Guru dan Permasalahannya

Ramlan Effendi, M.Pd

Ada dua peringatan yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan. Pertama, hari pendidikan nasional yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei. Kedua hari Guru yang senantiasa diperingati setiap tanggal 25 November. Pendidikan dan Guru merupakan dua kata yang berhubungan dengan usaha mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Jika pendidikan adalah lingkup yang luas, maka guru adalah kata khusus yang menjadi elemen pendukung pendidikan itu sendiri.
Banyak ahli yang mengatakan majunya pendidikan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas gurunya. Menurut Abraham Maslow, Kualitas seseorag ditentukan oleh seberapa besar motivasinya untuk melaksanakan tugas dengan sebaiknya.
Dalam teori motivasi menurut Abraham Maslow, terdapat 5 pokok kebutuhan manusia yang paling mendasar, antara lain: (1) Kebutuhan Fisiologis, (2) Kebutuhan Keamanan dan keselamatan, (3) Kebutuhan akan rasa cinta, (4) Kebutuhan Penghargaan, (5) Aktualisasi Diri. Kebutuhan itu merupakan sebuah hierarki, yang berarti jika kebutuhan pertama terpenuhi, barulah ia akan berusaha memenuhi kebutuhan berikutnya. Dan demikian selanjutnya sampai kebutuhan tertinggi.
Seberapa kuat motivasi guru dalam bekerja akan menentukan pencapaian dan tingkah lakunya dalam mendidik di sekolah. Jika guru masih berkutat pada motivasi yang paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis (pisik) dan keamananan dan keselamatan maka akan sulit mencapai tingkat kemuliaan yang tercermin dalam kebutuhan akan rasa cinta, penghargaan dan aktualisasi diri.
Saat ini ada banyak beban di pundak guru, yang hampir semuanya masih berada dalam motivasi mendasar tersebut. Mulai dari kurikulum yang dijalankan belum sepenuhnya di kuasai, sertifikasi guru yang masih belum tertata, mutu guru yang belum maksimal terbukti dengan rendahnya nilai rata-rata uji kompetensi guru (ukg) tahun 2012 sebesar 45,5 dan tahun 2015 masih dibawah 60. Berbagai turunan masalah guru sebagai bagian dari birokrasi baik PNS ataupun tenaga honorer.Permasalahan ini secara tidak langsung mempengaruhi motivasi terhadap pemenuhan kebutuhan guru.
Kesejahteraan dan Penghargaan Terhaadp Guru
Jika dulu, menjadi guru bukanlah pilihan utama para mahasiswa. Maka kini hampir semua perguruan tinggi memiliki fakultas keguruan ilmu pendidikan (FKIP). Hal ini menunjukkan betapa tingginya minat masyarakat (baca mahasiswa) untuk menjadi guru. Salah satu daya tarik itu adalah program sertifikasi guru.
Lahirnya undang-undang nomor nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, pada zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan perubahan besar bagi guru. yang salah satunya menciptakan program sertifikassi guru. Guru yang telah sertifikasi akan mendapatkan tunjangan sebesar satu bulan gaji pokok. Namun setelah kurang lebih 10 tahun berjalan, sertifikasi guru masih menyisakan permasalahan. Persyaratan jam mengajar 24 jam tatap muka bagi seorang guru membuat mereka seakan saling sikut dengan rekannya sesama guru. Sehinggalah kebijakan ini membuat guru mengajar di beberapa sekolah. Begitupun dengan jadwal pencairan tunjangan yang tidak menentu. Walaupun telah jelas bahwa tunjangan profesi guru dibayarkan setiap tiga bulan.
Hal ini bukan tidak mungkin membuat konsentrasi guru dalam mengajar berkurang. Bagaimana guru akan tenang mengajar jika setiap awal semester berjalan, mereka harap-harap cemas akan jumlah jam mengajar yang akan mereka dapatkan. Jika jam mengajar kurang, mereka terpaksa mencari kesama kemari tempat mengajar. Jika ini diperoleh, mereka pun terpaksa membagi konsentrasi mengajar di dua atau tiga sekolah. jika tidak diperoleh tempat mengajar, tentu saja tunjangan sertifikasinya tidak akan dibayarkan.
Sulit di bayangkan guru akan menjalankan tugas dengan baik, menjadikan sekolah sebagai taman pendidikan sebagaimana diharapkan pak Anies Baswedan dan Prof. Muhadjir Effendi jika tidak ada ketenangan guru dalam menjalankan tugasnya.Saat masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama pun pernah mengeluhkan hal tersebut dengan mengatakan kerja guru terfokus pada administrasi proses sertifikasi saja.

Baca Juga :  Ribuan Siswa Membaca Bersama Buk Ida

Perlindungan Hukum Terhadap Guru
Sudah banyak berita di media massa atapun televisi guru dilaporkan kepada polisi karena dituduh melakukan tindakan kriminal dalam menjalankan tugasnya. Tentu saja, guru bukan malaikat, bisa saja melakukan pelanggaran hukum. Jika memang benar melakukan tindakan kriminal harus dihukum. Namun Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7 ayat (1) huruf h mengamanatkan bahwa guru harus memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Berdasarkan kepada Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut di atas, perlindungan bagi guru merupakan hal yang mutlak. Sayangnya, banyak guru yang bekerja dalam ketidakpastian baik berkaitan dengan status kepegawaiannya, kesejahteraannya, pengembangan profesinya, atau pun advokasi hukum ketika terkena masalah hukum. Padahal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Kapolri telah menandatangai MOU tentang mekanisme penanganan perkara dan pengamanan terhadap profesi guru pada tahun 2012. Namun belum banyak pihak yang mengetahuinya.
Setiap guru tentu guru telah mempeajaribahwa dalam pembelajaran ada metode reward and punishment, di mana hukuman adalah sesuatu yang sah dalam pembelajaran. Meskipun ini bukan berarti membenarkan kekerasan yang dilakukan guru, namun bagaimana guru berani mendidik melalui berbagai metode yang dirasa lebih efektif. Sudah banyak berita di media massa atapun televisi guru dilaporkan kepada polisi karena dituduh melakukan tindakan kriminal dalam menjalankan tugasnya.
Tentu saja, guru bukan malaikat, bisa saja melakukan pelanggaran hukum. Jika memang benar melakukan tindakan kriminal harus dihukum. Namun Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7 ayat (1) huruf h mengamanatkan bahwa guru harus memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Berdasarkan kepada Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut di atas, perlindungan bagi guru merupakan hal yang mutlak. Tetapi sayangnya, banyak guru yang bekerja dalam ketidakpastian baik berkaitan dengan status kepegawaiannya, kesejahteraannya, pengembangan profesinya, atau pun advokasi hukum ketika terkena masalah hukum. Padahal dalam pembelajaran ada metode reward and punishment, di mana hukuman adalah sesuatu yang sah dalam pembelajaran. Meskipun ini bukan berarti membenarkan kekerasan yang dilakukan guru, namun bagaimana guru berani mendidik melalui berbagai metode yang dirasa lebih efektif. Karena itulah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Kapolri telah menandatangai MOU tahun 2012 tentang mekanisme penanganan perkara dan pengamanan terhadap profesi guru.
Namun, seberat dan sebanyak apapun masalah yang dihadapi guru, tetaplah optimis. Guru perlu menyadari mereka tengah membangun generasi untuk masa depan bangsa. Membangun pendidikan karakter dengan keteladanan guru adalah tugas mulia. Penghargaan dan jasa bukanlah tujuan. Namun berikanlahketenangan bagi guru dalam rangka melukis wajah masa depan Indonesia.
Penulis: RAMLAN EFFENDI M.Pd. Guru Matematika SMPN 2 Lahat

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!