Gerhana; Mitos, Aqidah dan Sains

Drs H M Teguh Shobri MHI

“Janganlah bersujud kepada matahari da janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersuudlah kepada Allah yang menciptakannya” (Fushilat:37).

FENOMENA gerhana bulan total sebentar lagi bisa kita dapat saksikan di seluruh wilayah di Indonesia. Peneliti Pusat Sains Antariksa LAPAN, Drs. Gunawan Admiranto mengatakan masyarakat di Indonesia dapat menyaksikan momen gerhana bulan total pada tanggal 31 Januari 2018.
Dimulai sekitar pukul 18.48 WIB bisa melihat gerhana parsial, dan sekitar pukul 19.51 WIB hingga 21.07 WIB itu adalah puncaknya (gerhana bulan total),” (23/1/2018). Adapun durasi total untuk bisa melihat gerhana bulan total di akhir Januari 2018 selama kurang lebih 1 jam 16 menit.
Bagaimana umat Islam menyikapinya? Tentunya melihat gerhana bulan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah swt. ”Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Ar-Rahman : 5)
”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kaliann sujud (menyembah) matahari maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37)
Umat Islam hendaknya untuk melaksanakan Salat Gerhana atau Salat Khusuf. Berdoa, beristighfar, bertakbir, bersadaqah dan memerdekakan bidak budak. (HR Al-Bukhari 1040, 1044, 1059, 2519 dan Muslim 901, 912, 914)
Gerhana bulan total tersebut terjadi saat bumi berada antara bulan dan matahari. Ketika itu permukaan bulan disinari oleh cahaya matahari dan semua orang pun dapat mengamati seluruh permukaan bulan yang menghadap ke bumi.
Secara perlahan bulan menjadi gelap sebagian, lalu selama beberapa saat bulan berada pada fase gelap total, dan kemudian secara perlahan purnama kembali pada wujudnya yang cemerlang. Seolah bulan “dimakan” oleh sesuatu yang luar biasa. Malam terang bulan tiba-tiba menjadi gelap.
Muncullah berbagai mitos atau takhyul di beberapa masyarakat. Sebagian masyarakat ada yang percaya dengan mitos bahwa saat gerhana bulan, bulan dimakan oleh raksasa sehingga orang-orang memukul berbagai benda untuk mengusir raksasa itu, dan itu dianggap berhasil ketika bulan kembali benderang.
Sebagian masyarakat percaya juga dengan mitos yang mengaitkan gerhana dengan pertanda buruk tertentu, seperti kematian. Misalnya pada zaman Rasululah SAW, mitos itu pun terekam di dalam beberapa hadits. Saat putra Rasululah SAW, Ibrahim, wafat terjadi gerhana matahari sebagian di wilayah Madinah.
Gerhana matahari itu terjadi pada hari Senin, 27 Januari 622 M bertepatan dengan tanggal 29 Syawal 10 H pukul 08.30 pagi. Peristiwa gerhana itu berbarengan dengan meninggalnya Ibrahim putra Muhammad SAW yang masih kecil hasil perkawinan beliau dengan Maria Qibtiah.
Orang-orang pada masa itu, ada yang mengaitkan kematian Ibrahim dengan kejadian gerhana. Namun Rasulullah SAW membantahnya dan mengajarkan nilai-nilai tauhid untuk menyikapinya. Al-Mughirah bin Syu’bah menceritakan:
“Terjadi gerhana Matahari pada hari meninggalnya Ibrahim putera Nabi s.a.w. Lalu orang banyak mengatakan: Gerhana Matahari terjadi karena meninggalnya Ibrahim. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya. Gerhana Matahari terjadi bukan karena meninggalnya seseorang atau karena hidupnya. Oleh karena itu, jika kamu melihat peristiwa gerhana, hendaklah kamu melaksanakan shalat dan berdo’a sampai gerhana berakhir.” (H.R. al-Bukhari & Muslim)
Jadi berdasarkan hadits di atas, maka yang benar bagi kita sekalian dalam menyikapi terjadinya gerhana adalah bergegas menj anganlah bersujud kepada matahari da janganlah (pula) bersujud kepada bulan, tetapi bersuudlah kepada Allah yang menciptakannya”alankan shalat gerhana, bertakbir, dan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala macam cobaan, bencana dan kesusahan.
Peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan bukanlah suatu tanda akan timbulnya suatu kejadian yang aneh dan mengkhawatirkan, tetapi sebaliknya menunjukkan kehebatan dan kekuasaan Allah. Kalau pun ada ketakutan yang muncul, takutlah kepada Allah yang menciptakan gerhana, bukan takut kepada gerhananya atau mitos-mitos yang tak jelas logikanya.
Gerhana hanyalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Dengan sains, kita bisa lebih banyak mempelajari ayat-ayat-Nya di alam ini. Gerhana memberi banyak bukti bahwa alam ini ada yang mengaturnya. Allah yang mengatur peredaran benda-benda langit sedemikian teraturnya sehingga keteraturan tersebut bisa diformulasikan untuk prakiraan.
Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (QS Ibrahim:33)
Pada awalnya orang-orang menganggap bahwa bumi yang diam, sedangkan bulan dan matahari yang mengitari bumi. Anggapan demikian disebut dengan konsep geosentris. Kemudian berkembang pemahaman bahwa matahari yang diam sebagai pusat alam semesta, benda-benda langit yang mengitarinya. Pemahaman ini disebut dengan konsep heliosentris.
Selanjutnya, semula manusia beranggapan bulan dan matahari juga dianggap punya cahayanya masing-masing. Tetapi Al-Quran memberi isyarat, bahwa walau terlihat sama bercahaya, sesungguhnya bulan dan matahari berbeda sifat cahayanya dan gerakannya. Al-Qur’an Surah Yunus: 5 menegaskan:
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS Yunus:5).
Ayat ini bukan hanya mengungkapkan perbedaan sifat cahaya bulan dan matahari, tetapi juga perbedaan geraknya. Perbedaan orbitlah yang menyebabkan matahari tampak tidak berubah bentuknya, sedangkan bulan berubah-ubah bentuknya sebagai perwujudan perubahan tempat kedudukannya (manzilah-manzilah) dalam sistem bumi-bulan-matahari. Kini sains bisa mengungkapkan sifat gerak dan sumber cahaya bulan dan matahari.
Walaupun matahari dan bulan tampak berjalan pada jalur yang sama, tidak mungkin keduanya bertabrakan atau saling mendekat secara fisik, karena orbitnya memang berbeda. Perjumpaan bulan dan matahari saat gerhana matahari hanyalah ketampakannya. Ketika matahari tampak terhalang oleh bulan yang berada di antara matahari dan bumi. Sebaliknya pada saat gerhana bulan, bulan dan matahari berada pada posisi yang berseberangan sehingga cahaya matahari yang mestinya mengenai bulan, terhalang oleh bumi. Bulan purnama menjadi gelap karena bayangan bumi.
Ilmu Pengetahuan menjelaskan fenomena yang sesungguhnya, menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Gerhana kita ambil hikmahnya, bahwa Allah menunjukkan kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya dengan fenomena itu.
Ketika kita menyaksikan peristiwa seperti gerhana ini, yang kita ungkapan: Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau (dari segala kekurangan), maka (ampunilah segala kesalahan penjelahan intelektual kami dan) peliharalah Kami dari siksa neraka.(QS.Ali Imran:191). (*)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!