Harga Pangan Mulai Naik

Ilustrasi

JAKARTA – H- 4 sebelum lebaran, harga-harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan kemarin (11/6). Daging sapi mencatatkan kenaikan paling signifikan. Harga daging rata-rata naik hingga mencapai rata-rata Rp118.000 per kilogram (kg). Di beberapa pasar tradisional Jakarta seperti pasar Grogol, Mayestik, dan Tanah Abang, Harga daging tertinggi Rp130 ribu per kg.
Komoditas lain yang mengalami kenaikan antara lain adalah ayam, cabai, dan daging sapi. Harga ayam sebelumnya ditegaskan oleh Kementerian Perdagangan melalui Permendag 62 Tahun 2018 bahwa harga ayam ditingkat eceran adalah sebesar Rp31.500/kg (Jatim dan Jateng), Rp33.000/kg (DKI, Jabar, dan Banten), serta Rp34.000/kg (luar Jawa).
Namun di sejumlah pasar di Jakarta kemarin, harga ayam telah mencapai harga Rp35.000 sampai 36.000 per kg. Harga tersebut, menurut salah satu pedagang, Abdullah, karena adanya demand yang tinggi dari konsumen. “Pada momen khusus dimana suplai dan demand tinggi, secara mekanisme ekonomi harga akan naik. Tapi kami akan terus awasi juga. Artinya jika kenaikan sudah di atas 30 persen itu baru yang tidak wajar,” tambah Abdullah.
Di samping ayam, harga cabai juga naik bervariasi antara Rp1.000-2.000 per kg. Misalnya saja cabai rawit merah yang dibanderol dengan harga Rp40 ribu/kg atau naik sekitar Rp1.500 dibandingkan sebelumnya. Kemudian cabai merah besar dihargai Rp42 ribu/kg atau naik sekitar Rp2.000 dibandingkan dengan awal Juni.
Sementara itu, harga ayam dan daging di ritel modern masih menunjukkan angka yang kondusif. Salah satunya di ritel Superindo, ayam dijual dengan harga Rp 32.950/kg. Sementara itu, daging sapi dijual dengan harga Rp9.995 per 100 gram.
Untuk mengantisipasi harga daging, sebenarnya pemerintah telah menginjeksi pasar dengan daging kerbau yang diimpor pada awal tahun lalu. Direktur Pengadaan Bulog Adrianto Wahyu Adi mengatakan, periode puasa-lebaran ini, Bulog sudah menggelontorkan 16.000 ton daging kerbau ke pasaran. “Tapi bisa saja memang masyarkat tidak terlalu suka daging kerbau,” katanya kemarin (11/6).
Meski demikian, jika dilihat dari serapan daging kerbau ini di pasaran, Adrianto mengatakan permintaan dari para distributor daging cukup kencang. “Ini juga membuktikan bahwa daging tersebut laris,” katanya.
Selain itu, saat ini stok daging di gudang Bulog sudah menipis. Hanya tersisa 4.000 ton. Adrianto mengatakan, Bulog bersiap mendatangkan lagi 34.000 ton dari india. “Pemasok juga sebenarnya kewalahan, ini berarti di dalam negeri masih laris,” katanya.
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Abdullah Mansuri menganggap kenaikan harga menjelang lebaran adalah wajar. Ia mengakui, bahan pangan di pasar tradisional mengalami sejumlah peningkatan. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, kurva permintaan yang tinggi jelang hari raya Idulfitri mengerek harga-harga bahan pangan tersebut. “Tren harga pada awal sampai pertengahan puasa tahun ini masih cenderung lebih baik dibanding tahun lalu. Namun kini mendekat hari raya, peningkatannya sama tingginya dengan tahun lalu,” ujar Mansuri, saat dihubungi kemarin (11/6).
“Pengawasan masih terus dilakukan. Khususnya untuk di pasar tradisional. Setiap jam saya pantau dan monitor laporan dari teman-teman pedagang tak hanya di Jakarta tapi juga di daerah-daerah lain,” pungkas Mansuri.
Anggota Komisi IV DPR Zainut Tauhid Sa’adi menuturkan, dalam rapat kerja komisinya dengan Kementan pada 4 Juni lalu, parlemen menyampaikan peringatan agar pasokan kebutuhan bahan pokok pangan bulan puasa sampai lebaran terpenuhi. Sehingga tidak memicu kenaikan harga dipasaran.
Namun ternyata mendekati lebaran, harga bahan pokok pangan seperti daging sapi dan ayam mengalami kenaikan. “Kami berharap Kementan, Kemendag, Bulog, dan Sagas pangan harus koordinasi,” jelasnya.
Zainut mengatakan ketika saat ini harga sudah mulai naik, harus dilakukan evaluasi dan antispasi secara serius. Supaya jangan sampai kenaikannya tidak terkontrol. Dia berharap kenaikan yang terjadi saat ini masih dalam tahap wajar, karena tingginya permintaan. Namuh politisi PPP itu mengkhawatirkan jika kenaikannya semakin tajam. “Perlu ada tindakan cepat untuk pengendalian. Seperti melalui operasi pasar,” pungkas Zainut. (tau/agf/wan)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!