MUARA BELITI - Kapolres Mura AKBP Hari Brata mengeluarkan telegram ke masing-masing Polsek di wilayah hukumnya meliputi Mura dan Muratara. Itu tentang antisipasi libur akhir pekan terkait kejahatan curas, curat dan curanmor (3C).

"Mengeluarkan surat kepada jajaran, melalui Surat Telegram Nomor : STR /193/III/ 2017 tanggal 25 Maret 2017 tentang antisipasi libur akhir pekan terkait kejahatan 3C," kata Hari.

Menurutnya, tingginya angka kejahatan, terutama 3C membuat Polres Mura untuk meningkatkan kegiatan kepolisian baik di wilayah Kabupaten Mura dan Muratara. "Sudah kewajiban kami, meningkatkan eskalasi pergelaran personel di lapangan yang bersifat preventif dengan melaksankan patroli," ujarnya.

Disamping itu, personelnya di lapangan melakukan pemeriksaan kendaraan dan orang atau razia. Tujuannya yakni guna mencegah terjadinya tindak kejahatan, khususnya di daerah-daerah rawan kejahatan.

"Pihak polsek jajaran, saya perintahkan untuk melaksanakan razia, silahkan Kapolsek mapping wilayahnya masing-masing," ungkpnya. (wek)

MUARA BELITI - Kabupaten Musi Rawas (Mura) merupakan wilayah yang masuk dalam zona rawan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumsel. Dandim 0406 Letkol Inf M Thohir ‎menegaskan, 2017 tidak akan ada sosialiasi lagi kebakaran hutan, namun harus langsung melakukan penindakan.

"Kita sudah melakukan sosialisasi sepanjang 2016, setelah hari ini kita sepakat dan keluar dari ruangan ini, tidak ada lagi sosialisasi-sosialisasi. Jadi sampaikan kepada kades, masyarakat, kalau TNI dan Polri turun, pasti langsung menangkap," kata Thohir saat dalam rapat koordinasi penanganan Karhula, di auditorium Pemkab Mura, Jumat (24/3).

Dandim menegaskan, kalau tidak ada upaya penindakan tegas terhadap para pelaku pembakaran hutan di 2017. Maka sosialisasi yang sudah dilakukan selama ini, tidak memiliki kemajuan karena hanya mengulang program kembali dari awal. Menurutnya, seluruh unsur negara harus terlibat dalam penanganan Karhutla, sehingga di 2017 pihaknya terus mendukung Pemerintah Kabupaten Mura menjadi zona aman atau zero asap. (cj13)

MURATARA - Masyarakat di Kabupaten Muratara, dalam dua hari terakhir ini ketularan sindrom phobia maraknya isu penculikan yang mengincar anak-anak. Sejumlah warga di Kelurahan/Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, dibuat heboh. Bahkan ramai warga turun ke jalan mengejar oknum yang diduga hendak melakukan penculikan. Isu penculikan terhadap anak-anak dalam satu bulan terakhir santer terdengar di masyarakat Indonesia yang awalnya bermula dari Pulau Jawa. Namun kini isu tersebut mulai mempengaruhi pola pikir masyarakat, khususnya di Kabupaten Muratara.

Informasi yang begitu cepat tanpa keterangan jelas, banyak beredar. Sehingga menimbulkan phobia berlebihan di tengah masyarakat. Sabtu (18/3) sekitar pukul 19.35 WIB, masyarakat di sekitar Kelurahan Karang Jaya RT 01, ramai-ramai turun ke jalan setelah beredar isu, keberadaan orang tidak dikenal berkeliaran di kampung dan mengetuk rumah warga. Awalnya, saksi Rosmala menuturkan, saat itu orang yang yang dicurigai tersebut merupakan seorang wanita menggunakan rok dan sepatu hak tinggi. Entah mengapa wanita misterius tidak dikenal tersebut mengetuk rumahnya. Setelah saksi membuka pintu rumah, wanita yang dicurigai itu langsung kabur melarikan diri.

Karena saksi ketakutan, dia langsung berteriak histeris dan meminta pertolongan warga. Sontak saja, informasi itu beredar cepat bahkan
melalui media sosial, banyak masyarakat yang mengaitkan informasi itu dengan modus penculikan anak-anak yang saat ini tengah beredar di masyarakat.

Terpisah, Kapolres Mura AKBP Hari Brata SIK melalui Kapolsek Karang Jaya AKP Yulfikri menuturkan, pihaknya memastikan informasi yang
beredar di masyarakat itu merupakan informasi lemah tanpa bukti pendukung alias informasi palsu. Dia menegaskan, pihaknya sudah mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan saksi.

"Informasinya tidak jelas mas, saksi juga tidak melapor dan modus yang dilakukan orang dicurigai juga tidak jelas. Kami minta kepada masyarakat, jangan terpancing isu-isu tidak jelas, kami tidak tahu siapa yang menghembuskannya melalui media sosial," ujarnya. (cj13)

MUARA BELITI - Warga Desa Sri Penganten, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), dambakan akses penghubung keluar masuk di wilayahnya. Warga mengaku sampai saat ini masih kesulitan, karena hanya bisa mengandalkan jalur sungai dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam sebagai akses utama.

Rizal, warga Desa Sri Penganten menuturkan, masyarakat di desanya saat ini masih terisolir karena belum ada akses jalan penghubung di desa mereka dengan wilayah Kecamatan di STL Ulu Terawas. Warga berharap, pemerintah secepatnya membangun jalan, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.

"Rata-rata di sini kami banyak yang petani karet, untuk membawa hasil perkebunan atau keluar masuk desa kami cuma menggunakan perahu ketek. Kalau bisa, saya minta kepada pak bupati biar dipercepat pembangunan jalan," kata Rizal, Minggu (19/3).

Selain mengeluhkan akses penghubung, warga juga mengeluh karena belum adanya aliran listrik dari PLN yang masuk ke pemukiman. Untuk penerangan, warga terpaksa mengandalkan genset. "Masih pakai genset pak, listriknya belum masuk," timpalnya. (cj13)

MUARA BELITI - Kasus perampokan sadis terhadap tauke karet dengan modus korban ditembak langsung di buang ke aliran sungai, di Simpang Desa Bumi Makmur, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura) beberapa waktu lalu, akhirnya terungkap.

Polisi menangkap dua orang tersangka di lokasi berbeda. Yakni JN (39) di Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahyang, Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu‎ dan SG (26) di SP VI HTI, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Mura. Salah satu pelaku JN ditindak tegas polisi, setelah berusaha merebut senjata anggota.

Informasi dihimpun, penangkapan itu dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polres Mura AKP Satria Dwi Darma, Jumat (17/3) sekitar pukul 21.00 WIB, beserta sejumlah personel Polres. Awalnya pihak kepolisian meringkus JN. Berdasarkan keterangan JN, aksi yang mereka lakukan berawal dari informasi SG yang menjadi informan mereka.

Dari keduanya polisi menyita empat pucuk Senpira jenis laras pendek, 10 butir amunisi aktif kaliber 5,56 mm, tiga unit handphone milik JN dan satu handphone milik Sugiman. Saat ini aparat kepolisian masih melakukan pengembangan dengan mengejar sejumlah pelaku yang belum tertangkap. (cj13)

Baca selengkapnya Sumatera Ekspres Senin (20/3)

MURATARA - ‎Ditinggal kabur oleh lima rekannya, Alfian (33), warga Desa Embacang, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, akhirnya diciduk polisi. Alfian ditetapkan menjadi tersangka, karena gagal melarikan diri saat membawa angkong berisi tandan sawit hasil curian di areal kebun Lonsum Sei Gemang Estate di Kecamatan Rawas Ilir.

Kapolres Mura AKBP Hari Brata melalui Kapolsek Rawas Ilir Iptu Fajri Anbia menuturkan, penangkapan itu berlangsung Kamis (16/3) sekitar pukul 08.00 WIB, saat pihaknya mendapat laporan dari security PT Lonsum dengan nomor laporan LP/B-16/2017/Sumsel/Res Mura/Sek Rwi tertanggal 16 Maret 2017. Saat itu, Korlap Security PT Lonsum I MADE Subagio tengah melakukan patroli di areal perkebunan milik perusahaan. Lalu mereka mendapati laporan dari rekannya mengenai aksi pencurian tandan buah sawit yang dilakukan oleh enam orang tidak dikenal (OTD) di areal Divisi III, perkebunan.

Selanjutnya, security langsung menghubungi pihak kepolisian agar secepatnya menindaklanjuti kasus tersebut. "Kita tidak kenal sama pelaku, saat melihat ke tempat Kejadian Perkara (TKP), sudah sekitar 2 ton tandan sawit yang mereka panen," kata Fajri. (c13)

MUARA BELITI - Mendapat durian runtuh tidak selalu menjadi pertanda mendapatkan berkah‎. Sejumlah warga di Desa Lubuk Ngin, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas (Mura), malah cemas karena mendapati pohon durian yang runtuh menimpa rumah milik warga.

Lusi (48), warga Desa Lubuk Ngin, Kecamatan Selangit mengaku cemas dengan kejadian angin ribut yang melanda pemukiman mereka. Serpihan pepohonan tumbang serta atap rumah yang rusak masih nampak jelas menggambarkan dahsyatnya bencana angin ribut saat itu.

"Rumah aku ditimpo pohon duren, aku takut nian, dunia becak nak kiamat. Sampai sekarang aku masih lemes tulang gara-gara kejadian itu," kata Lusi, Rabu (15/3).

Menurut Lusi, kejadian bencana alam itu terjadi, Senin (13/3) sekitar pukul 18.00 WIB. Ketika warga tengah beristirahat dan melaksanakan salat maghrib di rumah masing-masing. Warga mengaku tidak memiliki persiapan apa pun karena bencana itu datang secara tiba-tiba, sebelum kejadian kondisi pemukiman warga tengah mati lampu, disertai hujan deras dan angin kencang. Suara gemuruh angin berlangsung sekitar 30 menit, ‎dan hujan mulai reda sekitar pukul 19.00 WIB. Banyak warga yang berteriak minta pertolongan karena dicekam rasa ketakutan saat kejadian.

"Kami teriak galo, tapi idak berani keluar rumah karena hujan deras. Aku sampai sembunyi samo anak di bawah dipan (ranjang)," ujarnya. (cj13)

MUARA BELITI - Meningkatnya debit aliran Sungai Musi di Desa Anyar, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura), mengakibatkan sejumlah pemukiman warga terancam longsor. Warga mengaku cemas dengan kejadian itu, sehingga meminta Pemkab secepatnya memperbaiki talud pembatas aliran sungai yang rusak.

Leni (39), pemilik rumah yang terancam longsor mengatakan, amblasnya tanah di bibir sungai akibat arus Sungai Musi yang semakin hari makin terus meningkat. Awalnya jarak rumahnya dengan bibir sungai sekitar 5 meter, namun karena terus tergerus dan talud pembatas ikut amblas. Sekarang jarak pemukiman warga dengan sungai hanya sekitar setengah meter. Warga takut amblasnya tanah yang berada di sepanjang aliran Sungai Musi semakin parah. Karena saat ini, amblasnya sebagian tanah mengakibatkan lantai rumah warga retak-retak dan pondasi rumah mereka mulai goyang.

"Ada sekitar tigo rumah yang hampir terjun ke sungai nian, tapi yang terancam banyak, mungkin ratusan rumah. Sekarang jarak antara tiang rumah dengan sungai tinggal sedikit lagi. Kami minta pemerintah turun tangan, bantu kami warga di sini," kata Leni, Minggu (12/3). (cj13)

MUARA BELITI - Larangan pegawai negeri sipil (PNS) tidak boleh menggunakan tabung gas bersubsidi, nampaknya sulit diterapkan. Pasalnya, sampai saat ini, pemerintah masih kesulitan melakukan pengawasan terhadap penyaluran gas subsidi agar tepat sasaran.

Ade, distributor liquified petroleum gas (LPG)‎ di Kelurahan/Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas (Mura) mengatakan bahwa kebutuhan LPG bersubsidi dengan ukuran tabung 3 kg, terus mengalami peningkatan. Padahal Pertamina sudah mengeluarkan produk baru tabung gas ukuran 5,5 kg, untuk mengatasi banyaknya permintaan konsumen. Menurutnya, saat ini tabung gas ukuran 3 kg sangat diminati oleh masyarakat, dari kalangan tidak mampu maupun dari kalangan masyarakat menengah ke atas, termasuk para pegawai. Rata-rata seluruh warga memburu si melon hijau, dengan alasan harganya lebih
terjangkau.

"Kita sulit membedakan warga tidak mampu atau PNS yang membeli tabung gas ukuran 3Kg. Memang seharusnya tabung gas bersubsidi diperuntukkan untuk masyarakat tidak mampu, tapi kenyataan di lapangan sulit diprediksi," ujarnya. (cj13)

MUARA BELITI - Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Musi Rawas (Mura), nyaris gagal melakukan reses di Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Mura. Pasalnya, mobil rombongan anggota DPRD Mura, tidak bisa melintas akibat terjebak lumpur dan kondisi akses jalan rusak parah.

"Parah nian dek, jalannyo ancur kami tejebak lumpur jadi idak biso lewat, padahal nak reses. Wajar kalau warga di Desa Sembatu Jaya ini susah galo. Jalannyo belumpur dalam, jadi susah keluar masuk," keluh Wakil Ketua DPRD Mura I Ismun Yahya, Kamis (9/3).

Setelah melakukan peninjauan langsung ke masyarakat di Desa Sembatu Jaya, DPRD Mura berencana secepatnya memanggil pihak eksekutif dan meminta Pemkab untuk segera membangun dan memperbaiki akses jalan penghubung di Desa Sembatu Jaya, di Kecamatan BTS Ulu.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Mura H Aidil Rusman menyatakan akibat curah hujan meningkat memang banyak jalan-jalan di wilayah Kabupaten Mura yang mengalami kerusakan. Namun kerusakan jalan itu didominasi oleh jalan provinsi atau jalan negara.

"Untuk jalan kabupaten saya rasa semuanya masih bagus, bagi yang sudah ditingkatkan. Tapi jalan yang belum ditingkatkan seperti Sembatu Jaya memang sekarang masih rusak. Jalan di sana sering terendam banjir," tukasnya. (cj13)

Halaman 1 dari 24

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca