Ekonomi Sulit Tumbuh

5128

SUMESL- Laju ekonomi Sumsel masih dibayang-bayangi fluktuasi harga karet dunia. Turunnya harga karet awal April ini diyakini bisa kembali menekan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017. Sebab komoditas karet salah satu penopang PDRB (produk domestik regional bruto) Sumsel.
Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K Eddy mengakui, sejak akhir 2016 sampai Maret ada perbaikan harga karet yang sempat menyentuh level US$2,25. “Tapi awal April, trennya turun lagi,” ujarnya, kepada koran ini, kemarin. Kemarin (11/4), harganya di level US$1,65 per kg (FOB/field on board).
Alex menerangkan, kondisi Thailand selaku pemasok karet dunia kini kembali banyak memproduksi karet. “Sewaktu harga karet naik itu karena banjir melanda negara penghasil karet tersebesar dunia Thailand,” cetusnya. Sehingga produksinya turun, alhasil Indonesia jadi bidikan.
Tapi sekarang kan tidak lagi. Stok karet di dunia banyak lagi. Ada juga efek terpilihnya Presiden AS Donald Trump yang buat pembeli karet luar negeri menyetok barang. “Kondisi ini menekan harga karet dunia. Imbasnya bisa sampai ke pendapatan petani dan konsumsi rumah tangga di Sumsel,” sebutnya.
Berbeda dengan sawit yang harganya masih tergolong bagus. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel, Harry Hartanto mengakui demikian. “Walau turun, tapi masih rata-rata. TBS di harga Rp1.722,92 per kg dan CPO (crude palm oil) Rp8.130,09,” ujarnya.
Di Sumsel memang sawit juga jadi andalan dan pendorong daya beli meski tak sebesar karet. “Jika harga sawit terganggu juga akan berdampak kepada daya beli. Walau sumber pendapatan masyarakat tak hanya tergantung sawit,” tegasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel, Sumarjono Saragih, menjelaskan, kondisi komoditi sejauh ini belum memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi atau sektor lain. Baik itu sawit, karet, atau batu bara. Meski katanya harga sempat membaik.
“Sektor yang belum merasakan itu contohnya ritel dan properti. Belum ada pertumbuhan positif di triwulan pertama 2017. Masih stagnan dan relatif lambat,” terangnya. Bagaimana prediksi triwulan II? Dia mengaku hanya beberapa sektor yang kemungkinan membaik, yakni ritel. Tapi itu terdongkrak kebutuhan, adanya hari besar seperti puasa dan Lebaran. Sementara, properti, yakinnya, bisa lebih lambat lagi karena prioritas kebutuhan masyarakat saat ini konsumsi dan anak sekolah.
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Sumsel, Hasannuri tak menampik jika ritel masih belum terlalu terpengaruh karena ekonomi masih recovery ketika harga karet naik. Tapi sayang kini turun lagi. “Pasar ritel belum terlalu baik,” kata dia. Permintaan masih datar saja. “Semua orang masih utamakan kebutuhan primer, mereka belum memutuskan beli barang sekunder,” tandasnya.
Berbeda dengan Deputy Store Manager ACE Palembang Square (PS) Ahmad Warkahan, mengaku ritelnya justru sempat terimbas kenaikan daya beli di Januari-Maret 2017 dibanding tahun lalu. “Penjualan kita naik 5-10 persen,” jelasnya. Diakuinya, pemicunya juga harga karet dan pengaruhnya cukup besar. Kalau turun lagi, tentu bisa ber-impact serupa.
Setali tiga uang. Di daerah anjloknya harga karet dan banyak infrastruktur yang rusak ikut pengaruhi kondisi ekonomi. Di tingkat petani, di sana karet dibeli Rp5-9 ribu per kg, padahal sebelumnya sempat mencapai Rp14 ribu per kg.
Pengepul getah karet asal Kecamatan Madang Suku III OKU Timur, Iwan Naburori mengakui petani kembali lesu, harga karet terjun bebas lagi. “Kami pengepul juga pusing,” kata Iwan.
Turunnya harga karena kualitas karet Indonesia yang jelek, beda dengan Vietnam dan Thailand yang lebih bagus dan murah. “Kita harap petani bekukan getah karet dengan asam cuka dan asam semut bukan pupuk agar kualitasnya bagus,” ucapnya.
Di Muratara, sejumlah petani karet asal Desa Lubuk Kemang, Kecamatan Rawas Ulu kembali menjerit pascaturunnya harga karet sebulan ini. “Awalnya sempat Rp10 ribu per kg, lalu turun Rp8 ribu kg. Sekarang tinggal Rp5.500 per kg. Karet turun daerah kami jadi rawan, banyak yang nodong,” ujar Yusmi (44), warga setempat.
Penyebab lain juga banyak yang ngepul-ngepul, harga karet petani ditekan terus. “Kami minta Pemda mengatasi spekulan yang sering menahan harga karet di pasaran,” sebutnya. Mau jual ke pabrik, akunya, petani pun tak tahu bagaimana. Sebab harga di pabrik, katanya, bisa Rp8 ribu per kg.
Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni sudah memprediksi itu. “Kita meminta petani karet atau sawit memanfaatkan lahan telantar dan menanam segala jenis tanaman, seperti sayuran atau buah-buahan,” tambahnya.
Di Empat Lawang, harga karet sempat Rp7,5 ribu per kg tapi sekarang jadi Rp4,5 ribu-Rp5,5 ribu per kg. “Mungkin karena musim hujan, getah yang dihasilkan sedikit, bahkan setengah dari hasil biasanya,” ujar Amsi (49), petani karet Desa Pancur Mas, Tebing Tinggi.

Baca Juga :  Petani Ngeluh, Awal Ramadhan Karet Turun Lagi

NPL Naik
Di sektor perbankan, turunnya harga karet juga buat bank-bank ketar-ketir. Sebab ada indikasi, fluktuasi harga komoditas itu salah satu pemicu naiknya NPL (non-perfoming loan) karena turunnya daya beli setelah turunnya harga karet.
Padahal, di bisnis kredit, sektor pertanian, peternakan kehutanan, dan perikanan itu berikan kontribusi kredit ritel yang tinggi. Yakni mencapai Rp17,44 triliun dari total kredit perbankan Sumsel sampai triwulan IV 2016 Rp104,49 triliun.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional (KR) 7 Sumbagsel, Panca Hadi Suryatno mengatakan, tahun ini kondisi kredit melambat. Juga terpengaruh, turunnya daya beli dan kenaikan NPL di Sumsel. Di 2015 NPL perbankan Sumsel 3,07 persen, lalu 2016 3,23 persen. “Tahun ini masih kisaran 3 persen dan cenderung naik. Sumsel kurang lebih sama,” bebernya.
Selain faktor komoditi, sebutnya, juga terpengaruh seretnya pembayaran dan lambatnya proyek konstruksi. Untuk itu, OJK peringatkan perbankan jaga NPL, namun tetap ekspansi kredit jangan sampai stop. “Perhatikan saja sektor-sektor yang berisiko, salah satunya komoditas,” ujarnya.
Walau begitu, pada triwulan kedua, ada kecenderungan konsumsi bisa naik karena ada momen hari raya dan Ramadan. “Itu juga bisa beri pengaruh. Sampai akhir tahun kami masih optimis kredit tumbuh 9-12 persen,” sebutnya.
Bank Sumsel Babel (BSB) mencatat angka NPL 3,5 persen pada 2016. “Kami akui angka itu tinggi. Targetnya bisa kami bisa diturunkan,” terang Direktur BSB, M Adil. Pihaknya optimis mampu menurunkan NPL, sepanjang membaiknya harga komoditas. “Ekspansi kredit tetap kami pacu. Prediksi kami kredit bisa tumbuh 10-12 persen,” tukasnya.
Kepala Kanwil Ditjen Pembendaharaan Sumsel, Sudarso tak menampik jika proyek Pemda saat ini lambat jalan. Besaran nilai kontrak kerja yang didaftarkan ke Ditjen Perbendaharan masih minim. Angkanya baru Rp274 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp364 miliar. “Meski penyerapan anggaran triwulan I 2017 naik, yakni 13,1 persen atau Rp1,6 triliun. Tapi proses kontrak pekerjaan malah menurun,” katanya. Padahal, kata Sudarso percepatan nilai kontrak sangat mempengaruhi proses pembangunan daerah. (rip/cj10/yun/sal/cj13/eno/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!