimsus Polda Sumsel menggerebek gudang Bulog Subdivre Lahat. Ditemukan beras oplosan sebanyak 39.330 kg atau 39 ton lebih yang diduga dioplos.
Ditemukan juga 25 karung kemasan 15 kg tahun 2016 berkualitas buruk dan 25 karung kemasan 50 kg tahun 2017 dengan kualitas baik yang belum dioplos. Beras yang 39,33 ton itu hasil reprocessing. Beras itu diperuntukkan untuk masyarakat penerima rastra.
Dalam proses reprocessing, 50 kilogram beras dari pengadaan 2017 akan berkualitas baik akan dicampur dengan 15 kilogram beras dari pengadaan 2016 yang kurang baik mutunya.
Dari pemeriksaan dokumen, diketahui ternyata sudah ada 1.089 ton rastra hasil reprocessing yang sudah didistribusikan ke masyarakat. Terpisah, Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar mengatakan, pihaknya menyerahkan masalah ini kepada kepolisian.
“Kami ikuti saja dan serahkan semua pada proses hukum,” katanya singkat. Sedang M Gusdi, Kasi Pelayanan Publik Bulog Subdivre Wilayah Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Muara Enim, dan PALI mengatakan belum bisa berkomentar. “Kami belum terima surat dari Polda, jadi belum tahu,” tandasnya.(vis/irw/yun/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!