di Seminar STPNB Bali, Industri Pariwisata Dituntut Beradaptasi dengan Era Digital

Arief Yahya. foto: istimewa

NUSA DUA – Pesatnya perkembangan teknologi, membuat wisatawan juga mengubah kebiasaannya. Yakni menjadi lebih digital. Pola pemasaran industri pariwisata Indonesia dituntut untuk menyesuaikan kebiasaan tersebut.

Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Internasional Hospitality Outlook, 9 Maret lalu. Enam negara ambil bagian dalam seminar di Hotel Mercure Nusa Dua, Bali.

Enam negara tersebut adalah Amerika Serikat, Perancis, China, Australia, Inggris, dan tentunya tuan rumah Indonesia. Seminar dilaksanakan Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali (STPNB). Jurusan pengampu adalah Program Studi Administrasi Perhotelan.Kelas D (ADH-D).

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa, upgrade pengetahuan diperlukan sebagai media memenangkan persaingan.

“Event seminar seperti ini sangat bagus. Sebab, kalangan akademisi hingga masyarakat umum membutuhkan informasi yang cukup. Saat berbicara industri, maka semua harus siap dengan persaingan. Disini butuh inovasi dan strategi. Apalagi ini konsepnya seminar internasional,” ungkap Rizki didampingi Ketua STP Nusa Dua Bali Dewa Gede Ngurah Byomantara, Selasa (13/3).

Menurut Rizki, penyelenggaraan seminar internasional ini sangat berhasil. Terlebih, 83 peserta yang ambil bagian, terlihat antusias dan sangat interaktif dengan narasumber yang dihadirkan.

“Secara konsep seminar ini sangat berhasil. Pesertanya cukup banyak dan berasal dari mancanegara. Jumlahnya melebihi target. Pada awalnya target peserta hanya 60 orang saja. Mereka sangat aktif dan komunikatif,” katanya lagi.

Baca Juga :  BOPDT Akan Promosikan Danau Toba di ITB Asia 2017 Singapura

Mengusung tema ‘Emerging Hotel Management Through Digital Marketing’, tiga bergantian sharing. Menjadi pembicara pertama, Ricky Putra mengusung topik ‘Elevating Hotel’s Profitability Through Marketing Strategic’.

Fokusnya, bagaimana manajemen hotel menyiapkan strategi jitu untuk menaikan tingkat hunian. Menyiapkan paket produk menarik hingga mendatangkan keuntungan finansial.

“Produk yang baik akan lebih cepat terserap oleh pasar. Disinilah diperlukan strategi khusus mulai dari konsep, kemasan, hingga pola pemasaran produknya. Hotel harus jeli melihat peluang dan potensi risiko,” tutur Rizki lagi.

Peserta seminar juga mendapat suplemen ilmu dari Reza Sunardi. Tema bahasan Why Your Hotel’s Online Reputation is Impacting Future Booking. Pada sesi ini diterangkan bagaimana mengembangkan online reputation hotel agar terap kompetitif.

Harapannya hotel bisa memenangkan persaingan secara online. Lebih spesial lagi terus berkembang pada platform tertentu seperti TripAdvisor.

Sesi ketiga seminar pun tidak kalah menarik. Fransiska Handoko menyuguhkan tema bahasan ‘ Trend Driven Consumer: Future Travel Trend’.

Dalam sesi ini, dibahas mengenai manajemen hotel yang harus siap dengan perubahan. Sebab, perubahan pola pasar dan konsumen bisa terjadi kapan saja.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, dunia digital saat ini tidak bisa dilepaskan dari lini bisnis manapun.

“Memasarkan produk itu seni. Kita membaca peluang lalu berstrategi. Keuntungan dan risiko sama-sama ditimbang. Manajemen hotel memang sudah harus mengarah ke digital sepenuhnya. Posisi seminar-seminar ini sangat bagus untuk membuka wawasan. Pasti ada ide segar dari sini yang diadopsi dan diterapkan,” pungkasnya. (*/kmd)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!