Mikroba Tahan Tiga Kali Tanam, Tingkatkan Produktivitas

 Prof Dr Ir Nuni Gofar MS. Foto:Alfery/Sumatera Ekspres Prof Dr Ir Nuni Gofar MS. Foto:Alfery/Sumatera Ekspres

Di tangan Prof Dr Ir Nuni Gofar MS, mikroba berhasil dikembangkan menjadi pupuk multiguna. Dengan konsep ramah lingkungan, bakteri hidup dan berkembang dalam tanah bisa bertahan hingga tiga kali penanaman. Produktivitas tanaman pun meningkat.
--------
Wiwin Kurniawan – Palembang
-----------
Pengembangan teknologi pupuk ramah lingkungan, sudah lama dilakukan sosok Nuni Gofar. Sejak 2010 hingga 2016, ahli Mikrobiologi tanah Universitas Sriwijaya (Unsri) ini setidaknya sudah melakukan empat kali penelitian.
Dibincangi di Pascasarjana Unsri, Kamis (16/2) pagi, Nuni mengungkapkan jika pupuk anorganik digunakan petani saat ini banyak menggunakan bahan kimia. Meski hasilnya instan, penggunaan jangka panjang membuat petani harus lebih banyak mengeluarkan uang. Karena dosis pupuk anorganik akan terus meningkat, seiring berkurangnya kesuburan tanah.
Pupuk anorganik pun, dilihat wanita kelahiran Palembang, 4 Agustus 1964 ini tidak begitu efektif. Seperti unsur Fospor (P) dibutuhkan tanaman. Hasil kajiannya, dalam 100 kg pupuk, yang bisa diserap tanaman berkisar 30 persen.
“Hilangnya karena banyak diserap oleh partikel tanah, khususnya dengan PH rendah. Bisa juga hilang karena erupsi, terbawa air dan lainnya,” jelas wanita yang menghabiskan pendidikan S1 hingga S3 di bidang Ilmu Tanah serta Bioteknologi Tanah ini.
Bakteri sebagai bagian dari mikroba yang tidak terlihat kasat mata, ternyata bisa mengatasi masalah ini. Secara sederhan,a ia menyebut, jika bakteri diambil dari tanah, kemudian diisolasi. Menggunakan mikroskop, dipilih berdasarkan sifat genetik yang bisa membantu tanaman. Bakteri pilihan inilah kemudian diperbanyak di laboratorium.
Usai dipilih, biomassa bakteri dimasukkan dengan pupuk kompos sebagai perantara. Nuni mengaku membuat sendiri kompos dari bahan jerami padi. “Pilihan kompos ini karena bisa dibuat sendiri oleh petani. Sedangkan biomassa dimasukkan juga sedikit. Hanya 10 pangkat sembilan sel per mili, per kilogram pupuk,” beber perempuan berhijab ini.
Dari hasil uji coba yang dilakukan sejak 2010 hingga 2013, di lahan pertanian padi milik warga Pemulutan Ogan Ilir (OI) serta tanaman jagung, penggunaan pupuk kompos bermikroba ini lebih efisien. Dibanding pupuk unorganik seperti Urea, NPK dan lainnya, hanya digunakan 50 persen. “Satu hektare lahan digunakan 300 kg pupuk kompos. Produktivitasnya pun meningkat 20 persenan,” bebernya.
Mikroba dalam pupuk kompos, saat disebar dalam tanah terus berkembang. Bakteri ini bisa membantu mengambil 78 persen Nitrogen (N2), untuk tanaman. Termasuk menahan unsur Fospor, yang dibutuhkan tanaman yang biasanya sulit ditahan oleh pupuk anorganik.
Keuntungan paling mencolok, ungkap dia, pupuk kompos bermikroba ini ternyata bisa bertahan di tanah hingga tiga kali penanaman, atau jangka waktu satu tahun. Berbeda dengan pupuk anorganik, harus diberikan tiap kali penanaman.
Yang perlu dilakukan petani adalah tidak mematikan tumbuhan usai panen dengan racun rumput. “Kalau diracuni, cacing saja mati, apalagi mikrobanya,” jelasnya.
Teknologi pupuk mikroba multiguna yang bisa diterapkan di lahan rawa ini, menurut Guru Besar Fakultas Pertanian (FP) Unsri ini pernah ditransfernya ke PT Pusri. Itu pada 2014-2015. Saat itu dirinya menjadi advisor (penasihat) di bagian Litbang PT Pusri.
Meski sudah dikembangkan, mensosialisasikan penggunaan pupuk organik bermikroba ke petani cukup sulit. Petani sejauh ini sudah terbiasa menggunakan pupuk anorganik. Mudah didapat, karena banyak dijual di pasaran. Termasuk racun rumput, untuk membersihkan gulma, sebelum penanaman. Selain itu, pertumbuhan tanaman terlihat lebih cepat. Berbeda dengan pupuk organik yang dikembangkannya. Bergerak pelan, seiring perkembangan mikroba dalam tanah. “Mengubah pola pikir masyarakat ini yang agak sulit. Petani kita terbiasa dengan yang instan. Sementara, kalau memang dikembangkan, dengan daya tahan mikroba setahun dalam tanah, daya jual pupuk anorganik bisa tergerus,” jelasnya.
Sejauh ini, Nuni membuka diri jika ada kelompok tani (poktan) dari kawasan Sumsel, ingin menggunakan hasil penelitiannya. Syaratnya, jika poktan mau membuat pupuk kompos, sementara dirinya sebagai peneliti memberikan cairan induk berbahan mikroba. “Kalau saya atau Unsri mau produksi massal juga sulit. Karena harus didaftarkan dulu, disertifikasi, terus di-launching,” tukasnya.
Selain aktif mengajar di Unsri serta Pascasarjana, hingga 2016 silam, Nuni masih terus mengembangkan penelitian seputar mikroba. Terakhir, Kepala UPT Pusat Pengembangan Karakter dan Karier tersebut, mengembangkan mikroba fungsional dari rawa lebak. Tidak hanya pertanian, mikroba dihasilkan juga disalurkan untuk peternakan serta produksi enzim. (*/ce1)

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca