Dinamika Dakwah dari Hongkong Sampai ke Macau

Ustaz Muhammad Amrullah (kiri). foto: istimewa

Oleh:

Muhammad Amrullah STHI

Hadirnya para habaib dari Majelis Sholawat “Riyadhul Jannah” Malang Jawa Timur ke Kota Hongkong. Negara bekas jajahan Inggris itu sebenarnya sering dikunjungi para pendakwah-pendakwah dari Nusantara Indonesia, baik yang mengadakan syiar dan tabligh tentang ke-Islaman yang rahmatan lil a’lamien maupun yang mengadakan konser amal kemanusiaan dengan mendatangkan para Pecinta sholawat dan nasyid.

Alhamdulillah pada akhir Januari 2018, Para BMI (Buruh Migran Indonesia) menyuguhkan kedatangan rombongan habaib dan Asatiz dari Kota Apel Malang, mereka mengadakan kegiatan di aula umum di Chai Wan Hongkong, daerah bagian utara dari kota Hongkong.

Hadirnya para habaib tersebut dengan mendendangkan Sholawat Nabi Muhammad SAW menambah semakin khusuknya para jemaah yang hadir sekitara 1.000-an jamaah, dan jamaah yang hadir untuk terus mencintai baginda Rasulullah SAW.

Ternyata semarak sholawatan menjadi Tren baru bagi masyarakat muslim yang berdomisili di Hongkong. Karena disana bermunculan kelompok-kelompok Sholawat dengan berbagai alat tabuh yang mereka miliki. Dan mayoritas mereka yang tergabung dengan berbagai komunitas Sholawat tadi adalah orang-orang Jawa.

Namun ada banyak kisah tentang kedatangan Rombongan ataupun Individu yang mengunjungi Kota Hongkong, setidaknya mereka haruslah memiliki kelengkapan data dalam kunjungan kemanapun. menurut banyak cerita tentang kedatangan orang-orang Indonesia yang datang kesana selalu ditolak dikarenakan mereka tidak memiliki penjamin kedatangan, ataupun karena tujuan kedatangan yang tidak jelas (bekerja, belajar atau berwisata) sehingga banyak diantara mereka yang terdeportasi pulang kembali ke Indonesia.

Setidaknya itu yang terjadi pada ustaz Abdul Shomad (UAS) yang pada pertengahan Desember 2017 lalu sempat dicekal oleh para pihak Imigrasi Hongkong. Jadi pemberkasan haruslah lengkap saat memasuki Kota Hongkong, yang tidak dengan demikian saat kami memasuki Kota Macau yang tak seketat Kota Hongkong. Selanjutnya hadirnya Rombongan Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI). Dari sinilah penulis menyempatkan diri juga untuk mengunjungi Kota Macau dan berdakwah sejenak.

Silaturrahiem HIPSI menjadi sahabat perjalanan

Beberapa hari berada di Kota Hongkong dalam rangkaian silaturrahiem dan konsolidasi bersama PCI NU yang dipimpin oleh ustaz Abdul Razak, ada rombongan dari Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) bertolak kembali ke Kota macau karena ticketing mereka berangkat kembali ke Indonesia via Macau. Terjadwal pemberangkatan mereka pada kamis pagi sekitar jam 10.40 menit, yang pada malam itu kami menginap di apartement di bilangan tengah kota sekitar MGM Tower dan sekitarnya hanya dengan cukup menaiki bus gratis yang disediakan oleh pemerintah setempat.

Baca Juga :  Wow... Tim Kesenian Kemenpar Hebohkan JTE

Fasilitas bus gratis dan jaringan free WIFI yang memadai di setiap sudut kota memudahkan setiap orang yang berkunjung ke sana. Bersama rombongan kamipun diajak untuk dapat lebih mengenal dan tahu sebagai bahan dakwah juga, Tentang Kota Macau sesungguhnya dan hiruk pikuk kehidupan yang ada di Kota Macau.

Rencana dakwah kami bersama majelis taklim disana hanya 3 hari sesuai rencana, kemudian berada di kota Macau dengan mendampingi seorang Gus Ghozali, Cak Abdul Basith dan Cak Mamad berkeliling kota macau untuk mencari sedikit oleh-oleh atau hanya sekedar berjalan-jalan berkeliling kota.

Selanjutnya pada Kamis pagi Gus Ghazali dan Cak Basith pulang lebih awal karena banyaknya tugas dan urusan yang harus mereka selesaikan di organisasi yang mereka pimpin, sehingga kami bersama Cak Mamad masih santai dan rileks aja di apartement sewa yang kami tempati. Namun kami berdua punya rencana jalan-jalan juga melihat bagian kota Macau yang belum di datangi sebelumnya.

Berbagai kegiatan dakwah kami lakukan bersama tim, kami pun berangkat dengan menggunakan fasilitas bus gratis yang selalu standby untuk menuju lokasi tujuan wisata yang ada di kota macau, mulai dari Venesian yakni sebuah tempat yang berbentuk bangunan gedung bedesain Mall tempat berbelanja dan berekreasi semua tamu manca negara maupun penduduk lokal yang berwisata, dengan desain kota yang berbentuk tempat-tempat seperti di kota Venesia.

Para pengunjung pun merasa nyaman untuk berkeliling bahkan berfoto-foto dengan spot berselfie ria yang sangat banyak. Kemudian ada Parisian yakni sebuah desain gedung juga berarsitek ala Prancis yang sengaja dibuat dan dibangun untuk menyerupai kota Paris Prancis yang sesungguhnya dengan menambah icon khas negara tersebut dengan Menara Eifel-nya, kamipun memanfaatkan moment-moment selama disana dengan semaksimal mungkin.

Dan terakhir kami pun memasuki tempat yang cukup luar biasa dengan disambut ramah para penjaganya menyapa baik dan lembut yakni dengan memasuki tempat yang dikenal dengan nama Studio City yang merupakan lokasi syutingnya film-film hollywood diantaranya; Batman is Back in the Darknight, Jurassic Park II dan beberapa film animasi lainnya yang cukup banyak disana. Hingga pukulpun menunjukkan jam 16.45 menit waktu Macau kamipun meluncur ke bandara Macau Airport untuk proses pulang beliau ke Indonesia via Malaysia pada hari itu. Cak Mamadpun pulang ke Indonesia dengan naik pesawat Air Asia pada puluk 19.40.

Baca Juga :  Kejar Target Wisman, Kemenpar Partisipasi di IFTM

Macau penuh dengan hiburan permainan dan nasihat untuk BMI

Kalaupun mau diurut dari semua tempat yang kami datangi tersebut, bahwa di tempat wisata dan rekreasi apapun yang ada di Kota Macau yang berbentuk fasilitas umum baik berupa Mall maupun Perhotelan dan lain sebagainya yang sering dikunjungi oleh para turis mancanegara. Mereka mesti disuguhkan dengan permainan kasino yang tersebar di tempat-tempat tersebut, kalau kasino di Macau itu ibaratkan permainan ataupun game-game (kalau di Indonesia kita ibaratkan bermain Play Station, Billiard, Karambol ataupun permainan lama yaitu koncang dadu dan dingdong) yang sengaja pemerintah Macau sediakan untuk memberi kepuasan bermain dan kesenangan dalam mengadu nasib.

Mengapa demikian? Karena Kasino yang mereka peruntukkan bagi turis-turis mancanegara maupun orang lokal yang memiliki uang yang lebih dan dihambur-hamburkan demi kesenangan. Dan pertaruhan dalam bermain kasino memiliki berbagai tingkatan dalam bermain, yang kami amati dan perhatikan mereka memiliki kelas-kelas (tergantung uang di saku dan dompet), mulai dari tingkat Standart, Premium hingga Diamond. Para pengunjungpun dimanjakan dengan suasana yang ada di sana.

Setelah seharian berkeliling tamasya ke Venesian, Parisian, dan Studio City pada siang harinya. Malamnya kami berkesempatan untuk bersilaturahim sekaligus mengisi taklim kegiatan yang ada disana, yang sudah di jadwalkan oleh Pimpinan Majelis Taklim (Matim) dengan rangkaian kegiatan ; Khataman Al-Qur’an 30 Juz, Pembacaan Surat Yasin dan Surat-surat pilihan bagi yang kurang lancar membaca Alquran, pembacaan sholawat Nabi Muhammad SAW, Zikir Munajat dan ditutup dengan Tausiyah Motivasi.

Dengan mengharap Ridho Ilahi Robbi penuh kekhusu’an dan ketenangan dalam berdoa, kami pun berpesan kepada mereka untuk lebih giat dan bersemangat lagi dalam berkegiatan berjama’ah, seperti silaturrahiem di Mesquita E Cemeterio Macau(Kami berjumpa dengan berbagai saudara Muslim yang bekerja disana yang berasal dari ; Pakistan, Bangladesh, Mali Afrika Tengah, dan lain-lain), kami pun membahas berbagai hal terkait kondisi mereka dan kebijakan-kebijakan para majikan dan berbagai macam kegiatan dalam kebersamaan yang mereka lakukan dari satu majelis ke majelis lainnya. Selebihnya mereka para Buruh Migran Indonesia (BMI) setidaknya memiliki adalah berbagai sifat dan sikap sebagai berikut :

Baca Juga :  Resepsi Diplomatik di Madrid Jadi Ajang Show Kemenpar

1. Memiliki ketaatan yang tinggi terhadap perintah Ilahi, dalam arti mereka tetap melaksanakan ibadah rutinitas sholat wajib sebagaimana mestinya yang dikuatkan dengan melaksanakan hal-hal yang sunnah. Seperti : Puasa Senin-Kamis, Qiyamul Lail, Sholat Dhuha, Bersedekah dan Amalan Sholeh lainnya. Alhamdulillah mayoritas majikan mereka yang beragama non-Muslim memberikan ruang dan gerak untuk dapat melaksanakan ibadah amaliyah keseharian.

2. Harus bersifat legowo dalam kondisi apapun, seperti menjaga sifat sabar dalam mengasuh anak-anak majikan, tabah dengan cacian para majikan jika tidak setuju kalau kita melaksanakan sholat, berdisiplin dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan.

3. Ada hal penting yang harus mereka pikirkan pada masa yang akan datang, setidaknya mereka memiliki ancang-ancang pasca menjadi BMI di negeri orang/negeri seberang. Mereka setidaknya memiliki harapan mulia yang mereka lakukan saat ini adalah demi kepentingan pada masa yang akan datang. Dengan cara menabung dan menyimpan dari sebagian gaji yang mereka miliki, bisa dibayangkan dengan gaji bersih sekitar 7 Juta-8 Juta setiap bulan (Kalau bekerja 1 Bulan di Makau/Hongkong sama dengan kerja 3 Bulan di Indonesia), kalau laki-laki biasanya lebih banyak dan banyak lebih dari hasil tersebut dengan bisa mencapai 10 Juta-20 Juta, sebab mereka bekerja sebagai staff di hotel, penjaga dan pembersih kebun serta mayoritas menjadi sopir para majikan.

Nilai-nilai keseharian yang di dapat selama 1 minggu di Hongkong dan Macau ;
1. Kedisiplinan pribadi yang baik dalam melaksanakan pekerjaan.
2. Kecepatan dalam melaksanakan tugas dengan gesit, lincah dan proaktif.
3. Sikap menghargai waktu yang ada dengan bijak dan baik.
4. Menghormati orang-orang yang ada disekitar mereka dengan ramah dan santun.
5. Budaya antri naik kendaraan, apapun itu jenis kendaraannya.
6. Pekerjaan dan Tugas adalah tanggung jawab utama.
7. Usia tua bukan masalah untuk bersemangat dalam bekerja.
8. Kebersihan lingkungan selalu terjaga dengan baik dan maksimal.
9. Memperioritaskan keamanan dan kenyamanan dalam pembangunan Gedung Bertingkat baru. (*)

*) Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana UIN Raden Fatah

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!