Idulfitri dan Fitrah Kemanusiaan

Ismail Sukardi

Umat Islam sedunia masih menikmati suasana Hari Raya Iedul Fithri 1439 H. Ada baiknya kita merenungkan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Iedul Fithri tidak sekedar dirayakan dengan pakaian baru dan menyantap makanan khas Hari Lebaran, tetapi ada beragam makna positif yang bersifat spiritual dan filosofis yang dapat kita pahami dan selanjutnya makna-makna ini dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Antara “IedulFithri” dan “Kembali kepada Fitrah”
Ada sebagian pendapat mengatakan makna Iedul Fithri bukanlah “kembali kepada fitrah”, karena akar kata pada frase “IedulFithri” memiliki makna berbeda.Ied bukan bermakna “kembali”, tetapi berarti “hari raya” (bentuk jamaknya a’yad). Sedangkan “kembali” berasal dari kata ‘aada-ya’uudu-‘audatan. Jadi kata yang digunakan untuk “kembali” adalah ‘audah bukan ‘ied.
Adapun kata fithri bermakna “makan” atau “makanan”, seakar dengan kata ifthar (berbuka puasa). Ini berbeda dengan kata fitrah (ada tha’marbuthah) yang bermakna “kesucian” atau “agama Islam”. Jadi menurut pendapat ini “Iedul Fithri” lebih tepat dimaknai “Hari Raya Makanan”, yang berarti bahwa di hari itu tanggal 1 Syawwal, semua umat Islam merayakan hari di mana mereka dapat kembali menyantap makanan pada siang hari. Adapun “kembali kepada kesucian” bahasa Arabnya: ‘audah al-fithrah.
Dari segi bahasa dapat saja makna IedulFithri adalah “Hari Raya Makanan”, akan tetapi secara substantif mestinya apa yang dirayakan pada 1 Syawwal, lebih dari sekedar merayakan hari dimulainya kembali memakan makanan pada siang hari. Peringatan Iedul Fithri harus dimaknai pula secara substantif dan spiritual. Peringatan IedulFithri adalah symbol kemenangan fitrah sejati kemanusiaan kita kaum Muslimin yang telah berhasil menempa dirinya selama sebulan penuh melalui pendidikan ibadah puasa.
Makna substatif dan spiritual peringatan Iedul Fithri dapat dipahami melalui hakikat ibadah puasa yang berfungsi sebagai sarana dan mekanisme pemeliharaan fitrah kemanusiaan sejati manusia, yaitu sebagai basyar yang sejak semula terlahir sempurna secara jasmaniah, dan sebagai ‘abdullah (hambaAllah) yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan beribadah atau taat secara murni hanya kepada Allah swt. Inilah yang disebut sebagai predikat mukhlisin dan muttaqiin.Fitrah secara bahasa adalah: sifat, watak, atau tabiat awal/asal ketika pertama kali diciptakan.
Memelihara Fitrah Jasmaniah
Dari segi jasmani, manusia disebut dengan istilah al-basyar dalam Alquran, yaitu makhluk jasmaniah/biologis. Kadang-kadang juga digunakan istilah al-insan untk menunjuk manusia sebagai makhluk fisik dan psikis sekaligus. Sebagai basyar manusia secara fitrah diciptakan dalam “sebaik-baik bentuk” (fii ahsani taqwiim) dengan jasmani dengan system dan organ yang sempurna melalui suatu proses biologis yang digambarkan secara detail dalam Q.S. Al-Mu’minun: 12-14
Manusia yang fitrahnya sebagai basyar kemudian dilengkapi dengan hati dan pancaindera, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-Nahl (16): 78). Selama sebelas bulan sebelum Ramadhan pada tahun 1438 H yang lalu, boleh jadi kita telah menodai fitrah kemanusiaan jasmaniah kita dengan mengedepankan hawa nafsu badani misalnya dengan pola makan yang berlebihan, konsumtif, asupan gizi yang tidak seimbang, dan sebagainya. Padahal Alquran memberikan petunjuk agar kita makan dan minum tidak berlebih-lebihan. (QS Al-A’raf: 31). Akibat perilaku konsumsi yang tidak seimbang itu, maka kesempunaanfitrah jasmaniah kita tereduksi, system dan organ tubuh yang tadinya normal terdistorsi, kesehatan kitapun terganggu (dapat saja dalam bentuk gangguan organ pencernaan, jantung, liver, ginjal, dan sebagainya), dan bahkan penyakit-penyakit potensial akan timbul.
Melalui puasa, jasmani dilatih dan dibiasakan untuk hidup seimbang.Pencernaan diistirahatkan pada siang hari, dan sebagainya. Maka wajar dalam suatu kesempatan Nabi Muhammad SAW menyatakan: “Berpuasalah kamu sekalian, maka kalian akan menjadi sehat (Hadits). Secara medis telah diakui bahwa puasa adalah salah satu terapi ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Memelihara Fitrah Spiritual
Dari segi spiritual manusia adalah “makhluk yang bertuhan”, artinya secara fitrah manusia itu sejak awal memliki potensi untuk mengakui adanya Tuhan yang Maha Esa, Allah swt. Dengan potensi itulah maka Nabi Ibrahim as, terdorong untuk mencari Tuhan dan mengidentifikasi siapa yang berhak diakui sebagai Tuhan. Melalui akalnya yang terbatas Ibrahim a.s. awalnya mengira Tuhan itu bulan atau matahari. Setelah mendapatkan wahyu barulah ia tahu bahwa tuhan sejati itu adalah Allah SWT (Q.S. Al-An’am (6): 75-78)
Mengapa secara fitrah manusia cenderung “bertuhan”?.Menurut petunjuk Alquran manusia itu ketika di alam rahim pernah melakukan perjanjian awal dengan Allah SWT.“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil perjanjian dari tulang sulbi anak-cucu Adam, dan Dia meminta mereka bersaksi atas-Nya: bukankah Aku-lah Tuhanmu?Mereka (anak-cucu Adam) mengatakan: Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami bersaksi”. (Q.S Ala’raf: 172).
Maka sesungguhnya dari rahim ibu ibu kita sudah dalam keadaan bersyahadat, menyaksikan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan kita. Maka wajar ketika kita lahir kita dalam keadaan fitrah, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (beragama Islam: bertauhid), maka bapa-bapaknya (atau miliunya) yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani (Hadits).
Pengertian fitrah sebagai agama Islam atau agama Tauhid juga dijelaskan di dalam Alquran:. “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama hanif (agama Islam/agama Tauhid), fitrah Allah yang dengan fitrah itulah manusia diciptakan, itulah agama yang lurus, tetapi banyak dari manusia yang tidak mengetahuinya”(Q.S. Ar-Rum (30): 30). Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan membawa fitrah di dalam dirinya, yaitu fitrah agama hanif, agama yang lurus, agama Islam/agama Tauhid.
Agama yang lurus (dinul hanif; dinul qoyyim), bertumpu kepadadoktrin Lailahaillallah, yang bermakna tiada tuhan/ilah (yang wajib disembah) selain Allah. Jadi Allah-lah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, Allah lah satu-satunya Tuhan yang Maha memiliki menguasai, Allah lah satu-satunya Tuhan yang mencipta, Allah-lah satu-satunya Tuhan yang Maha mengetahui, Maha memberikan pertolongan, dan seterusnya. Maka kita dilarang menghamba kepada selain Allah, meminta pertolongan dan rezeki kepada selain Allah, beribadah karena pamrih minta dilihat oleh makhluk. Jika kita melakukan ini sesungguhnya kita sudah jatuh ke dalam dosa Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Menganggap ada yang lebih penting selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mempersekutukan Allah dalam berbagai bentuknya. Tidak hanya menyembah dalam pengertian ritual tetapi bahkan ketika kita lebih mementingkan tuhan-tuhan kecil yang bernama harta, tahta, dan wanita, sehingga kita lupa dan lalai menjalankan perintah dan larangan Allah maka sesungguhnya kita sudah terjebak kepada perbuatan syirik walaupun itu syirik yang tersembunyi (syirikkhafiy). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-quran: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?(Q.S Al-Jatsiyah: 23).
Dengan kata lain, dari segi Tauhid manusia itu sejak awal diciptakan jiwanya suci dari segala dosa syirik, bersih dari segala bentuk penghambaan kepada tuhan-tuhan selain Allah SWT (berhala, dewa-dewa, dan segala makhluk yang dipertuhankan), termasuk tuhan-tuhan kecil dalam bentuk hawa nafsu. Maka dalam proses kehidupan kita selanjutnya, sejak aqilbaligh (berakal dan mampu membedakan benar dan salah), menjadi remaja, orang dewasa, orang tua, dan sampai ketiga meninggal dunia tugas kita adalah terus-menerus memelihara fitrah spiritual ini. Puasa di bulan Ramadhan dan berbagai ibadah yang kita lakukan adalah mekanisme atau carauntuk menjaga fitrah ketauhidan kita ini.
Dalam konteks ini puasa Ramadhan melatih kita untuk ikhlas, lillahi ta’ala. Sabda Nabi SAW: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan kesungguhan mengharapkan ridho Allah, maka diampuni oleh Allah dosa dosa yang telah lalu (Hadits). Hadits ini menunjukkan bahwa ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan diperoleh kita melakukan puasa selama bulan Ramadan kemarin benar-benar didasari niat tulus ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah Subhanahu wa ta’ala. Puasa adalah ibadah rahasia yang hanya kita dan Allah saja yang tahu. Maka dengan karakteristik ibadah puasa semacam itu, wajar kalau dalam satu Hadis Qudsi Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya” (Hadits).
Bukan hanya ibadah puasa, tetapi apapun ibadah yang kita lakukan sesungguhnya harus didasari niat semata-mata mencari ridho Allah swt. Dalam satu ayat al-qur’an Allah swt menegaskan “Katakanlah sungguh nya sholatku ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam” (Q.S Al-An’am (6): 162).Firman Allah ini kemudian kita adopsi menjadi janji setia yang selalu kita ucapkan doa iftitah setiap kali kita melakukan salat. Kita berjanji kepada Allah untuk senantiasa menjadikan ibadah kita, shalat kita, hidup dan mati kita semata-mata untuk Allah dan karena Allah bukan karena untuk selain Allah.
Dalam satu Hadis diceritakan ada tiga orang saleh yang datang kepada Allah membawa pahala ibadahnya selama dia hidup di dunia.Yang satu seorang yang mati syahid dalam perang membela agama Allah; yang satu lagi adalah ahli agama dan ahli membaca Alquran suaranya merdu; dan yang satu lagi adalah ahli sedekah. Ketiganya satu persatu datang menghadap Allah swt untuk menagih janji surga yang akan diberikan oleh Allah swt. Ketika ditanya oleh Allah apa amalan mereka selama di dunia sehingga mereka merasa pantas mendapatkan surga, masing-masing menjawab bahwa mereka telah melakukan amal saleh, yaitu berperang membela agama Allah, membaca Alquran dan mendakwahi umat, dan sedekah menyantuni kaum du’afa. Akan tetapi ketiga-tiganya ditolak oleh Allah swt. Dia menyatakan bahwa memang benar kalian melakukan ibadah-ibadah itu selama di dunia, tetapi niat terbesar yang ada di dalam hati kalian adalah dilihat oleh manusia.Yang berperang di jalan Allah ingin dinilai sebagai pahlawan; yang ahli membaca al-quran dengan suara merdu ingin dipuji oleh manusia; sedangkan yang yang rajin bersedekah ingin dipandang sebagai dermawan. Ketiga-tiganya ini kemudian dilemparkan oleh Allah swt ke dalam neraka jahanam, na’udzubillah Min dzalik.
Setelah melewati pelatihan keikhlasan atau kemurnian Tauhid melalui puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, adalah wajar dan pantas jika pada Hari Raya Iedul fithri kita merayakan kembalinya jiwa-jiwa kita kepada jati diri sebagai manusia Tauhid yang siap menerapkan keikhlasan dalam bentuk ibadah pasca Ramadhan. Maka pada saat takbir, tahmid, tasbih dan tahlil kita pada 1 Syawwal yang lalu, seluruh umat Islam di dunia mengiringinya dengan ucapan: wama umiru illa liya’budullaaha muhlisin lahuddiin(Q.S Al-Bayyinah:5). “Tidak Aku perintahkan kepada kamu sekalian kecuali beribadah kepada Allah ingin memurnikan ketaatan kepadanya dengan menjalankan agama secara lurus”.Inilah bukti bahwa ada hubungan yang kuat antara Hari Raya Iedulfithri dengan pemeliharaan fitrah para shaimin sebagai seorang mukhlishiin.Demikianlah, wallaahu a’lamu bimuraadihi.

Oleh : Ismail Sukardi
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Raden Fatah

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!