Empat Macam Pola Asuh

Ilustrasi

Jadikan Anak Cerdas dan Bahagia

SETIAP orang tua pasti ingin mempunyai anak yang cerdas dan bahagia. Namun, orang tua seringkali lupa bahwa kecerdasan anak tidak hanya di sekolah saja yang bersifat akademis. Sebab, banyak kecerdasan lain yang jika tidak distimulasi akan membuat mereka tidak berhasil di masyarakat.

Psikolog Fakulitas UI, Dr Rose Mini MPsi mengatakan, pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam mengasah berbagai kecerdasan yang dimiliki anak. Misalnya kecerdasan matematika (akademis), interpersonal (bergaul), dan berkomunikasi.

Seperti diketahui, terdapat empat macam pola asuh yaitu uninvolved atau kurang terlibat (anak cenderung dibebaskan), indulgent atau permisif (mengikuti kemauan anak), authoritarian atau otoriter (anak harus mengikuti apa kata orang tua), dan authoritative atau demokratis (segala sesuatu didiskusikan dengan anak). Lantas, pola asuh seperti apa yang paling tepat diterapkan orang tua?

“Semua pola asuh itu bisa diterapkan, tergantung situasi. Misalnya dalam keadaan bahaya, gunakan yang otoriter. Kalau gunakan demokratis, sudah keburu si anak dalam bahaya. Atau misalnya saat belajar seni, jangan otoriter membentak-bentak sebab si anak akan ketakutan dan justru tidak akan berkembang,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, pola asuh dipengaruhi beberapa faktor yaitu jenis kelamin. Biasanya, jika anak perempuan maka akan diajak bicara dengan lembut sedangkan anak laki-laki lebih tegas. Kemudian, pengalaman masa lalu orang tua, lingkungan tempat tinggal, kultur budaya, dan status sosial ekonomi.

“Tuhan memberi empat tipe pengasuhan tapi rata-rata orang tua hanya menggunakan satu dan tidak berubah-ubah. Keempat pola asuh harus dimiliki orang tua, disesuaikan dengan situasi, orang tua jangan memaksakan kehendak,” tutur bunda Romi.

Ayah dan ibu juga harus konsisten, gunakan konsekuensi, bukan reward dan punishment. Bangun self esteem, jangan suka membandingkan, mencela, atau menjudge anak. Lebih lanjut, bunda Romi menghimbau orang tua ketika melarang anak melakukan sesuatu, sebaiknya jelaskan alasannya.

Sebab, makin dilarang anak akan makin penasaran. Nah, dengan memberi pengertian mengapa dia tidak boleh melakukan sesuatu bisa membuat anak lebih menerima larangan orang tua. Lalu, bagiamana dengan orang tua yang sering memarahi buah hatinya?

“Boleh marah, itu manusiawi, cuma yang seperti apa. Misal anak cuma berantakin kertas orang tua marah, terus dia dorong adiknya yang memang itu berbahaya, marah juga. Itu membuat anak berpikir porsi marah orang tua sama aja kalau dia melakukan kesalahan yang kecil dan besar, jadinya si anak tidak takut lagi. Makanya perlu marah tapi sesuaikan juga dengan kesalahan si anak,”pungkasnya. (qiw/via)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!