Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kemb...

Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kembangkan Pupuk Kompos

‎MURATARA - Kendati banyak peminat, pengelolaan kotoran hewan ...

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

PAGARALAM - Anggaran untuk pelaksanaan Pilkada 2018 di Sumsel mendapat...

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

PAGARALAM - Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati ‎Mkes mengi...

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

PAGARALAM – Meski dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (A...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan Tersangka

JAKARTA- Mantan Walikota Jakarta Barat Fatahillah akhirnya ditetapkan ...

Pertamina Punya Jubir Baru

Pertamina Punya Jubir Baru

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) masih melakukan rotasi di internal. ...

Nilai Tukar Rupiah Stabil

Nilai Tukar Rupiah Stabil

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masi...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selat...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selatan dan Afrika

SURABAYA - PT INKA (Persero) berambisi menguasai pasar perkeretaapian ...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan Online

JAKARTA - Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Harryadin Mahar...

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenri...

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

SEKAYU – Permasalahan pembayaran gaji guru honorer SMA/SMK s...

Kejar Senjata Milik Teroris

Kejar Senjata Milik Teroris

JAKARTA— Densus 88 Anti-Teror berupaya melakukan antisipasi ...

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

JAKARTA – Kedatangan perwakilan Masyarakat Anti-Korupsi Indo...

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

JAKARTA – Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tur...

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

LONDON – Investigasi teror Westminster berlanjut. Kemarin (2...

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

JAKARTA – Indonesia dan Prancis akan teken beberapa kesepaka...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkon...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkong

HONGKONG – Sosok Fidel Castro berbaring tenang di atas kasur...

Pasang QR Code di Produk Obat

Pasang QR Code di Produk Obat

JAKARTA – Pengawasan obat-obatan dan makanan diakui Badan Pe...

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

MARTAPURA – Tak ada lagi rasa takut kawanan bandit bersenpi ...

Perbankan Beri Kemudahan

Perbankan Beri Kemudahan

PALEMBANG - Pelaku perbankan memberi kemudahan dan biaya bunga ringan ...

JAKARTA – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memantau proses persidangan kasus korupsi elektronik KTP (e-KTP). LPSK berharap penegak hukum memastikan perlindungan bagi para saksi, diharapkan suatu kejahatan dapat terungkap melalui proses peradilan ideal.

Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai menyoroti perkembangan proses peradilan kasus korupsi KTP elektronik, dimana pada persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor), Jakarta Pusat, Kamis (23/3), salah seorang saksi tiba-tiba mencabut dan membantah semua keterangan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Meskipun saksi mengaku terancam oleh penyidik saat di-BAP, keterangannya tidak serta merta dipercaya majelis hakim. Kemungkinan saksi mendapatkan tekanan dari pihak-pihak lain terkait megakorupsi ini juga terbuka. Karena itu perlindungan bagi saksi dalam kasus ini sangat diperlukan karena potensi ancamannya cukup tinggi,” kata Haris, Jumat (24/3).

Semendawai mengatakan, salah satu alasan dibentuknya LPSK yaitu membantu terwujudnya proses hukum yang ideal. Salah satunya dengan memastikan perlindungan dan hak-hak bagi saksi, khususnya dalam kasus korupsi. Karena itu dia mengimbau penegak hukum dapat memanfaatkan layanan perlindungan yang diamanatkan negara kepada LPSK.

Menurut Semendawai, pada saat pembacaan dakwaan, sejumlah nama, mulai pejabat, politisi hingga pengusaha disebut-sebut menerima percikan uang dari kerugian negara yang mencapai Rp2,9 triliun tersebut. Mengingat banyaknya pihak yang terlibat dalam kasus dengan kerugian negara terbesar yang ditangani KPK, ancaman terhadap saksi juga tinggi.

Apa yang terjadi pada saksi yang dihadirkan jaksa, yaitu mantan anggota  Komisi II DPR Miryam S Haryani, juga besar kemungkinan akan terjadi pada saksi–saksi lainnya. Apalagi, jika para saksi itu memang mendapatkan tekanan dari pihak tertentu untuk tidak menyeret nama-nama lain saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Karena itu, LPSK menilai upaya KPK yang langsung menangkap tersangka lainnya, AA, sebagai langkah yang tepat. Hal ini dirasa penting mengingat potensi ancaman fisik atau intimidasi juga diterima tersangka AA juga terbuka. Apalagi, peran AA dalam kasus ini disebut-sebut cukup penting karena diduga menjadi pihak yang aktif membagi-bagikan uang.

Khusus bagi AA, Semendawai menilai terbuka bagi yang bersangkutan untuk mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC). Dengan menjadi JC, selain ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti membantu penegak hukum mengungkap tersangka lain dan mengembalikan hasil kejahatannya, juga bisa mendapatkan perlindungan dan penghargaan lainnya. (ran)

‎MUARA BELITI - Pencarian korban hanyut di Sungai Kelingi, di Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, berakhir sudah. Yensi (28), korban terakhir yang tenggelam di Sungai Kelingi sudah ditemukan‎ dan melengkapi hasil pencarian. Yensi ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, terlentang mengambang di aliran sungai sekitar 4 km dari tempat kejadian perkara (TKP), Jumat (24/3) sekitar 11.30 WIB.

Selanjutnya, jenazah korban langsung diamankan dan diberikan kepihak keluarga. Sekitar pukul 14.35 WIB, sejumlah masyarakat ramai mendatangi kediaman Yensi di RT 03, Kelurahan Muara Beliti, Kabupaten Mura. Karena korban sudah tenggelam selama tiga hari, jenazah korban sudah mengalami kerusakan dan mengeluarkan bau tidak sedap. ‎ 

Dengan menggunakan baju kemeja panjang hijau toska, celana merah pendek, dan kain selendang merah untuk menggendong anaknya yang terlilit di bagian punggung korban. Sejumlah masyarakat, membakar kayu bakar untuk membuat asap, sehingga menghilangkan bau danur yang keluar dari tubuh korban. ‎

Muin (53) paman korban menuturkan, pihak keluarga meminta otopsi karena menyikapi kematian korban yang tidak wajar. Rencananya, ‎setelah melakukan otopsi di RS Sobirin Kota Lubuklinggau, jenazah akan dimakamkan di sebelah pemakaman kedua anaknya di tempat pemakaman umum (TPU), di Kecamatan Muara Beliti.

"Kami akan visum dulu ke rumah sakit, setelah diotopsi jenazah baru dimakamkan. Kita ingin tahu apa motiv yang mengakibatkan korban meninggal, karena kematian korban kami anggap tidak wajar," kata Muin.

Keluarga mengaku masih bingung atas kronologis kejadian yang disampaikan oleh saksi korban. Karena saat kejadian minim saksi dan perahu yang mereka tumpangi sampai saat ini tidak pernah ditemukan.

"Tidak ada yang menemukan perahu itu, kita tidak tahu apakah korban benar-benar tewas tenggelam atau ada kejadian selain itu. Yang pasti ketiga korban tewas di sungai," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kejadian tersebut berlangsung Rabu (22/3) sekitar pukul 08.00 WIB, ketika Yensi, Reza (4), Alif, balita sepuluh bulan, dan Mori suami korban hendak pergi berobat bisul ke pusat kesehatan di Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri. Dari lokasi rompok mereka menyadap karet. Selanjutnya mereka menaiki perahu untuk memotong jarak tempuh, namun perahu tersebut bocor dan karam.

Ketiga korban, Yensi, Alif dan Reza tenggelam sedangkan Mori selamat. Kondisi sungai saat itu tengah surut dengan kedalaman sekitar 4 meter, dengan luas sungai 40 meter. Kedua korban Reza dan Alif ditemukan setelah satu hari pencarian di sekitar TKP dan Yensi baru ditemukan setelah tiga hari pencarian. (cj13)

TEBING TINGGI - Perbuatan cabul anak dibawah umur kembali terjadi di Kabupaten Empat Lawang. Kali ini korbannya berusia sekitar sepuluh tahun berinisial HK, warga Desa Puntang, Kecamatan Ulu Musi. Pelakunya warga yang sama yakni Sinarsih (45) yang bekerja sebagai petani.

Informasi yang berhasil dihimpun, kejadian pencabulan itu terjadi Minggu (19/3) lalu dan baru dilaporkan ke pihak kepolisian Rabu (22/3). Saat itu, korban baru pulang dari sekolahnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Desa Puntang Kecamtan Ulu Musi. Saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba korban dipanggil oleh pelaku untuk diajak ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sampai di rumah pelaku, korban dipaksa melepas celana dan baju. Lalu korban dicabuli dengan memasukkan alat vital terduga ke kelamin korban secara berulang-ulang.

Akibat perbuatan tersebut membuat korban menangis. Setelah pelaku melakukan perbuatan bejatnya, korban diberi uang sebanyak Rp5 ribu oleh pelaku dan disuruh pulang ke rumah serta disuruh tidak melaporkan kejadian tersebut kepada siapapun. Namun perbuatan pencabulan tersebut, diketahui oleh orang tua korban setelah korban menceritakannya kepada orang tuanya.

Selanjutnya, orang tua korban mendatangi Polsek Ulu Musi, guna melaporkan kejadian yang menimpa anaknya itu. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Sabtu (25/3). 

MUSI RAWAS – Pencarian tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, tepatnya wilayah Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, membuahkan hasil. Setelah satu hari satu malam, dua korban ditemukan mengambang di pinggir sungai.
Keduanya, Reza (4) dan Alif (10 bulan). Jasad kakak adik itu ditemukan sekitar pukul 04.13 WIB, kemarin (23/3). Tubuh Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.
Hingga sore kemarin, tim gabungan BPBD dan Basarnas serta pihak kepolisian bersama masyarakat masih terus melakukan pencarian. Korban yang belum ditemukan, Yensi (28), yang dua hari lalu tenggelam bersama kedua anaknya. Sedang Mori, suami korban yang juga ayah kedua bocah, selamat.
Keluarga Yensi menuding banyak kejanggalan dalam kasus ini. Saat kejadian, air sungai yang lebarnya 40 meter itu sedang surut. Selama menyadap karet, tidak pernah para korban melintasi sungai tersebut.
Alasan Mori mengajak istri dan kedua anaknya lewat sungai untuk berobat dianggap tidak logis. “Kakak korban sempat emosi karena ada kejanggalan,” kata Ema, tetangga Yensi.
Jenazah Reza dan Alif kemarin sudah dimakamkan di pemakaman umum RT 03, Kelurahan Muara Beliti, pukul 11.00 WIB. Keluarga berharap jasad Yensi segera ditemukan. Diketahui, Yensi merupakan anak bungsu dari pasangan Hatta dan Enap. Dia janda beranak satu yang dinikahi Mori sekitar 1,5 tahun lalu. dari pernikahan itu, Yensi melahirkan Alif.
Menurut Ema, warga tidak mengetahui secara pasti kronologis kejadian lantaran banyak isu yang berkembang seputar kasus itu. "Kita tunggu sajalah, biar kepolisian yang memprosesnya," timpalnya.
Camat Tuah Negeri, Henri membenarkan adanya dugaan kejanggalan dalam kasus
tersebut. Sampai saat ini, perahu yang dinaiki para korban belum ditemukan. Kepala Pelaksana BPBD Mura, ‎Paisol menuturkan, tim menggunakan sejumlah peralatan selam serta perahu karet untuk melakukan pencarian. Medan pencarian di lokasi dirasa cukup berat karena banyak bebatuan dan palung sungai.
Pihaknya menggunakan sistem manuver dan berusaha membuat ombak buatan untuk mengambangkan jasad korban ke permukaan air. Kapolsek Muara Kelingi, AKP Syarifudin mengungkapkan, pihaknya sudah memulangkan Mori ke Lubuklinggau, suami Yensi. Yang bersangkutan tidak ditahan.
"Untuk sementara kami simpulkan kasus ini kecelakaan murni. Tapi terus diselidiki,” ucapnya. Diwartakan sebelumnya, saat kejadian Mori mengajak istri membawa kedua anak mereka berobat. Reza, anak sulung mereka menderita penyakit bisulan. Naik perahu, mereka pun menyeberangi sungai. Belum mencapai tepian, perahu karam. Mori selamat, istri dan dua anaknya tenggelam.(cj13)

MUARA ENIM--Kasus pembunuhan terhadap Rahmadani (16) pada 5 Oktober 2014 silam direkonstruksi di halaman Polsek Gelumbang.Tersangkanya Eko Prawiro (19) menjalani 10 adegan rekonstruksi. Sedangkan korban dilakukan oleh peran pengganti. Pelaku dan korban merupakan teman dan sama-sama warga Inderalaya, Ogan Ilir.

Nah, sekitar seminggu yang lalu tersangka didampingi keluarganya menyerahkan diri ke Polsek Gelumbang. Berdasar adegan rekon, TKP pembunuhan di Jalan Arah PT Indralaya Agro Langgeng Desa Tanjung Baru Kecamatan Muara Belida, Muara Enim. Pelaku menusuk korban pada bagian punggung dengan menggunakan sajam jenis pisau secara berulang kali. Lalu pelaku melarikan diri sembari membuang pisau.

Bermula pada 5 Oktober 2014 korban dijemput oleh tersangka di rumahnya pada siang hari. Kemudian dengan menggunakan motor korban, keduanya berboncengan jalan-jalan. Lalu sampai malam korban belum pulang. Pada pukul 24.00 WIB, korban SMS ke tetangganya bernama Ujang yang isinya “Tolong jemputi aku, aku dak tahan lagi, bawa ambulan dan bawake air minum jugo".

Kemudian keluarga dan tetangga menemukan korban sudah tewas di TKP. Berdasar rekon, keributan antara tersangka dan korban terjadi karena keduanya salah paham. Dimana tersangka ingin pulang karena hari sudah malam sementara korban melarangnya. Lalu korban sempat memukul kepala tersangka. Kemudian tersangka melawan. Tersangka sempat menendang kemaluan korban sehingga korban tampak bersujud. Barulah tersangka menghujamkan pisau ke punggung korban sampai tewas. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

 

MUSI RAWAS-Pencarian dramatis tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, di Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, membuahkan hasil. Setelah melakukan pencarian selama satu hari satu malam, akhirnya dua korban atas nama Reza (4) dan Alif (balita 10 bulan), ditemukan mengambang‎ di pinggiran sungai.     

Kedua jenazah tersebut ditemukan masyarakat Kamis (23/3) sekitar pukul 04.13 WIB, tidak jauh dari lokasi perahu mereka karam dengan jarak sekitar 50 meter dari lokasi TKP. Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif ditemukan tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.  

Pihak kepolisian, masyarakat serta tim dari BPBD dan Basarnas dari Provinsi Sumsel, saat ini masih melakukan pencarian terhadap korban Yensi (28), yang ikut tenggelam bersama kedua anaknya.

Informasi dihimpun, awalnya keluarga korban menuding banyak kejanggalan dari kasus ini. ‎Seperti saat kejadian air sungai tengah surut dan lebar sungai Kelingi sekitar 40 meter‎ dengan kedalaman 4 meter, korban tidak pernah melintasi jalur sungai selama bekerja menyadap karet. Serta alasan saksi korban mengajak korban beserta kedua anaknya melalui jalur sungai untuk berobat dianggap tidak logis.

Ema, tetangga korban yang sempat dihubungi menyatakan, jenazah kedua korban sudah dimakamkan di RT 03, Kelurahan Muara Beliti, Kecamatan Muara Beliti sekitar pukul 11.00 WIB. (cj13)

Baca selengkapnya di harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3).

      

MUARA ENIM - Setelah tenggelam di Sungai Enim di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanjung Agung sejak Minggu (19/3) pukul 06.00 WIB, jenazah Heriwan ditemukan dalam keadaan tewas. Jasad Heriwan baru ditemukan di aliran Sungai Enim di Desa Lebak Budi, Kecamatan Tanjung Agung, Rabu (22/3) pukul 07.00 WIB.

Jasad korban Heriwan saat dievakuasi.
Jasad dalam keadaan luka bagian dada setelah ditusuk dan didorong sepupunya sendiri Mahartoni (48) ke sungai. Dua warga setempat yang menemukan jasad korban adalah Firman dan Hidayat saat akan mandi di pangkalan mandi Desa Lebak Budi.

"Kami melihat ada mayat tertelungkup yang mengambang dan berputar di pusaran air di Sungai Enim Desa Lebak Budi," kata Firman.

Kemudian keduanya langsung memanggil Herison, kepala dusun (Kadus) II Desa Lebak Budi. Kadus yang menerima laporan, langsung menghubungi Kades dan Polsek Tanjung Agung dan tim SAR yang dibantu masyarakat langsung melakukan evakuasi jenazah korban. Lalu korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Bukit Asam untuk dilakukan visum et repertum.

Kapolres Muara Enim AKBP Leo Andi Gunawan melalui Kasubag Humas AKP Arsyad dan Kapolsek Tanjung Agung AKP Iwan Gunawan mengatakan, jenazah korban sudah divisum. Korban tewas dalam keadaan luka tusuk dan tenggelam di sungai.

"Kita sudah menahan tersangka Mahartoni,"ujar Arsyad. (roz)

KAYUAGUNG - Warga Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Senin (20/3) sekitar pukul 09.30 WIB, mendadak heboh. Seorang pemuda  ditemukan tergeletak tidak bernyawa di bawah Menara Telekomunikasi. Belakangan diketahui korban bernama Arles (27), warga Desa Sunggutan Air Besar, Kecamatan Pangkalan Lampam.

Belum diketahui penyebab korban tewas. Namun isu yang beredar, korban diduga dibunuh serta jatuh dari tower lantaran adanya luka-luka. Diantaranya luka lebam dan gores pada tangan kiri dan tangan kiri patah , rusuk kiri luka gores , siku kiri luka robek, pada paha kaki sebelah kiri patah.

"Kami belum memastikan karena sedang kita lakukan visum. Untuk hasilnya belum keluar," ucap Kapolsek Pangkalan Lampam, Ipda Indaryono.

Ditambahkannya, anggota telah melakukan oleh TKP sementara dan membawa korban ke puskesmas untuk dilakukan visum. (gti)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

PALEMBANG - Masih ingat kejadian Sabtu (18/3) yang menghebohkan warga kawasan 24 Ilir. Dimana ditemukan sesosok mayat laki - laki dengan bersimbah darah di Jalan Letkol Iskandar, tepatnya di jembatan menuju PIM.

Satu dari tiga pelaku pengeroyokan yang membuat Jefri (30) meregang nyawa, berhasil diringkus anggota Polsek Sukarami. Dimana saat itu, Andre (22) warga Jalan Candi Welan, Kelurahan 24 Ilir, Kecamatan IB I berhasil ditangkap dikediamannya sebelum ia sempat melarikan di ke Tangerang.

Menurut Kapolsek IB I,Kompol Handoko Sanjaya di dampingi Kanit Reskrim Ipda Irsan mengatakan, tersangka ditangkap sebelum hendak pergi ke Tangerang. Dan dia merupakan eksekutor pembunuhan yang dilakukan terhadap Jefri, warga rusun Blok 50 lantai 1.

" Sebelum dibunuh, sempat cek-cok mulut di komplek Ilir Barat Permai," kata Handoko.

Kemudian, korbanpun lari dan dikejar oleh tiga pelaku. Saat diatas Jembatan, pelaku Andre yang mabuk langsung menusuk korban sebanyak lima kali.

" Empat kali di punggung dan satu kali di bagian depan," ujarnya.

Setelah membunuh ketiganya kabur ke arah belakang PIM. Dan tersangka Andre sempat membuang senjata tajamnya di anak sungai di kawasan 24 Ilir. (wly)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

LAHAT - Angin puting beliung Minggu sore (19/3), membawa bencana bagi warga Desa Pandan Arang Ulu, Kecamatan Kota Agung. Terdata 5 rumah rusak yakni rumah milik Rahman (58), Fiter Sanom (42), Hardiansyah (45), Sumardi (50) dan Samiranto (50).

" Kejadianya sekitar pukul 16.30 (WIB), Minggu. Kami sudah cek ke lokasi" kata Camat Kota Agung, Abdul Haris, Senin (20/3).

Menurutnya, rumah panggung milik Rahman mengalami kerusakan paling parah, tidak hanya atap yang rusak, dinding rumah retak akibat hantaman pohon durian yang tumbang setelah sapuan puting beliung.

Awalnya tiupan angin tidak terlalu kencang. Namun tiba-tiba angin kencang menyapu kawasan yang selama ini memang rawan bencana puting beliung itu. Sebagian besar kerusakan terjadi pada atap rumah yang beterbangan.

"Sudah kami laporkan kepada BPBD dan Dinas Sosial," jelasnya.

Meski sempat memporakporandakan lima rumah, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Warga yang mengetahui ada tiupan angin kencang berhasil menyelamatkan diri. (irw)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

Halaman 1 dari 35

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca