Indahnya Perbedaan

Cerpen Ismed Chandra, M. Pd.

Sinar mentari pagi perlahan memancarkan cahayanya keseluruh penjuru alam semesta, melimpahkan anugerah untuk seluruh makhluk ciptaan-Nya. Sekuat tenagaaku lawan tubuhku yang masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur, dengan penuh semangat aku ambil handuk dan akupun pergi ke kamar mandi. Hari ini terasa sangat berbeda dengan hari-hari biasanya, karena hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah yang baru, karena orangtuaku baru saja dipindahkan dari tempat kerja yang lama, oleh karena itu sekolahku juga harus pindah. “Nang, sudah siap berangkat ke sekolah?” tanya Bapak, “Siaap Pak!” sahutku, “Ayo kita berangkat!” ajak Bapak. Setelah berpamitan dengan Emak, kamipun berangkat ke sekolah baruku.
Tiba disekolahku yang baru, aku disuruh Bapak menunggu di depan ruang kepala sekolah karena Bapak ingin bertemu dengan kepala sekolah, sejenak mataku berkeliling menelusuri tiap-tiap sisi sekolahan, “Wahh!, Alangke besak dan bagusnye sekolah ini, laen nian dengan sekolah lameku” bisikku. “Nang…!” terhentakku mendengar suara Bapak memanggil, “Ao, Pak!”, jawabku kaget. “Ini kepala sekolah barumu”, lanjut Bapak, akupun langsung memberi salam dan mencium tangan Ibu Kepala Sekolah, “Rajin-rajinlah belajar ya nak, biar jadi anak yang pintar dan jangan nakal ya!” sapa Ibu Kepala Sekolah sambil mengusap-usap kepalaku, “Ya Bu!” jawabku.
Beberapa saat kemudian, akupun di bawa menuju ruang kelas dan diperkenalkan di depan kelas. “Anak-anak hari ini kalian mempunyai teman baru” sambut IbuGuru, “Ayo nak perkenalkan namamu pada teman-temanmu” lanjut Ibu Guru. Dengan sedikit nervous, akupun mencoba memperkenalkan diriku, “Perkenalkan teman-teman, name sayeAnang Ramadhan, saye asalnye dari SD 01 Desa ……”, “Woi Wong Doson..! Hhhhh” tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang murid yang di sambut oleh tawa murid-murid yang lain. “Tenanganak-anak, jangan ribut!” perintah Ibu Guru, akupun akhirnya disuruh Ibu Guru duduk di bangku yang telah disediakan.
Sudah seminggu aku menjadi siswa di sekolah baruku, tetapi aku masih sering sendirian, aku tidak punya banyak teman karena mereka tidak mau berteman denganku, apalagi Rian, anak yang meneriakiku Wong Doson ketika aku memperkenalkan diri waktu itu, dia dan teman-temannya masih sering mengejekku, dikelas hanya Apri teman sebangkuku yang sering mengajakku bermain, dia anaknya ramah dan baik hati.
Karena tidak ada teman, aku sering menyendiri di kelas, bahkan ketika jam istirahat aku juga tetap berada di kelas sendiri, aku merasa minder kalau mau ikut bergabung bermain dengan anak-anak yang lain, pernah sekali kucoba ikut ngobrol, dengan pede ku hampiri anak-anak yang lain, “Lagi ngobrolin apa kance eh teman-teman?” sapaku, merekapun hanya tersenyum sinis, “Ohh.. kami lagi membahas game online sama Play Stations” jawab Idris, “Kamu suka main game onlineapa?” tanya Erik kemudian, dengan polos ku jawab “Game Onlineitu apa?” merekapun semua menertawaiku, “Dasar Doson..game online saja tidak tahu hhhhh!!”, sejak saat itu akupun berpikir lebih baik menyendiri daripada aku terus menjadi bahan olok-olokan, karena aku tidak terbiasa dengan gaya hidup anak-anak di kota.
Hari demi hari berlalu, aku semakin merasa tidak nyaman, bahkan aku juga kurang bersemangat untuk pergi ke sekolah, hampir setiap hari aku diejek karena bahasaku yang berbeda, karena aku masih sering menggunakan bahasa daerah asalku, bukan cuma bahasa, dalam permainanpun aku juga sering diejek, mereka setiap waktu bicara tentang game online, play stations atau game-gameyang lainnya yang aku tidak tahu, karena aku memang terbiasa bermain permainan-permainan tradisional yang biasa aku mainkan bersama teman-temanku di desa.
“Nang.. gerak” panggil Emak dari bilik kamar, “Ao!” jawabku pelan, “Ini la jamberape, gektelat ke sekolah! Payo gancanglah mandi tros makan!” perintah Emak, “Mak, aku lagi dak lemak awak, awakku gelegasan!” sambungku, “Lho, kau demam Nang?” tanya Emak dengan perasaan khawatir, “AoMak!” jawabku pelan, “Sudah men cak nto, kau tunak be di rumah dak usah ke sekolah,gek namba demam!” nasihat Emak.
Sebenarnya aku tidak sakit, tapi hanya berpura-pura karena aku tidak mau ke sekolah, untuk apa ke sekolah kalau hanya jadi bahan olok-olokan anak-anak di sana.
Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah, sebenarnya aku tidak mau berbohong kepada orang tuaku, tetapi aku tidak punya cara lain, karena aku malu ke sekolah. “Assalamu’alaikum!” tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah, “Waalaikum salam!” jawabku sambil membuka pintu rumah, “Ehh.. Apri… Rika … masuk!” ajakku, “Bagaimana keadaanmu sekarang Nang?” tanya Apri, “Ya masih lemas, Pri!” jawabku pelan, “Kami disuruh oleh Ibu Guru untuk melihat keadaanmu, Nang, karena kamu sudah tiga hari tiga masuk “ sambung Rika, “Ya kata Ibu Guru, nanti kamu ketinggalan pelajaran lho” lanjut Rika “Ya aku sebenarnya mau ke sekolah, tapi ku malu…”, “Malu kenapa, Nang?” tanya Apri, “Emm,,, malas maksudnya”sahutku agak nervous. “Ayo anak-anak diminum!” tiba-tiba Emak muncul, “Ya bu, terima kasih!” sahut Apri dan Rika; “Ibu tinggal ya, silakan ngobrol-ngobrol!”, “Terima kasih, Bu!” sahut Apri dan Rika tersenyum.
Hampir 30 menit kami berbincang-bincang, banyak hal yang kami perbincangkan mulai dari pengalamanku sekolah di desa hingga cerita lain yang seru. Apri dan Rika memang anak yang baik, mereka tidak mengejekku kalau aku salah ucap atau ada sesuatu yang aku tidak mengerti, mereka justru menjelaskan apa yang tidak kuketahui.
“Sudah sore Nang, kami pulang ya!”sahut Apri, “Ya nih, sudah sore nanti kita dicariin sama orangtua kita!” lanjut Rika, “Oh ya, terima kasih ya, sudah datang menjenggukku!” ucapku, “Ya sama-sama! Semoga besok kamu sudah bisa masuk sekolah!” lanjut Apri, kuhanya tersenyum tidak bisa berkata-kata, setelah berpamitan dengan Emak, merekapun pulang,”Ternyata tidak semua anak-anak membenci dan suka mengejekku, besok aku akan sekolah!” bisikku dalam hati.
Keesokan harinya akupun memberanikan diri berangkat ke sekolah, walaupun perasaan khawatir akan ejekan dari anak-anak yang tidak menyukaiku masih bergelantungan di benakku, benar saja baru selangkah kakiku masuk ke dalam kelas, lontaran peluru sudah menghampiri wajahku, “Ehh wong doson datang,.. udah sembuh anak manja .. hhhh!” sahut Rian. Serasa bom yang meledak di atas kepala, rasanya sudah tidak kuat lagi aku menahan amarah yang selama ini terpendam, “Heii, jelek! beraninya cuma mengejek orang, sini kalau berani!”tantangku, seketika perkelahianpun tidak bisa terhindarkan, dengan membabi buta aku lawan anak-anak yang sering mengejekku.
“Heyy… hentikan anak-anak!” tiba-tiba terdengar suara Ibu Guru datang, sekejap mata kami yang berkelahi terdiam membeku, “Kalian ini mau jadi apa!, pagi-pagi sudah berkelahi, Rian, Erik, Anang kenapa berkelahi!” tanya Ibu Guru, tidak sepatah katapun yang terucap dari mulut kami… “Mereka sering mengejek Anang, Bu!” tiba-tiba terdengar suara Apri menjelaskan. “Benar itu, Rian .. Erik!” tanya Bu Guru, “Ya… Bu!!” beberapa anak yang lain membenarkan, “Ohh, kenapa kalian bersikap begitu!” tegas Bu Guru kepada Rian dan Erik. Tanpa jawaban mereka terdiam seribu bahasa, “Ya sudah kalian berdiri di depan kelas sampai jam istirahat!” perintah Bu Guru.
“Anak-anak tahu tidak kenapa mereka berkelahi?” tanya Ibu Guru sambil melirik ke hadapan kami bertiga, “Karena saling ejek, Bu!” jawab Rama, “Ya bagus, ada yang punya jawaban yang lain?” sambung Bu Guru, “Karena mereka bermusuhan, Bu!” jawab Rini, “Ya Benar!”. “Mereka berkelahi karena mereka tidak saling menghargai, mereka tidak menghargai perbedaan, padahal setiap makhluk hidup yang diciptakan Tuhan memiliki perbedaan!”, jelas Bu Guru, “Kita berasal dari daerah yang berbeda-beda, begitu pula dengan bahasa yang kita pakai juga berbeda-beda, adat-istiadat, kebiasaan kita juga berbeda!” terang Bu Guru. “Dahulu, pada zaman kolonial Belanda, bangsa Indonesia juga terpecah-pecah, bangsa kita tidak bersatu dalam mengusir penjajah, bangsa kita berjuang sendiri-sendiri sesuai dengan daerahnya masing-massing, oleh karena itu bangsa kita mudah sekali diadu domba, dipecah belah dan dampaknya bangsa kita tidak kuat untuk melawan penjajah, hingga akhirnya rakyat Indonesia sadar bahwa bersatu itu sangat penting dan akhirnya lahirlah peristiwa yang kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda, rakyat Indonesia mulai sadar apa itu persatuan, mereka mulai sadar manfaat bersatu, ibarat sepotong lidi yang tidak berguna dan lemah, tetapi jika lidi-lidi itu disatukan menjadi sapu, maka akan kuat dan bermanfaat!” lanjut Bu Guru menjelaskan. “Siapa yang tahu kapan peristiwa Sumpah Pemuda terjadi?” tanya Bu Guru, “Tanggal 28 Oktober 1928 Bu!” jawab Rama, “Pintar!” puji Bu Guru, “Apa isi Sumpah Pemuda?” tanya Bu Guru lagi, “Saya tahu Bu!” sahut Rika sambil mengangkat tangan, “Ayo coba sebutkan!” perintah Bu Guru, dengan lantang Rika menyebutkan satu persatu isi Sumpah Pemuda, “Sumpah Pemuda.. 1. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, 2. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia, 3. Kami Putra dan Putri Indonesia, menjujung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”, “Pintar sekali anak ibu!’ sanjung Bu Guru.
Suasana kelas sedikit hening karena masing-masing siswa diminta Ibu Guru untuk merenungkan isi Sumpah Pemuda, sehingga semuanya mengerti pentingnya persatuan untuk mencegah perpecahan dan permusuhan, tidak terkecuali kami bertiga yang berdiri di depan kelas, kamipun sadar bahwa apa yang telah kami lakukan tadi salah, “Sekarang kalian bertiga, mau berkelahi lagi!” tanya Bu Guru memecah keheningan kelas, “Tidak bu!” jawab kami hampir bersamaan, “Sekarang kalian saling bermaafan satu dengan yang lainnya!” perintah Bu Guru, yang diikuti oleh kami bertiga dengan saling berjabat tangan dan memaafkan satu sama lain….
Azan subuh membahana memecah kesunyian, suara ayam jantanpun mengusik mimpi-mimpi indah umat manusia, dirikupun pagi ini tidak seperti biasanya, pagi ini tidak ada lagi teriakan Emakyang membangunkanku untuk sholat subuh, pagi ini aku sangat bersemangat ke sekolah, rasanya tidak sabar menunggu pagi…
“Ayo kita berangkat!” ajak Bapak, ”Siap!” teriakku girang.
Tiba di sekolah, tampak Rian sudah duduk santai di depan kelas, bayangan akan ejekan jahilnya sudah terniang di kepala, “Wahh, pasti mau mengolok-olokku lagi” bisikku dalam hati, tanpa pikir panjang aku ayunkan langkah menuju kelas, ternyata tidak seperti apa yang ada di benakku, Rian hanya tersenyum melihatku tanpa lontaran kata-kata pedasnya, akupun juga tersenyum melihatnya dan masuk ke kelas.
Hari ini pelajaran olahraga, Pak Guru memberikan kejutan kepada kami, dia membawa engrang, salah satu permainan tradisional, semua siswa berteriak kegirangan, “Anak-anak, hari ini kita akan belajar menggunakan alat berupa engrang” terang Pak Guru, “Horee..!” teriak kami bersamaan. Satu persatu siswa mencoba menaiki engrang, ada yang bisa, ada yang tidak, ada yang baru selangkah sudah terjatuh, dan ada yang tidak berani mencoba karena takut, yang terakhir itu bernama Rian, “Ayo Rian!! Yaa, penakut bangat sih!” sahut Erik, “Ngak bisa, aku takut jatuh” jawab Rian, “Payah lho!” ketus Erik, “Anang, ayo giliranmu!”perintah Pak Guru, dengan penuh percaya diri, aku langsung menaiki engrangdan mulai berjalan menelusuri rute yang telah di buat oleh Pak Guru, “Wow!, Anang hebat!” terdengar sayup-sayup suara teman-teman memuji dari pinggir lapangan, “Aku bukan hebat, tapi bermain engrangsudah biasa aku mainkan bersama teman-temanku di desa” sahutku dalam hati.
Setelah semuanya mendapatkan giliran, kami semua istirahat, tapi tiba-tiba Rian menghampiriku, “Nang, ajari dong cara naik engrang biar tidak terjatuh?”, dengan perasaan aneh, akupun menganggukkan kepala, aku masih tidak percaya apa yang diucapkan Rian. “Ayo Ian, naik biar aku peganginengrangnya!” ajakku, dengan susah payah, Rian mencoba berjalan di atas engrang, akupun sekali-kali melepaskan pegangganku, “Jangan di lepas, Nang!” teriak Rian, “Tenang saja, kamu pasti bisa!” ucapku. Dengan penuh kesabaran , pelan namun pasti, Rianpun akhirnya bisa bermain engrang. “Terima kasih, Nang!” ucap Rian, “Sama-sama!” jawabku singkat, “Ntar kita main lagi, nanti kita main PS” sambungnya, “PS…?” ucapku, “Tenang saja, nanti aku ajari cara mainnya”, ksmipun tertawa riang….
Sejak saat itu, kami telah menjalin persahatan, tidak ada lagi permusuhan diantara kami, tidak ada lagi kata-kata ejekan, kini kami saling menghargai perbedaan, dengan perbedaan membuat kami saling membutuhkan, benar kata Bu Guru, perbedaan itu indah, tanpa perbedaan dunia tidak akan berwarna, seperti pelangi, andai warnannya hanya satu maka tidak akan seindah pelangi yang berwarna-warni, dengan perbedaan semuanya menjadi indah, tanpa perbedaan hidup akan hampa. (*)

Baca Juga :  Pempek Ikan Duyung

*Penulis Guru SD Negeri 164 Palembang

Diskusi & Komentar

Berita Lainnya!