Fahri Nilai Pidato Prabowo Masuk Akal

Fahri Hamzah (Dok. Jawa Pos)

JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai pidato Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengutip soal kajian Indonesia bubar 2030 masuk akal.

Fahri lantas menyebut ada negara yang pernah bubar. Bahkan, ada negara yang terancam akan bubar.

“Masuk akal. Beberapa tahun lalu kita menyaksikan (ada) negara bubar. Negara yang namanya Syria itu sebentar lagi tidak ada. Negara Libya, bisa hilang, Mesir terancam. Negara lama seperti Libanon, Yaman masih kacau,” kata Fahri di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/3).

Karena itu, Fahri mengatakan, jika ada orang memberi warning maka sudah seharusnya bersatu.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyarankan kepada pemerintah untuk membangun persatuan dan jangan saling meragukan.

“Justru kalau ada ancaman ini harus menjadi dasar untuk bersatu. Jangan malah kampanye ideologi di dalam, seolah kita tidak bersatu. Saya kira ini warning dan harus diterima secara positif,” ungkapnya

Dia mengatakan Indonesia harus punya sistem kewaspadaan. Menurut dia, bisa saja ada pihak dari luar atau dalam yang mengganggu, dan tidak menginginkan Indonesia punya masa depan.

“Kita masih terjebak isu 90 tahun yang belum selesai, masih dibesar-besarkan. Masih bikin kampanye saya Pancasila, seolah-olah Indonesia ini tidak stabil,” katanya.

Padahal, lanjut Fahri, ada persoalan lain yang mengancam. Misalnya, adu domba dalam politik, tergerusnya kesejahteraan rakyat, konsentrasi penguasaan sumber daya kapital atau faktor produksi oleh segelintir orang, koefisien gini kepemilikan lahan yang masih 0,8 persen.

“Artinya 1 persen orang menguasai 80 persen lahan di Indonesia. Ada yang menguasai 4 juta hektar,” katanya.

Bahkan, lanjut Fahri, sekarang Indonesia memuji-muji utang seolah itu baik. Dia mengingatkan utang itu jelek, apalagi kalau yang berutang dan yang menanggung negara.

“Jadi utang itu jelek. Apalagi sekarang katanya BUMN berutang. Utang BUMN itu bahayanya bisa menyebabkan delusi saja dan konversi kepemilikan dari kepemilikan Indonesia menjadi kepemilikan asing,” katanya.

Bahkan, lanjut Fahri, yang bahaya lagi adalah tempat berutangnya di negara yang menganut paham kapitalisme sehingga kalau berutang ke swasta padahal dikuasai negara, maka konversi kepemilikan itu dari negara ke negara.

“Jadi situasi ini bisa saja menciptakan kerawanan yang menjadikan bangsa ini terancam,” katanya.

Nah, Fahri menegaskan, warning kewaspadaan dari Prabowo ini harus dicatat serta dijawab dengan yakin dan mantap. Kalau tidak yakin dan mantap tapi malah gusar, jangan jangan pemerintah sedang tidak sanggup menjalankan pemantapan dari situasi nasional.

“Soal ideologi, politik, ekonomi, kesejahteraan rakyat, yang hari ini makin tampak lemah,” ungkapnya. (boy/jpnn)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!