Driver Saling Untit, Jangan Offline

Kasus perampokan dan pembunuhan beberapa kali menyasar sopir taksi online. Terakhir kasus Tri Widyantoro, yang dibunuh empat pemuda warga Kecamatan Lalan. Kondisi ini membuat beberapa sopir taksol pun khawatir, berhenti atau tetap menyopir taksi.
——————————————-
BEBERAPA driver taksi online terlihat berhenti di Jl Angkatan 45 depan Palembang Square (PS) Mall. Mereka masing-masing mencari jika ada pengunjung mal yang order taksol, sebab lokasi yang terdekat biasanya yang paling cepat mendapatkan panggilan. “Mal kan banyak penumpang, makanya seringkali melintas ke wilayah ini,” ujar Muchlish (31), salah satu driver taksol ditemui di depan PS Mall, kemarin (1/4).
Di sana, Muchlish pun cerita beberapa sopir cukup khawatir dengan beberapa kali kasus pembunuhan sopir taksol. Bahkan yang lebih ironis lagi, rata-rata pelaku itu penumpang sendiri. “Ya kita tidak tahu, mana penumpang yang niat jahat. Apalagi kami ini kan sehari-harinya mencari dan mengantar penumpang ke lokasi tujuan,” jelasnya.
Karena itu, dia dan driver taksol lain makin waspada. “Waktu dapat order, kita lihat-lihat dulu calon penumpangnya. Kalau penampilannya mencurigakan, lebih baik dibatalkan sebelum menemui customer,” imbuhnya. Tapi sebelum melakukan itu, sopir juga akan melihat lokasi tujuan calon penumpang, sepanjang di tengah kota tentu akan lebih aman.
Kalaupun tujuannya jauh dan selama ini rawan karena kasus banyak terjadi di daerah pinggiran kota, maka sopir yang berani mengambil orderan akan share lokasi. “Saya seperti itu. Share lokasi dengan komunitas dan para driver untuk melindungi diri,” imbuhnya. Contoh beberapa hari lalu, ada pesanan dari depan PS Mall ke Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin.
“Karena mau ngambil, sopirnya langsung melapor ke grup komunitas. Tak sekadar itu, ada teman sopir yang juga ikut menguntit dari belakang, sampai sang sopir menurunkan penumpang,” bebernya. Tapi dia menyarankan ke rekan sesama driver, sebaiknya jangan mengambil order jarak jauh seperti ke Sembawa, Banyuasin, Tanjung Lago, dan Kenten Laut. Atau order dari tempat ramai menuju tempat sepi di atas jam 9 malam. “Harus hati-hati,” imbuhnya.
Nah, jika penumpang tak dikenal meminta offline, atau mengantar ke tujuan tertentu tanpa aplikasi, dia sendiri akan menolaknya meskipun tarifnya mahal. Demikian juga pengorder tak sesuai, misal nama perempuan yang naik laki-laki. “Tetap harus aktifkan ponsel dan aplikasi saat mengantar penumpang supaya komunitas bisa saling pantau. Bergabung di komunitas itu juga penting, karena ada kendala misal tiba-tiba mobil mogok, pecah ban, atau tepater, driver lain bisa cepat membantu,” bebernya. Dia juga tak lupa lengkapi alat keamanan, seperti kunci ban, gas air mata, dan lain-lain.
Hal yang sama juga diungkap sopir taksol, Edi Medan (42). “Karena ini sudah jadi profesi, saya harus tetap ‘narik’. Sekarang tinggal hati-hati di jalan. Kalau sopir waspada, saya rasa tetap akan aman,” ujarnya. Namun sebenarnya, proteksi keamanan bagi sopir itu harus juga didukung dengan teknologi aplikator.
“Itu kan sebenarnya bisa dilakukan, tinggal aplikasinya di-update. Kalau sekarang foto sopirnya muncul, tapi foto penumpang tidak. Makanya kita minta aplikator bisa meng-upgrade aplikasinya, dengan ikut menampilkan foto dan alamat pemesan,” ujarnya. Kalau terjadi apa-apa kan lebih cepat ketahuan, bagi driver ini juga lebih safety. Di luar itu, Edi sendiri tetap menyiapkan alat pengamanan. “Kalau saya mengandalkan peralatan mekanik di mobil seperti kunci inggris. Kalau bawa senjata tajam kan tidak diperbolehkan,” cetusnya.
Sopir taksol lain, Gunata Kusuma mengaku dirinya tetap tak ragu mengambil order penumpang. “Yang paling penting tetap waspada dan hati hati,” ujarnya. Contoh, ketika penumpang berubah rute tujuan semula, atau bisa juga lihat dari jarak atau lokasi tujuan penumpang. “Kalau sudah tidak wajar jangan diambil, apalagi kalau itu malam,” terang pria yang juga Sekretaris Asosiasi Driver Online (ADO) Palembang ini.
Dia pun meminta, sebaiknya semua driver taksol bergabung ke komunitas bagi yang belum bergabung. Agar bisa memandu dan memantau setiap keberadaan masing masing anggota. “Jika ada masalah atau musibah, kita dalam komunitas bisa saling komunikasi,” bebernya. Setiap komunitas memiliki URC (unit reaksi cepat), ada 1-2 orang yang selalu memantau grup dan mengingatkan kepada anggota grup. Kalau ada yang gelagatnya aneh, segera laporkan agar bisa dikawal.
Sekretaris Jenderal ADO Sumsel, Malwadi menyatakan, pihaknya meminta ke Polda Sumsel agar bisa menjamin driver online saat mencari nafkah. “Kekhawatiran ini sudah kita sampaikan,” imbuhnya. Pihaknya juga sudah men-somasi PT Go-Jek Indonesia sebagai aplikator. ADO mengusulkan agar akun penumpang melampirkan foto KTP, baru bisa buat akun. Karena selama ini identitas penumpang itu hanya nomor HP.
Dikatakan, dengan banyaknya kasus perampokan sopir taksol, muncul kekhawatiran driver mengambil pesanan malam hari. “Karena ini mata pencarian, kadang ada driver yang terpaksa mengambilnya,” jelasnya. Tapi sebenarnya, risiko ini tak hanya malam hari, juga bisa di siang hari, makanya setiap saat driver taksol harus waspada.
“Yang jadi problem itu, kawan-kawan driver yang single fighter, tidak punya komunitas. Seperti dua kasus menimpa almarhum Tri itu single fighter, begitu juga Edward Limba,” pungkasnya.
Sementara, aparat Kepolisian ikut berupaya memberikan rasa aman bagi seluruh masyarakat, termasuk kepada driver online yang rawan jadi korban kejahatan. “Tugas kami tak hanya jaga keamanan dan ketertiban, juga menciptakan rasa aman,” ungkap Kabag Ops Polresta Palembang, Kompol Maruli Pardede SIK, kemarin (1/4).
Selain rutin patroli, pihaknya menyiapkan aplikasi online untuk melayani warga seperti Ampera. “Lewat aplikasi ini seluruh keluhan dan pengaduan warga bisa langsung kita tampung dan tindaklanjuti, termasuk laporan tindak kejahatan,” ungkapnya.
Dengan men-download aplikasi Ampera, masyarakat bisa menikmati ragam pelayanan di antaranya informasi seputar pelayanan publik di Polresta Palembang, pengaduan terkait tindak kejahatan, dan hal lainnya. “Sejak di-launching beberapa waktu lalu, aplikasi Ampera ini sudah terbukti mampu mengungkap sejumlah kasus kejahatan yang terjadi di wilayah kami,” sebutnya.
Pengamat Hukum dari Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang, Dr Hj Sri Suatmiati SH MHum, menilai seringnya kasus perampokan menimpa sopir taksol bukan karena kelengahan korbannya, tapi karena motif ekonomi yaitu kebutuhan pelaku yang mau hidup enak. “Pelaku ingin cepat memiliki harta korban dengan modus menjadi penumpang. Ini memudahkan pelaku melancarkan aksinya,” tuturnya. Karena itu ke depan, sopir taksol harus berhati-hati saat menerima order dari calon penumpangnya, apalagi yang tidak jelas. (kms/cj16/cj15/roz/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!