Dianggap Lebih Kejam dari Mutilasi

PALEMBANG – Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang menjatuhkan hukuman mati terhadap Suryanto alias Kempol (25). Terdakwa kasus pembunuhan terhadap pacarnya sendiri, Sonia Priska Pratiwi (19), mahasiswa Universitas Bina Darma Palembang.
Ketua majelis hakim PN Palembang, Kamaludin SH, kemarin (25/10), membacakan putusan untuk terdakwa Kempol, yang dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana. Semua unsur pembunuhan berencana, sudah terpenuhi semua olah terdakwa.
“Menjatuhkan pidana mati terhadap terdakwa, sebagaimana diatur dalam pasal 340 KUHP. Sekaligus memerintahkan terdakwa untuk tetap ditahan,” ujar Kamaludin. Putusan itu telah dirapatkan dan dimusyawarahkan majelis hakim, setelah mempelajari semua keterangan para saksi dan barang bukti yang dihadirkan di persidangan.
Meski demikian, kata Kamaludin, terdakwa juga memiliki hak untuk menyatakan keberatan dan banding atas vonis yang diberikan ini. Terdakwa diberikan waktu selama sepekan untuk memikirkannya dan berkonsultasi dengan penasihat hukumnya. “Kalau keberatan dan tidak menerima, silakan banding. Kalau menerima, jaksa akan langsung mengeksekusi putusan ini,” ujarnya.
Vonis mati ini, diketahui lebih berat dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya, JPU M Purnama Sofyan SH hanya menuntut terdakwa dengan penjara seumur hidup. Hakim ketua Kamaludin menjelaskan, hal-hal yang memberatkan terdakwa sehingga dijatuhkannya vonis mati.
Majelis hakim menganggap, perbuatan terdakwa dianggap lebih kejam dari mutilasi. Sebab sebelum pembunuhan dilakukan, beberapa kali terdakwa sudah mengancam akan menghabisi korban. “Secara psikis atau psikologis, terdakwa sudah membunuh korban. Korban selalu dalam bayang-bayang akan dibunuh oleh terdakwa. Ini lebih kejam dari mutilasi,” papar Kamaludin.

Baca Juga :  Kemlu RI: Tak Ada Itu Tekanan Internasional Terkait Vonis Ahok

Selama persidangan, terdakwa Kempol yang didampingi penasehat hukumnya, lebih banyak menunduk. Terlebih ketika majelis hakim membacakan amar putusan, dia tambah tertunduk. “Setelah saya konsultasikan dengan pengacara saya, saat ini saya pikir-pikir dulu yang mulia,” jawab terdakwa, ketika ditanya sikap yang akan diambilnya.
Usai persidangan, terdakwa Kempol mengaku masih sangat mencintai pacarnya itu. Dia menyesal,menjadi orang yang kejam karena telah bunuh pacarnya sendiri. ”Saya benar-benar menyesal. Saya sangat mencintai Sonia, tapi karena tidak mendapat restu dari orangtuanya membuat saya jadi gelap mata,” ujarnya, saat digiring kembali ke dalam sel tahanan sementara PN Palembang.
Menurutnya, perbuatan yang dilakukannya tersebut bukanlah tidak mencintai Sonia. Dia sangat takut kehilangan Sonia, apalagi kalau sampai Sonia menjadi milik orang lain. “Saya bener tidak rela saya cinta mati dengan Sonia” akunya, yang terus mendapat pengawalan ketat dari tim Kejari Palembang dan Polresta Palembang.
Karena itu, kalau bisa dan memiliki waktu banyak, dirinya ingin mengucapkan permintaan maaf dan penyesalan yang mendalam ke keluarga korban terutama ibu korban. “Saya menyesal dan ingin minta maaf ke ibu korban,” akunya.
Sekedar mengingatkan, perbuatan tersebut dilakukan terdakwa di kediamnannya, Jl Tut Wuri Handayani, RT 62, RW 10, Sukawinatan, Kecamatan Sukarami, 29 April 2017 sekitar pukul 13.20 WIB. Sebelum dibunuh, korban dijemput oleh terdakwa di kampusnya, Universitas Bina Darma Palembang.
Karena takut dengan terdakwa, lantas korban menghubungi ibunya yang tidak lama kemudian menjemput korban. Hanya saja, belum sempat dijemput orangtuanya, korban sudah lebih dulu dijemput oleh terdakwa. Di tengah perjalanan, ibu korban melaporkan dugaan penculikan dan ditolak polisi dengan alasan belum 2×24 jam.
Setelah itu, langsung menuju ke rumah terdakwa untuk menjemput anaknya pulang. Tapi, ketika hendak dijemput, terdakwa menggunakan badan menghalangi ibu korban untuk masuk. Tidak lama berselang mendengar teriakan anaknya minta tolong dari dalam kamar terdakwa.
Ketika dibuka paksa, ibu korban menyaksikan terdakwa sedang menikam korban dengan menggunakan pisau ke arah tubuh korban. Lantas, ibu korban membawa korban ke rumah sakit, dan ditengah perjalanan korban meninggal dunia dengan luka tusukan di badan. Sebelumnya, antara korban dan terdakwa ada hubungan pacaran, tapi tidak direstui oleh orangtua korban. (afi/air/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!