PEDANGDUT Ayu Ting Ting ketiban apes. Janda satu anak ini mengaku menjadi korban penipuan. Namun, dia belum mau memperpanjang kasus tersebut dengan melapor ke polisi.

Pasalnya, pelaku yang melakukan penipuan itu tak lain adalah pegawainya sendiri.

Pelantun Alamat Palsu ini memilih menyelesaikan permasalahan itu lewat jalur kekeluargaan.

Jika sang asisten tak bisa menyelesaikannya, maka Ayu Ting Ting mengancam akan melaporkan kejadian itu ke polisi.

“Enggak (lapor polisi) tapi kalau enggak tanggung jawab ya kami bertindak lebih nanti,” ujar Ayu.

Lalu berapa kerugian yang dia derita?

Sayangnya, Ayu enggan merinci lebih detail. Artis yang kerap digosipkan selingkuh dengan Raffi Ahmad tersebut menganggap kejadian yang dialaminya sebagai musibah.

“Ya itulah. Ada saja yang namanya musibah. Ya sudahlah," katanya pasrah.(one/ps/jpnn)

KAYUAGUNG – Di malam Valentine Day, tragedi kekerasan dalam ruman tangga terjadi. Seorang istri tewas di tangan suami. Korbannya Sumiati (30), warga Desa Lebung Batang, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Korban tewas di rumahnya dengan luka bacokan di sekujur tubuh. Tersangkanya tidak lain adalah suaminya sendiri, Herman Sawiran (35) yang  tega membacok korban menggunakan sebilah parang.

Informasi yang dihimpun, peristiwa berdarah tersebut terjadi, Senin (13/2) sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, warga mendengar teriakan anak korban yang berumur 10 tahun. Saat dilihat warga, ternyata korban terkapar di kamar rumahnya dengan luka bacokan di pundak dan tangan hingga nyaris putus.

“Yang melihat mungkin hanya anaknya. Karena warga baru tahu setelah kejadian. Saat dicek suami korban sudah tak ada lagi,” ungkap Aneri, Kades Lebung Batang, Rabu (14/2). Tersangka Herman Sawiran sendiri akhirnya menyerahkan diri. (gti)

Baca selengkapnya Sumatera Ekspres Rabu (15/2)

JAKARTA - Paparan terorisme maupun radikalisme pada anak cukup mengkhawatirkan. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan terjadi tren peningkatan. Sebagai pencegahan, KPAI menggandeng kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Ketua KPAI Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, radikalisme tidak lagi menyasar kelompok dewasa. “Tetapi juga banyak anak-anak yang terpapar radikalisme, sampai berbuat teror,” katanya kemarin. Diantaranya adalah kasus terorisme di Medan beberapa bulan lalu, dimana pelakunya masih di bawah umur.
Niam lantas menyebutkan jumlah kasus pelanggaran hukum yang melibatkan anak-anak sepanjang 2015 berjumlah 4.309 kasus. Angka ini naik tiga persen pada 2016 menjadi 4.482 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus bidang agama dan budaya yang menjurus radikalisme juga mengalami kenaikan. Yakni dari 180 kasus naik menjadi 256 kasus.
Melihat data tren kenaikan tersebut, Asrorun mengatakan perlu ada upaya serius mengatasinya. Dia menjelaskan anak-anak harus dicegah dari paparan paham radikalisme yang menjurus pada aksi terorisme. Asrorun menjelaskan saat ini KPAI dan BNPT sedang bekerjasama menangani anak yang terpapar ideologi radikal di daerah Jawa Barat.
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menyatakan sepakat dan mendukung pencegahan anak-anak dari paparan radikalisme dan terorisme sejak dini. “Anak-anak itu harus dilindungi dan diawasi,” jelasnya. Sebab menurut dia, ada fakta bahwa akhir-akhir ini kasus terorisme yang melibatkan anak-anak mengalami peningkatan.
Suhardi menuturkan BNPT akan menyediakan data-data supaya anak yang sudah terpapar paham radikal dan terorisme bisa direduksi. Dia menegaskan anak-anak yang telah “tercemar” paham-paham itu harus didampingi supaya kembali menjadi anak pada umumnya. “Menjadi anak yang mempunyai masa depan baik,” tuturnya. (wan)

KAYUAGUNG - Satu lagi generasi muda terancam suram masa depannya. Sebut saja Kid (14), warga Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir (OI) ini dijatuhi hukuman 1 tahun penjara denda denda Rp800juta subsider 3 bulan pelatihan kerja. Vonis tersebut dijatuhi dalam sidang peradilan anak di PN Kayuagung yang diketuai Lina Safitri Tazili SH, Senin (13/2).

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum Sosor Pangabean SH, yakni 2 tahun penjara denda Rp800juta dan subsider 4 bulan pelatihan kerja, lantaran terdakwa terbukti secara sah bersalah melanggar pasal 112 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 tentang narkoba.

Pembelaan penasehat hukum terdakwa, Herman SH MH yang meminta agar pembinaannya dikembalikan kepada orang tuanya atau hukuman yang seringan-ringannya.

Menurut pertimbangan majelis hakim, vonis yang meringankan tersebut lantaran terdakwa mengakui perbuatan, menyesal, belum pernah dihukum, terdakwa dari keluarga tak utuh (yatim), dan keluarga ekonomi lemah. Sementara yang memberatkan terpidana, adalah saat ini pemerintah berupaya memberantas narkoba. (gti)

LAHAT - Ada yang menarik saat pelantikan Secaba TNI di lapangan Dodik, Lahat, Senin (13/2). Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Sudirman SH MH MM meminta orang tua atau keluarga untuk mencari anaknya hanya dalam waktu 5 menit./

"Saya kasih waktu lima belas menit. Silahkan para orang tua dan keluarga siswa secaba mencari anaknya masing-masing," ujar Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Sudirman SH MH MM, pada pelantikan Secaba Rindam II/sriwijaya di Lapangan Dodik.

Ratusan keluarga dari 187 siswa bintara TNI AD langsung berlarian ke lapangan mencari anaknya yang berdiri tegap di lapangan. Kelucuan pun kadang terlihat ketika mereka salah menebak anaknya. Maklum, para secaba muda ini memakai seragam yang sama dan mukanya dilumuri dengan cat hitam dan hijau ala tentara yang akan berperang. "Eh bukan anakku, maaf ya," ujar ibu yang memilih

anaknya.

Saking sulitnya mengenali anak mereka, hingga waktu yang diberikan berakhir, belasan orang tua tidak berhasil menemukan putranya. Apalagi bintara muda yang dicari, dilarang memberikan kode atau pun memanggil orang tua dan keluarganya yang sengaja hadir dalam pelantikan.

"Sudah lima bulan anak kami pendidikan, tentu sedih dan haru, apalagi suasananya seperti ini," kata Firman, keluarga bintara muda, asal Baturaja. Merekapun berangkulan saat menemukan keluarganya. (irw)

PIDIE JAYA - Memiliki keterbatasan karena postur tubuh tidak ideal, ternyata membuat Sari Rezita Ariyanti menjadi terkenal. Karena keterbatasannya itu, Sari Rezita Ariyanti menjadi perhatian media asing. Perjalanan hidupnya diulas Boldsky, Jumat (10/2).

Penampakan Sari memang tergolong unik. Dia masih terlihat seperti anak bawah lima tahun (balita).

Usianya sudah menginjak 24 tahun. Warga Pidie Jaya, Aceh itu bertubuh mungil dengan senyum khas yang ceria sehingga menggemaskan.

Bagi setiap orang tua, mereka tentunya menginginkan anaknya terlahir dengan kondisi sehat dan normal. Namun kenyataannya ada orang tua yang mendapatkan anak terlahir kurang normal, seperti yang dialami Sari.

Sari bukanlah balita, tetapi seorang wanita 24 tahun. Dia memiliki berat 20 kg dan panjang 87 cm. Dalam komunikasi verbal mengalami kendala. Percakapannya hanya mampu diterjemahkan oleh ibunya. “Bisa bicara sedikit tapi tak begitu lancar,” kata sang ibu.

Bila tersenyum, Sari terlihat seperti balita usia 3 tahun. Kondisinya yang mini juga membuat dia tidak mampu berjalan secara optimal. Sehingga setiap melangkah dia harus bergantung pada kerabatnya untuk dituntun ke kursi roda.

Ibu gadis mini ini mengungkapkan, dirinya baru menyadari tentang kondisi buah hatinya telah menginjak usia dua tahun.

Setelah itu baru dia menyadari bahwa buah hatinya didiagnosis dengan kondisi tersebut. Agar bisa tumbuh normal seperti anak lainnya, orang tua Sari telah berusaha beragam bentuk pengobatan medis yang ditempuh.
Kendati terlambat ditangani, namun kenyataannya Sari saat ini tetaplah seorang gadis seperti gadis pada umumnya.

Dia tetap genit dengan cat pada kuku dan memakai lipstik. Uniknya, meski tubuhnya mungil, sistem reproduksi Sari tetap berfungsi seperti orang dewasa.

Sari tetap mengalami menstruasi setiap bulan.

Atas kondisi ini, pihak keluarga terus berharap Sari diberikan kesehatan dan keceriaan seumur hidupnya. (cr1/JPG)

KERASNYA hidup di India mengharuskan seorang ibu harus membawa serta anaknya dalam bekerja sebagai buruh. Tampak seorang ibu beristirahat disertai anak balitanya usai bekerja sebagai buruh harian di Delhi, Kamis (9/2). (*) REUTERS/Cathal McNaughton

INDERALAYA - Sebut saja bunga (16), warga Desa Tanah Mas, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin ini menjadi korban kebejatan yang mengaku perjaka , hingga korban hamil 7 bulan.

Karena tidak bertanggungjawab, janji untuk menikahi tidak kunjung dibuktikan, akhirnya korban melapor ke Unit PPA Polres Ogan Ilir. Sekitar pukul 12.30 WIB, Selasa (7/2) tersangka yang diketahui bernama Miharja (32), warga Desa Sejangko II, Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Ogan Ilir ditangkap petugas Polres.

Kapolres Ogan Ilir AKBP M Arif Rifai melalui Kasat Reskrim AKP Ginanjar mengatakan, sebelum terjadi aksi persetubuhan terhadap anak di bawah umur, korban menerima telpon dari tersangka Miharja pada 7 Agustus 2016 sekitar pukul 10.30 WIB. Lalu, korban diajak tersangka menuju rumah paman tersangka yang berada di kawasan Desa Sakatiga Inderalaya. Disana korban disetubuhi tersangka yang mengaku perjaka dan berjanji akan menikahinya. Namun setelah hamil 7 bulan ternyata tersangka yang sudah mempunyai istri serta 2 orang anak mengingkarinya. (sid)

KAYUAGUNG – Jajaran Polres OKI menggerebek lima warga yang akan melakukan pesta sabu di Dusun 1, Desa Sungai Lumpur, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dua diantaranya ialah anak di bawah umur yakni An (16) dan Al (17). Keduanya warga Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, dan Al (17), yang merupakan kurir.

Sementara tiga orang dewasa yakni Taher (42) warga Desa Petaling, Kecamatan Tulung Selapan, Relly (41) warga Sungai Lumpur, dan Adi Chandra (36) warga Sungai Lumpur.

Diamankan barang bukti satu bundel bungkus plastik klip, satu bungkus kecil berisi sabu, empat bungkus plastik klip berisi serbuk ekstasi, seperangkat alat hisap, tiga unit timbangan digital, lima bong, dan 41 korek api, dan dua buah pirek kaca. Serta sepucuk senpira milik tersangka Taher.

Kapolres OKI AKBP Amazona Pelamonia didampingi Kasat Reserse Narkoba AKP Joni Pajri mengatakan bahwa kelima warga tersebut digerebek anggota Sat Pol Air Polres OKI, sekira pukul 19.00 WIB, Selasa (24/1). Selanjutnya diserahkan kepada Sat Nakorba Polres OKI. Hasil pemeriksaan diduga pengedarnya ialah Rely. (gti)

MUBA - Darmadi (50), warga Desa Ngunang, Kecamatan Sanga Desa, Muba, tega memerkosa anak tirinya, sebut saja Mawar (11). Bahkan lebih mirisnya, itu dilakukan Darmadi di depan istrinya, SF. Dalihnya, sang istri sudah sakit-sakitnya hingga tidak bisa melayani syahwatnya lagi. Bila tidak mau melayani, diancam akan dibunuh bapak tirinya itu.
Mawar yang masih berstatus pelajar itu, diperkosa sejak Maret 2016 lalu. Sebenarnya, SF pernah memergoki saat anaknya diperkosa di pondok dalam kebun itu. Tapi SF pun diancam dibunuh. Diperkosa hingga akhir Januari lalu, korban merasa kesakitan di kemaluannya.
SF akhirnya memberanikan melapor kepada tetangganya. Oleh tetangganya berinisial SK itu, diteruskan ke kadus dan kades. Kemarin (1/2) pagi, kedua perangkat desa itu melaporkannya ke Polsek Sanga Desa. Satu jam kemudian, Darmadi langsung ditangkap di kebunnya, dipimpin langsung Kapolsek Sanga Desa Iptu Herman Junaidi.
“ Pelaku melanggar UU No.35/2014 tentang Perlindungan Anak. Ancamannya 20 tahun penjara atau seumur hidup,” tegas Herman. Kepada polisi, tersangka Darmadi mengaku terpaksa menyalurkan syahwatnya kepada anak tiri, karena istrinya sakit-sakitnya. “Tidak bisa melayani lagi, terpaksa saya ancam anak tiri,” tukasnya.
Tapi pengakuan Darmadi, dibantah istrinya, SF. Dia menyatakan tidak sakit, dan masih bisa melayani suaminya. Hanya saja memang, suaminya itu disebutnya hiperseks. “Bayangkan, sami minta dilayani setiap hari,” cetusnya. Terkadang capek usai berkebun, makanya sesekali dia menolak ajakan suaminya.
Tak disangka SF, anak kandungnya jadi sasaran suaminya tersebut. “Saya diancam kalau bercerita dan melapor, akan dibunuh pakai parang,” tuturnya. (yud/air)

Halaman 1 dari 18

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca