Gandeng 7 Mitra, Pasarkan Beras Medium

Bakhtiar AS. Foto: ist

PALEMBANG – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Sumsel Bangka-Belitung (Babel) menggandeng tujuh mitra untuk menjual beras medium. Beras tersebut dijual Rp9.350 per kg. Sedangkan di Babel, beras serupa dijual dengan Rp9.850 per kg.

Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Bakhtiar AS, mengatakan, ketujuh mitra tersebut yakni PT Buyung Putra Pangan, PT Belitang Panen Raya, PT Tunas Harapan, PT Usaha Tani, PP Posin, CV Jaya Prima, dan PT Usaha Baru. “Mereka (perusahaan, red) memprosesi dan melakukan pengolahan kembali untuk meningkatkan mutu beras,” katanya, kemarin.

Setelah itu, lanjut Bakhtiar, beras dikemas lebih baik dan dicantumkan merek masing-masing.Namun tetap harus menyesuaikan ketentuan, yakni label beras medium sesuai HET Rp9.450 per kg. “Ada himbauan dari Kementerian Perdagangan untuk menurunkan harga jual menjadi Rp9.350, dan kami patuhi itu,” tambahnya.

Selanjutnya, beras tersebut dikirim serta disebar ke pasar tradisional melalui rekanan (agen/distributor) mitra, atau melalui operasi pasar (OP). “Sebenarnya sejak dulu sebenarnya Perum Bulog sudah melakukan operasi pasar. Hanya saja saat ini kemasannya berbeda serta tergolong beras medium,” paparnya.

Meski begitu, sebut Bakhtiar, pihaknya telah minta kepada mitra agar beras medium dengan kemasan baru tersebut sampai ke konsumen dengan harga Rp9.350 per kg. “Jangan ada kenaikan,” tegasnya.

Baca Juga :  Tiga Kelompok Suporter Komit Kondusif

Sebagai tahap awal, pendistribusian beras medium ini fokus pada 4 pasar tradisional. Yakni Pasar 16, Pasar Lemabang, Pasar Cinde, dan Pasar Km 5. Kemudian, baru akan disuplai keluar daerah, juga hingga ke mal dan supermarket besar. “Mitra dilarang menjual melebihi HET. Sebab beras medium yang dijual Bulog ke mitra dengan harga cukup rendah, yakni Rp7.300 per kg,” urainya.

Untuk Sumsel, Perum Bulog memasok kepada mitra maksimal 2.000 ton per minggu atau 8.000 ton per bulan. Namun hingga saat ini, permintan para mitra baru 2.555 ton saja. “Angka itu dari Desember hingga minggu pertama “Kami sudah keluarkan 2.555 ton dari Desember 2017 hingga minggu pertama Januari 2018,” terangnya.

Terpisah, Sekda Provinsi Sumsel H Nasrun Umar mengatakan, jumlah irigasi di Sumsel saat ini mencapai 892 unit untuk mengaliri 523.725 hektaree lahan pertanian. Jumlah tersebut terdiri 29 daerah irigasi yang menjadi kewenangan pusat dengan total areal 326.578 hektare, 55 daerah irigasi kewenangan provinsi dengan total areal 91.050 hektare, dan 815 lainnya menjadi kewenangan kabupaten/kota dengan total areal yang dialiri seluas 106.097 hektare.

“Kondisinya (irigasi) ada yang rusak dan kurang berfungsi dengan baik. Sehingga butuh penanganan agar pengairan di sawah berjalan lancar,” ujar Nasrun usai menghadiri pelantikan anggota Himpunan Ahli Teknologi Hidraulik Indonesia (HATHI) Sumsel di Hotel Aston, Senin malam (8/1).

Baca Juga :  Hari Kedua, Langsung Belajar

Perbaikan irigasi, lanjut dia, tidak boleh hanya mengandalkan metode yang sudah ada. Penemuan serta inovasi dari tim ahli bidang pengairan sangat dibutuhkan agar pengairan lahan pertanian lebih efektif dan efisien. “Keinginan kami, produksi beras ini bisa terus meningkat. Artinya butuh metode pengairan terbaru sehingga berjalan dengan baik,” katanya.

Ditambahkan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumsel, Ir Dharma Budi, bahwa anggaran yang digelontorkan untuk perbaikan irigasi di Sumsel mencapai Rp287 miliar. “Sebenarnya bukan hanya perbaikan irigasi saja. Ada juga pembangunan kolam retensi di kawasan Plaju, pemeliharaan jalur irigasi provinsi dan berbagai macam kegiatan kedinasan lainnya,” ungkapnya.

Perbaikan irigasi juga dibantu dari APBN sebesar Rp20 miliar. “Anggaran itu digunakan untuk memperbaiki lahan irigasi yang menjadi kewenangan pusat. Namun, pelaksananya dilakukan oleh Dinas PSDA,” ucapnya seraya menuturkan perbaikan dan pembangunan lahan irigasi bisa mendongkrak produksi pertanian di Sumsel.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWSS) VIII, Supardji SST MT, mengatakan, Sumsel menjadi salah satu daerah yang menjadi perhatian pusat sebagai kawasan penghasil pangan nasional. Sehingga, kondisi pengairan di Bumi Sriwijaya menjadi perhatian utama pemerintah pusat. Beberapa program yang bakal berjalan antara lain pembangunan kawasan irigasi baru, yakni kawasan irigasi Lematang yang mengairi lahan seluas 3 ribu hektare dan kawasan irigasi Lakitan yang bakal mengairi lahan pertanian seluas 10 ribu hektare. “Prosesnya sedang digarap dan ditargetkan selesai tahun ini,” kata pria yang baru dilantik sebagai ketua HATHI Cabang Sumsel ini.

Baca Juga :  Banyak Peminat, Kemampuan Peserta Sama

Supardji menjelaskan, salah satu mega proyek yang bakal dimulai pelaksanaannya tahun ini adalah Bendungan Tiga Dihaji di Kabupaten OKU Selatan. Bendungan ini menelan anggaran sebesar Rp3,8 triliun. Proses pembangunannya dilakukan selama 5 tahun anggaran. “Tendernya sudah diumumkan Januari ini. Selama 45 hari sudah ada pemenang dan siap dimulai,” ungkapnya.

Diakui Supardji, pembangunan Bendungan Tiga Dihaji sempat mengalami penundaan karena anggaran yang minim. “Sekarang sudah ada titik terang dan pembangunan bendungan dimulai. Jika terealisasi, bendungan ini bakal mengairi lahan persawahan seluas 72 ribu hektare. Selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi pembangkit listrik. Sehingga memecahkan solusi permasalahan listrik di kawasan itu,” pungkasnya seraya mengatakan pembangunan tahun ini hanya difokuskan untuk pembersihan lahan atau land clearing serta persiapan lainnya. (yun/kos/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!