Hotel Penuh, Tarif Naik Dua Kali Lipat

omestay 82 di Jl Gersik, Lr Katu No 1550, Sekip bersiap menyambut tamu Asian Games. Foto: Irwansyah/Sumeks

PALEMBANG – Kebutuhan penginapan atau sarana akomodasi saat penyelenggaraan Asian Games, 18 Agustus-2 September 2018 bakal tinggi. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel memproyeksi akan ada kunjungan 200 ribu atlet, ofisial, juga wisatawan ke Sumsel selama Asian Games nanti.

Ada lebih dari 1.500 media, 4.500 atlet, dan penonton dari seluruh negara peserta Asian Games akan hadir di Palembang. “Kita hitung saja dari lalu lintas penumpang domestik di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II saja mencapai 7.448 sehari. Semuanya tentu butuh penginapan,” jelas Kepala Disbudpar Sumsel, Irene Camelyn Sinaga.
Hanya saja, jumlah kamar hotel di Palembang ini kurang mengakomodir kebutuhan hanya mencapai 6.400 kamar. “Semuanya full di-booking kontingen Asian Games dari berbagai negara. Untuk tamu undangan serta wisatawan sekarang sudah mulai kesulitan mem-booking kamar,” ujar Irene.

Untuk itu, kata Irene, harus ada pilihan lain untuk mendukung sarana akomodasi dan peluang ini yang harus ditangkap pemilik homestay atau warga di Metropolis. “Di Palembang ini homestay sebenarnya sudah berkembang. Tapi yang terdaftar dan memiliki usaha perizinan tidak banyak, jumlahnya hanya sekitar 28 homestay. Namun kami yakin yang tidak terdaftar lebih dari itu,” jelasnya.

Karena itu, kalaupun ada warga yang berminat memanfaatkan rumahnya menjadi homestay silakan saja. “Bisa lewat Disbudpar atau koordinator homestay. Mereka juga bisa promosi sendiri baik langsung maupun via media sosial (medsos) untuk gaet wisatawan. Tidak harus terkoordinir,” jelasnya. Diakuinya, Disbudpar pun tak memberikan aturan khusus, bahkan lokasi homestay bebas bisa di mana saja.

Standar pelayanan juga tak mesti seperti hotel. “Homestay ini bukan hotel atau kos-kosan. Tapi ada rumah induknya (rumah warga) misal dari 3 kamar disewakan 1 kamar. Ada lingkungannya dan wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan pemilik rumah,” jelasnya. Suasana atau standar layanan juga natural seperti aslinya, bahkan rumah-rumah kecil juga bisa disewakan sepanjang wisatawannya berminat.

“Di Bali yang jadi homestay justru rumah-rumah desa. Tidak harus rumah mewah,” cetusnya. Tarif sewanya juga tidak diatur dan tentatif, di luar negeri tarif homestay bahkan bisa lebih mahal dari hotel-hotel bintang. Walau begitu, agar pemilik homestay bisa mengelolanya dengan baik, pihaknya tetap memberikan pelatihan atau workshop bagi mereka.

Selain itu, Kementerian Pariwisata saat ini juga tengah galakkan nomadic tourism. Dimana tenda, minivan, dan alat transportasi disulap menjadi tempat menginap semipermanen. Nomadic tourism ini bisa mengalahkan hotel, penginapan, dan homestay karena biaya yang dikeluarkan konsumen sangat murah. “Nomadic tourism sudah diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia. Asian Games juga akan menerapkan konsep yang sama. Nanti ada sekitar 50 kamar berdiri di lahan satu hektare di Dekranasda,” ucapnya.

Setelah Asian Games, nomadic tourism tak hanya diterapkan di Palembang juga Pagaralam. Agar mudah menjangkau tempat wisata yang letaknya jauh dari penginapan. Dijelaskan Irene, konsep nomadic tourism merupakan terobosan baru di dunia pariwisata. “Seperti aplikasi pemesanan tiket dan hotel yang mengalahkan travel agent. Jadi kami harap, pelaku industri bisa berlomba memberikan pelayanan dan sajian menarik di homestay yang dikelolanya,” bebernya.

Terpisah, Staf Khusus Ketua Umum Panitia Penyelenggara Asian Games (Inasgoc), Nirmala Dewi menyebut ribuan wisatawan akan berkunjung di Asian Games, selain atlet dan ofisial. “Pelaku homestay bisa mengambil peluang itu. Tapi bidikan konsumennya tetap hanya wisatawan atau suporter saja,” terangnya.

Untuk atlet dan ofisial, sesuai aturannya akan diinapkan di lokasi steril. “Atlet hanya diperbolehkan menginap di wisma atlet, sedangkan ofisial tim di hotel-hotel yang sudah disetujui Inasgoc,” ujarnya. Untuk wisatawan, suporter, dan lainya, Inasgoc tidak memberi aturan khusus. Jadi tidak masalah, jika mereka tertarik menginap di homestay.

Hanya saja, lanjut Dewi, dia mengimbau saat Asian Games 2018, nanti pihak pengusaha homestay bisa memberikan fasilitas berstandar baik. “Bukan berarti asal-asalan saja,’ tuturnya. Seperti fasilitas tempat tidurnya, tingkat kebersihan, baik itu kamar mandi atau ruangannya dan fasilitas pendukung lainnya. “Kami harap sesuai standar layak,” jelasnya.

Salah satu homestay yang memang sudah disiapkan untuk menyukseskan Asian Games yaitu Homestay 82 di Jalan Gersik Lorong Katu, Nomor 1550, Sekip Palembang. Jika melihat fasilitasnya, homestay ini memang cukup direkomendasikan. Selain kamarnya bersih, lokasi juga strategis di pusat kota.

“Untuk fasilitas, kita hampir sama dengan hotel. Setiap kamar punya satu tempat tidur, AC, TV, dan kamar mandi yang dilengkapi air panas,” terang Tazwin, pengelola Homestay 82. Homestay 82 salah satu penginapan berbasis syariah dan memang baru dibangun setahun terakhir. “Ada 17 kamar, dengan tarif sekitar Rp300 ribu per malam. Insya Allah kami siap sukseskan Asian Games 2018,” bebernya.

Sekretaris BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel, Solahuddin menjelaskan, saat ini banyak homestay yang langsung promosi via online seperti di Traveloka, Pegi-Pegi, dan lainnya. “Tapi ya memang masih perlu ditertibkan. Selain tak punya izin dan mengambil pangsa pasar hotel, banyak juga homestay itu justru indekosan dan sejenisnya,” jelasnya.

Kalaupun harus berdayakan homestay, harus dibekali dengan ilmu hospitality dan management hotel. “Paling penting memuat informasi terkait penyelenggaraan Asian Games sehingga wisatawan mudah menjangkau lokasi,” jelasnya. Dikatakan, kamar hotel itu sebenarnya cukup dipakai jika dioptimalkan, total mencapai 12 ribu kamar. Tapi sekarang kan hotel yang terpakai itu bintang 3, 4, 5, sementara bintang 1, 2 dan nonbintang belum sama sekali. Meski begitu, standar pelayanan terus dibenahi.

Dikatakan, semua hotel bintang itu sudah full booking. “Sekarang tarif hotel momen Asian Games juga sudah naik semua. Bintang 3 ke atas rata-rata jutaan, bintang 2 mencapai Rp750 ribu, dan nonbintang sampai Rp500-600 ribu. Tarif rata-rata naik dua kali lipat dari tarif reguler,” pungkasnya.

Nah, PHRI tidak bisa membatasi. Apalagi momennya saat ini, berlaku demand dan suplai. Bangkitnya gairah perhotelan diakui Solahudin tak lepas dari dampak Asian Games, dimana Palembang salah satu tuan rumah. Saat bulan puasa kemarin, okupansi hotel sempat drop di bawah 50 persen. Peningkatan mulai terjadi seminggu pasca-Lebaran Idulfitri.

“Sekarang ini banyak yang datang ke Palembang,” jelasnya. Mereka di antaranya para atlet yang mengikuti test event. Multiplier effect Asian Games akan juga dirasakan hotel-hotel bintang 1-3.

“Semakin mendekati hari H, multiplier effect Asian Games di Palembang ini akan dirasakan juga oleh hotel bintang 1 dan 2,” katanya. Jika para tamu penting atau pembesar dari negara-negara peserta Asian Games memilih hotel bintang 4 dan 5, maka wisatawan domestik akan menyasar hotel bintang dengan tarif lebih murah.

Beberapa hotel bintang 4 dan 5, ada yang kamar-kamarnya sudah di-booking kedubes negara peserta Asian Games. “Bahkan ada yang sudah dibayar, tinggal masuk,” katanya. Para tamu “tajir” itu informasinya dari negara Timur Tengah.

General Manager (GM) The Zuri Hotel and Convention Palembang, Darwin Siahaan, menyatakan, okupansi meningkat, tapi belum signifikan. Berbagai event pelengkap Asian Games, seperti AFF Women Championship memang menyumbang tamu. Lantaran, atlet dan ofisial klub sepak bola dari beberapa negara menginap di sana.

“Saat ini okupansi kita di atas 65 persen untuk seluruh tipe kamar. Ada peningkatan sampai 15 persen dibandingkan hari-hari biasanya,” jelasnya. Ia pun mengakui, untuk event Asian Games nanti beberapa kamar masih bisa direservasi. Sebagai salah satu hotel baru, dengan fasilitas lengkap dan terintegrasi dengan mal, ia optimistis pada saat event berlangsung bisa mencapai okupansi hingga 100 persen.

“Apalagi kita punya sky pool tertinggi, sky lounge terindah, dan sky gym terlengkap di Palembang yang bisa dimanfaatkan atlet dan ofisial dan tamu,” ujarnya. Director of Sales Princess Hotel Lala Zahra mengakui Princess Hotel saat ini okupansi naik dari 70 menjadi 80 persen. Bahkan pada saat akhir pekan bisa mencapai 85-95 persen.

“Ini juga dipengaruhi oleh masih dalam suasana liburan sekolah,” katanya. Pihaknya pun lakukan renovasi kamar sebagai bagian dari persiapan menyambut tamu-tamu saat Asian Games. (cj16/cj11/kos/fad/ce1)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!