Ican “Belut” Pasrah Divonis Mati

VONIS MATI: Irsan alias Ican "Belut" dikawal jaksa usai divonis mati, kemarin. Foto: M Hatta/Sumatera Ekspres

PALEMBANG – Sepanjang tahun 2017, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Palembang telah menjatuhkan tiga vonis mati terhadap tiga terdakwa dalam kasus berbeda. Pada 18 April, pidana mati diberikan terhadap Chong Kim Tiam, warga negara Malaysia yang terjerat kasus narkoba.
Setelah itu, 25 Oktober, vonis mati juga diberikan terhadap terdakwa Suryanto alias Kempol yang membunuh pacarnya, Soniya, mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Palembang.
Kemarin (6/12), majelis hakim yang diketuai oleh Subur Prasetiyo SH memvonis mati terdakwa pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Putri (8), Irsan alias Ican “Belut”.
Dalam amar putusannya, majelis hakim sependapat dengan tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), M Purnama Sofyan SH. Ketika itu, terdakwa Ican dituntut dengan pidana mati. Terlebih lagi, dari kesaksian dan barang bukti yang dihadirkan di persidangan, telah membuktikan tindakan yang dilakukan oleh terdakwa ini telah direncanakan sebelumnya.
Vonis mati terdakwa sesuai pasal 340 Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pasal 81 ayat (1) Jo Pasal 76 D UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Dan semua unsur dari pasal tersebut sudah terpenuhi secara keseluruhan. “Artinya, tidak ada yang meringankan. Apalagi terdakwa juga sebelumnya sudah pernah dihukum,” kata Ketua majelis hakim, Subur Prasetuyo SH.
Walau begitu, terdakwa dan penasihat hukumnya diberi kesempatan untuk berpikir selama seminggu. Mau banding atau menerima vonis itu. “Silakan dipikir dulu, sebab ini vonisnya tidak main-main,” kata Subur.
Kuasa hukum terdakwa dari Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Sejahtera Palembang, Eka Sulastri SH dan A Rizal SH mengatakan, pihaknya memilih untuk berpikir dulu.
Walaupun, terdakwa Ican sudah pasrah dengan vonis mati terhadapnya. “Intinya semua kami kembalikan ke terdakwa. Tapi, kami sarankan untuk mengajukan banding, bila tidak akan langsung mempunyai kekuatan hukum tetap atau inkracht,” tutur Eka.
Jatuhnya vonis mati terhadap Ican disambut baik keluarga korban. “Alhamdulillah, majelis hakim masih mempunyai hati nurani dan melihat perkara ini secara jelas dan nyata,” ulas Mas’ud, kakek korban.
Dia menilai, tidak ada hukuman yang setimpal selain hukuman mati. Dengan vonis itu, bukan hanya dirinya saja yang merasa bersyukur. Tapi juga semua masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Apalagi selama masih dalam pelarian sebelum ditangkap, terdakwa sudah membuat masyarakat menjadi resah dan tidak bisa tidur mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya.
Kata Mas’ud, seluruh warga menolak dengan tegas mayat terdakwa dikuburkan di Kertapati seandainya vonis benar-benar dilaksanakan. “Kami tidak sudi menerimanya. Lagi hidup saja kita tidak menerimanya apalagi sudah mati. Kalau mau dikubur nantinya, silakan cari tempat lain,” cetusnya disambut pekik takbir oleh puluhan kerabat dan tetangga korban.
Sekadar mengingatkan, perbuatan terdakwa berlangsung Jumat (19/5) pukul 15.00 WIB di dalam kamar rumah milik Mbah Jumilah, nenek terdakwa. Awalnya, terdakwa memanggil korban untuk masuk ke dalam rumah milik Mbah Jumilah di Jl Ki Merogan Lr Aman I, Rt 23 RW 09, Kelurahan Kertapati, Kecamatan Kertapati.
Setelah masuk ke rumah itu, korban mengalami kekerasan seksual. Karena melawan dan korban berteriak, membuat terdakwa naik pitam dan mencekik korban hingga tewas. Setelah tewas, korban kembali diperkosa terdakwa. Untuk menghilangkan jejak, terdakwa kemudian memasukkan jasad siswi sebuah SD itu ke dalam karung. Karung berisi mayat korban itu kemudian diletakkan di bawah ranjang. (afi/ce2)

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!