Diseminasi Cegah Penyakit Menular

Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes RI Dr Siswanto MHP DTM (tengah) membuka Diseminasi Hasil Penelitian Loka Litbang P2B2 Baturaja, di Hotel Novotel Palembang, tadi malam. Foto: Budiman/Sumeks

PALEMBANG – Sebagai upaya melakukan pencegahan penularan penyakit melalui binatang, Badan Litbang Penelitian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Baturaja menggelar Diseminasi Hasil Penelitian di Hotel Novotel Palembang, 7-9 Desember. Hasil penelitian diharapkan bisa digunakan pemerintah dalam mengatasi penyakit yang bersumber binatang, khususnya di sumatera.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, Dr Siswanto MHP DTM mengatakan badan litbang berfungsi sebagai unit penunjang. Artinya melakukan penelitian pengembangan di bidang kesehatan.

“Kita punya empat Puslitbang, dua Balai Besar dan beberapa Balai dan Loka. Salah satunya Loka Litbang P2B2 Baturaja ini,” ujarnya, dalam pembukaan Diseminasi Hasil Penelitian Loka Litbang P2B2 Baturaja, tadi malam (7/12).

Ada beberapa tugasnya, pertama sebagai wakil litbang kesehatan yang ada di daerah Sumatera. Harus mengerjakan riset sesuai dengan kebutuhan daerah yang memiliki kekhususan. “Di wilayah P2B2 Baturaja, seperti malaria, demam berdarah dan vilariasis yang disebabkan oleh nyamuk,” jelasnya.

Menurutnya, setiap tahun diberikan anggaran untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan. Hasil penelitian pribadi didiseminasikan kepada penentu kebijakan seperti stakeholder. “Hasil penelitian bisa digunakan untuk mempertajam program kementerian kesehatan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Litbang P2B2 Baturaja, Yulian Taviv SKM MSi mengatakan penelitian yang dilakukan bukan hanya melihat apa saja penyebab penyakit, melainkan juga solusinya. “Penelitian sendiri bukan sekedar permintaan daerah, melainkan juga mengangkat isu tertentu,” ulasnya.

Baca Juga :  Dipicu Faktor Hormonal

Hasil penelitian ini didiseminasikan kepada pengambil kebijakan dalam hal ini para kepala dinas di Sumsel, Lampung, Babel dan kabupaten kotanya. Penelitian sangat penting sebagai acuan penentu kebijakan dalam mengatasi pemyakit, sehingga diharapkan angka penyebaran dan penderitanya bisa berkurang. “Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung lokasi dan perilaku masyarakatnya,” pungkasnya. (way/air)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!