Gali Tujuh Sumur Naga di Basis Kedua

Kota yang pernah disinggahi Cheng Ho. foto: boy slamet/jawa pos

Laksamana Cheng Ho menjadikan Malaka sebagai basis kedua bagi armadanya setelah Suzhou. Di tempat ini dia menata kembali pasukannya sebelum melanjutkan petualangan mengarungi samudra dan mendatangi puluhan negara (kerajaan).

MALAKA City beruntung pernah menjadi guan chang (depo logistik kerajaan) armada Cheng Ho. Kota dagang berusia ratusan tahun itu kini memiliki banyak bangunan kuno yang tertata rapi. Jumlahnya ratusan yang dibagi menjadi tiga blok. Ukurannya kecil-kecil saja. Seperti kebanyakan kawasan pecinan di mana pun. Itulah bekas rumah-rumah pegawai depo logistik Cheng Ho yang kini menjadi kawasan cagar budaya di wilayah Jonker Street.

Memang, tak banyak lagi sisa-sisa yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulu merupakan sebuah depo logistik armada terbesar di zamannya. Misalnya, bunker air bersih atau gudang. Ataupun gambaran sisa dermaga. ’’Dulu banyak pembangunan yang tak mengindahkan tata ruang. Main reklamasi begitu saja,’’ ujar Tan Ta Sen, pemilik museum kultural Cheng Ho di Malaka City.

Sungai Malaka yang dulu menjadi dermaga saat ini memang masih ada. Juga masih dipakai untuk wisata perahu. Tentu saja dalam skala lebih kecil. Tidak seperti Sungai Chao Praya di Thailand yang masih lebar. Apalagi jika dibandingkan dengan Sungai Malaka zaman dulu yang sangat lebar dan bisa menampung kapal besar Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho dulu juga membangun tujuh sumur yang disebut ’’sumur naga’’. Tentunya sebagai sumber air bersih untuk logistik kapal. Konon, sumur tersebut tak pernah kering meski pada musim paling kering sekalipun. Namun, sumur-sumur tersebut sudah hilang karena dibuldoser pemerintah setempat pada 1950-an untuk kepentingan pembangunan jalan.

Sungai Malaka, Chao Praya, dan Yangtze mempunyai karakteristik yang hampir sama. Geografis Malaka City, Ayuttaya-Bangkok, dan Nanjing-Taicang pun mirip-mirip. Yakni, berada di muara pertemuan sungai dan laut lepas. Cocok untuk mendukung pelayaran.

’’Namun, Cheng Ho lebih memilih Malaka. Sebab, Ayuttaya dianggap terlalu dekat. Logistik masih banyak. Yang lebih pas adalah Malaka,’’ terangnya.

Baca Juga :  Cikal Bakal Ibu Kota Beijing

Menurut dia, Malaka menjadi basis kedua setelah Taicang (Suzhou). Di Malaka inilah Laksamana Cheng Ho menyusun kekuatan dan energi untuk melanjutkan perjalanan. Kelak Cheng Ho juga membangun depo serupa di kawasan Natuna (Kepulauan Riau, Indonesia) dan Aceh (Indonesia) meski dalam skala lebih kecil.

Tujuh pelayaran Cheng Ho mempunyai karakteristik masing-masing. Tapi, bisa disederhanakan menjadi tiga fase. Fase pertama mencakup tiga ekspedisi pertama. Dalam tiga ekspedisi tersebut, Cheng Ho tak pernah berlayar melebihi Calicut, India.

’’Ini adalah tahap konsolidasi di kawasan Asia Tenggara. Dinasti Ming ingin agar kawasan ini stabil dan semua negara mengakui superioritas Tiongkok,’’ paparnya.

Itu pula yang mengakibatkan Cheng Ho membangun depo dan penguatan basis di kawasan Asia Tenggara. Juga untuk menjaga keamanan di perairan Asia Tenggara. Misalnya, memberangus bajak laut yang dipimpin Chen Zuyi di Palembang, Indonesia, atau membantu Kerajaan Pasai, Aceh, menangkap pemberontak. ’’Tiongkok memang selalu menekankan pada stabilitas,’’ kata Tan Ta Sen.

Ada juga perintah tak resmi. Yakni, mencari Zhu Yunwen, kaisar kedua Dinasti Ming. Zhu Yunwen merupakan cucu kaisar Zhu Yuanzhang (bukan adik Zhu Yuanzhang sebagaimana pernah ditulis pada edisi terdahulu). Dia adalah anak Zhu Biao, anak pertama Zhu Yuanzhang.

Pada masa-masa akhir pemerintahannya, Zhu Yuanzhang memang agak paranoid. Dia menyingkirkan orang-orang yang dicurigai akan membahayakan kedudukannya. Termasuk anak-anaknya sendiri. Termasuk Zhu Di (kaisar ketiga). Dua kakak Zhu Di, yakni Zhu Biao (ayah Zhu Yuwen) dan Zhu Suang, juga tidak diketahui nasibnya. Tiba-tiba hilang dari percaturan kehidupan keluarga kaisar.

Menjelang wafat, Zhu Yuanzhang menunjuk Zhu Yuwen sebagai penggantinya. Kaisar muda ini melanjutkan langkah sang kakek dengan memburu orang-orang yang dianggap berbahaya. Zhu Di yang menjadi gubernur di Beijing melarikan diri bersama Cheng Ho. Setelah memiliki kekuatan cukup, dia menyerang istana dan merebut kekuasaan. Zhu Yuwen lari. Cheng Ho dan pasukannya diperintah untuk memburunya.

Baca Juga :  Mao Sempat Bingung soal Kota Terlarang

Fase kedua adalah memperluas jangkauan hingga ke Selat Hormuz (antara Teluk Oman dan Teluk Persia). Itu adalah pelayaran Cheng Ho keempat dan kelima. Target fase itu juga meningkat. Tidak sekadar memantapkan basis pelayaran dan menjaga keamanan , tapi juga mendorong perdagangan.

’’Makin banyak saudagar muslim dari India dan Gujarat yang berlayar ke Asia Tenggara. Selain berdagang, mereka juga berdakwah,’’ lanjut Tan Ta Sen.

Pengamanan jalur laut di sepanjang Calicut (India), Asia Tenggara, dan Laut China Selatan itulah yang membuat perdagangan kian ramai. Saking maraknya, bahkan di Quanzhou dan Guangzhou dibangun kamar dagang. Itulah yang membuat penyebaran Islam kian masif.

Fase terakhir adalah menambah jarak pelayaran sejauh-jauhnya. Itu terjadi pada pelayaran keenam dan ketujuh. Untuk pelayaran keenam, seorang pakar Cheng Ho sampai berani berspekulasi bahwa Cheng Ho telah berlayar keliling dunia setelah meneliti selama sebelas tahun. Sementara itu, pada pelayaran ketujuh, Cheng Ho meninggal. Misi utama fase ketiga itu adalah menegaskan kepada dunia bahwa Tiongkok-lah (Dinasti Ming) yang menjadi satu-satunya negara adidaya di muka bumi. (*/c5/nw)

Kolaborasi Cheng Ho-Parameswara di Tanah Tak Bertuan

’’SAM Poo Teng? Semua tahu lah orang sini. Dia orang good,’’ kata Ah Fuk, pemilik restoran grill chicken di kawasan Jonker Street, ketika kami tanya soal Cheng Ho. Sam Poo Teng adalah pelafalan Tiongkok Malaysia. ’’Kami (Tionghoa peranakan, Red) di sini selalu berdoa untuk dia lah. Dia yang buat Malaka,’’ lanjutnya.

Namun, ketika ditanya lebih detail, Ah Fuk tidak bisa menjawab. Dia hanya tahu bahwa kawasan tempat dirinya berbisnis itu merupakan bekas depo armada Cheng Ho. ’’Tanya museum lah. Tahu luas mereka,’’ katanya merujuk pada museum Cheng Ho yang tak jauh dari tempat itu.

Baca Juga :  Singgahi Demak, Air Sumur Kahuripan Diambil untuk GPN

Menurut Tan Ta Sen, pakar sejarah yang juga pemilik museum kultural Cheng Ho di Malaka City, keberadaan Malaka modern diprakarsai Cheng Ho. ’’Jika dia tidak membikin depo di sini dan menempatkan banyak orang di sini, perkembangan Malaka akan lambat,’’ terangnya.

Dari penelusuran pria yang sudah lebih dari 50 tahun meneliti Cheng Ho tersebut, ada dua faktor yang membuat Malaka cepat maju. Pertama, kedatangan Raja Parameswara (pelarian dari Palembang karena kerajaannya dihancurkan Majapahit) dan Laksamana Cheng Ho.

Dulu Malaka merupakan daerah tak bertuan yang hanya dihuni sekelompok nelayan tradisional. Pemimpin mereka adalah pemimpin tak resmi. Namun, kedatangan Parameswara dan Cheng Ho mengubah segalanya. Melihat daerah masih kosong dan tak bertuan, dengan diantar Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Zhu Di.

Selama tiga bulan kunjungan dan negosiasi, Zhu Di merestui Parameswara menjadi raja di Malaka. Bukan itu saja, Zhu Di juga memberikan salah satu putrinya, Hang Li Poh, untuk diperistri. Mereka lalu tinggal di sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Bukit China.

Namun, keterangan detail soal pengangkatan Parameswara dan Hang Li Poh mendapat penilaian kritis dari sejumlah sejarawan. Minimnya bukti membuat para sejarawan menganggap bahwa dalam kisah tentang Hang Li Poh dan situs lainnya terkait dengan akulturasi Tiongkok-Malaya ada kepentingan politis. Yakni, digunakan penguasa setempat sebagai propaganda menarik simpati masyarakat peranakan Tionghoa di Malaka.

Hanya, Tan Ta Sen menyatakan, soal depo dan bagaimana Cheng Ho membangun Malaka, semua sepakat mengenai hal itu. ’’Kawasan Jonker Street adalah buktinya. Kami semua bisa hidup di Malaka seperti ini ya karena Cheng Ho,’’ tandasnya.

Karena itu, upacara-upacara terkait dengan Sam Poo Teng selalu ramai. ’’Sebagai bentuk penghormatan, kami semua di sini untuk Cheng Ho,’’ tandasnya. (*/c5/nw)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!