Emisi Rendah, Pajak Makin Murah

JAKARTA – Mitsubishi Motor Corporation (MMC) menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar Asia. Pabrikan tiga berlian itu berencana mulai ekspor pada Februari tahun depan.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan menyatakan, mobil yang akan diekspor itu diluncurkan dalam Gaikindo International Indonesia Auto Show (GIIAS) 2017 hari ini (10/8). Mobil serbaguna (multi-purpose vehicle) tersebut santer dikabarkan bernama Mitsubishi Expander.

Mitsubishi memang sempat membeberkan rencana ekspor tersebut. Tahun ini, Mitsubishi berencana memproduksi 80 ribu unit Expander. Sebanyak 20 ribu unit di antaranya akan diekspor ke sejumlah negara di Asia. Sisanya ditujukan untuk pasar domestik.

Director of Sales and Marketing Division Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Irwan Kuncoro menjelaskan, pabrik Mitsubishi di Cikarang berkapasitas 160 ribu unit per tahun. Pada April 2017 hingga Maret 2018, Mitsubishi Motors mencanangkan target penjualan 91 ribu unit.

Selain menyatakan komitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, CEO Mitsubishi Motors Corporation Osamu Masuko menegaskan kesiapannya berinvestasi membangun pabrik kendaraan roda empat dengan emisi rendah di Indonesia. “Karena mereka sudah memproduksi, baik kendaraan listrik maupun hibrida,” ujar Putu.

Kepada Menperin Airlangga Hartarto, Mitsubishi meminta insentif fiskal dari pemerintah sebagai syarat untuk berinvestasi di kendaraan rendah emisi. Karena itu, Airlangga menjanjikan penyempurnaan pajak kendaraan roda empat dengan mempertimbangkan tingkat emisi yang dihasilkan.

Nanti semakin rendah emisi gas buang sebuah kendaraan, pajak kendaraan juga akan semakin rendah. “Industri otomotif memang bergantung dua hal. Keberpihakan pemerintah dan volume. Maka, kami kaji lagi struktur pajaknya,” jelas Putu.

Terpisah, Pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang mulai hari ini (10/8), Mandiri Utama Finance (MUF) membidik pembiayaan baru 1.500 unit kendaraan atau setara Rp258 miliar. Menurut Presiden Direktur MUF Stanley Setia Atmadja, target itu naik tiga kali lipat daripada 699 surat pemesanan kendaraan (SPK) yang didapatkan dalam GIIAS tahun lalu.

Sepanjang semester pertama tahun ini, MUF membukukan pembiayaan baru untuk 110.489 unit senilai Rp3,1 triliun. Kinerja tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perolehan pembiayaan sepanjang 2016 sebesar Rp2,9 triliun. Dari total Rp3,1 triliun yang telah disalurkan, 30 persen dialokasikan untuk pembelian mobil baru. Lalu, sekitar 35 persen untuk motor baru, 15 persen mobil bekas, dan 20 persen motor bekas.

Hingga akhir tahun ini, anak usaha Bank Mandiri itu menargetkan pembiayaan baru mampu mencapai Rp7,3 triliun. Untuk mencapai target, MUF membidik segmen motor premium. Meski pangsa pasarnya masih kecil, pertumbuhan pasar pada segmen tersebut cukup konsisten. Risiko kredit macet juga kecil. “Kami lihat Honda, Yamaha, dan Kawasaki sudah mulai bermain moge. Ke depan, itu motor sport dengan segmen khusus naik terus,” ujar Senior Executive Vice President Marketing New Car & New Motorcycle MUF Yanto Tjia.

MUF juga berharap merek-merek dan model-model baru terus bermunculan. Makin banyak merek yang mengaspal, prospek pembiayaan bakal kian besar. “Bagi kami di industri finance, makin banyak merek makin bagus,” terangnya. (agf/c6/c14/noe/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!