Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kemb...

Pak Bupati... Warga Muratara Pengin Kembangkan Pupuk Kompos

‎MURATARA - Kendati banyak peminat, pengelolaan kotoran hewan ...

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

Sharing Anggaran Pilkada Belum Jelas

PAGARALAM - Anggaran untuk pelaksanaan Pilkada 2018 di Sumsel mendapat...

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

Sistem Pengairan Irigasi Ditata Ulang

PAGARALAM - Walikota Pagaralam, dr Hj Ida Fitriati ‎Mkes mengi...

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

APBD Minim, Pembangunan Dilanjutkan

PAGARALAM – Meski dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (A...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan...

Mantan Walikota Jakarta Barat Ditetapkan Tersangka

JAKARTA- Mantan Walikota Jakarta Barat Fatahillah akhirnya ditetapkan ...

Pertamina Punya Jubir Baru

Pertamina Punya Jubir Baru

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) masih melakukan rotasi di internal. ...

Nilai Tukar Rupiah Stabil

Nilai Tukar Rupiah Stabil

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masi...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selat...

Optimisme INKAI Kuasai Market Asia Selatan dan Afrika

SURABAYA - PT INKA (Persero) berambisi menguasai pasar perkeretaapian ...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan...

Organda Harusnya Tetapkan Tarif Angkutan Online

JAKARTA - Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia Harryadin Mahar...

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

SPP Kuliah Kedokteran DItetapkan

JAKARTA - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenri...

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

Honorer Swasta Belum Gajian 10 Bulan

SEKAYU – Permasalahan pembayaran gaji guru honorer SMA/SMK s...

Kejar Senjata Milik Teroris

Kejar Senjata Milik Teroris

JAKARTA— Densus 88 Anti-Teror berupaya melakukan antisipasi ...

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

Pengaduan Setnov Makin Menumpuk

JAKARTA – Kedatangan perwakilan Masyarakat Anti-Korupsi Indo...

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

Ratusan Anggota OPM Menyerahkan Diri

JAKARTA – Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) tur...

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

Pelaku Punya Catatan Kriminal Panjang

LONDON – Investigasi teror Westminster berlanjut. Kemarin (2...

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

Fokus di Bidang Maritim dan Ekraf

JAKARTA – Indonesia dan Prancis akan teken beberapa kesepaka...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkon...

Lima Pemimpin Komunis Bertemu di Hongkong

HONGKONG – Sosok Fidel Castro berbaring tenang di atas kasur...

Pasang QR Code di Produk Obat

Pasang QR Code di Produk Obat

JAKARTA – Pengawasan obat-obatan dan makanan diakui Badan Pe...

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

Polisi Dirampok 4 Bandit Berpistol

MARTAPURA – Tak ada lagi rasa takut kawanan bandit bersenpi ...

Perbankan Beri Kemudahan

Perbankan Beri Kemudahan

PALEMBANG - Pelaku perbankan memberi kemudahan dan biaya bunga ringan ...

MURATARA - Wakil Bupati Mutara H Devi Suhartoni menegaskan, dukungan penyelamatan biota sungai di Indonesia masih sangat minim. ‎Faktor tersebut diduga menjadi pemicu maraknya aksi illegal fishing yang dilakukan oleh masyarakat yang terjadi di wilayah perairan sungai.

"Saya ingin presentasikan kepada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, dukungan penyelamatan biota sungai ini sangat penting. Hampir di seluruh wilayah kita ada aliran sungai, jadi harus ada gerakan secara nasional untuk menjaga dan melestarikan aliran sungai," kata Devi, Minggu (26/4).

Menurut Devi, langkah yang dilaksanakan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk melestarikan biota laut dan menjaga wilayah perairan, sudah tepat. Tapi gerakan itu baru berlaku di wilayah kelautan, sedangkan gerakan untuk ‎menjaga aliran sungai belum ada yang menerapkan. Padahal banyak sungai-sungai besar di wilayah Indonesia seperti Sungai Mahakam, Musi, Batanghari, dan sungai lainnya yang menjadi tempat hajat orang banyak.

"Kita akan terus menindaklanjuti masalah aksi illegal fhising, menyetrum, meracun itu tidak boleh. Kalau dibiarkan saja dan tidak ada yang melestarikan aliran sungai, otomatis biota di sungai akan habis dan tidak bisa dimanfaatkan lagi," ujarnya. (cj13)

JAKARTA - Peringatan Hari Air Sedunia 22 Maret dan menyambut Earth Hour (25 Maret), SEID (Sharp Electronics Indonesia) menggerakkan komunitas Sharp Greenerator melakukan aksi pelestrian lingkungan di Hutan Kota Sangga Buana. Difasilitasi WWF-Indonesia, komunitas juga belajar mengenai pemanfaatan sumber alternatif pengganti minyak bumi yang kian menipis.

"Pengetahuan anak muda mengenai alam dan lingkungan tak cukup lewat sekolah saja, juga perlu terjun langsung melihat kondisi dan belajar dari para ahli. Kami juga lihat potensi besar terhadap lingkungan dari Sangga Buana, sehingga tergerak menjadikannya sarana pembelajaran dalam mencari tahu pengelolaan lingkungan yang baik," ujar Haruhiko Sano, Branding Strategy Group General Manager SEID, Jumat (24/3). Para peserta diajak mengelilingi tiga pos dengan ragam kegiatan berbeda terkait pelestarian alam.

Sebelumnya, Sangga buana merupakan tempat pembuangan sampah bagi masyarakat sekitar. Selain diminta melestarikan alam, peserta juga dipupuk rasa cinta dan syukurnya terhadap alam melalui pos sedekah alam. Peserta diminta melepaskan bibit ikan ke sungai dan menanam pohon di sekitar hutan kota. Peserta juga menymbangi tempat pengelolaan sampah yang berlokasi di dalamnya. Produksi sampah di satu Kk kerap mencapai 7 kilogram, sementara yan didaur ulang hanya mencapai 20-25 persen dan sisanya residu. Untuk itu peserta diingatkan tentang tiga proses pengelolaan sampah, pemilihan, pemisahan dan pengolahan.

Selain aksi ini, SEID juga melakukan kegiatan CSR Care and Share Project 18 Maret lalu di Museum Satria Mandala. Disamping mengenal sejarah, siswa dari SMKN 29 diajak membersihkan sampah di museum sekaligus jadi bagian peresmian taman mini Sharp. Dengan tingginya andil anak muda, khususnya komunitas Sharp Greenerator diharapkan dapat menghargai energi yang ada dengan menggunakannya secara efisien, mampu mengedukasi teman disekitarnya, bahkan menciptakan inovasi baru ramah lingkungan dengan energi terbarukan. (rei)

‎MUARA BELITI - Pencarian korban hanyut di Sungai Kelingi, di Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura, berakhir sudah. Yensi (28), korban terakhir yang tenggelam di Sungai Kelingi sudah ditemukan‎ dan melengkapi hasil pencarian. Yensi ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, terlentang mengambang di aliran sungai sekitar 4 km dari tempat kejadian perkara (TKP), Jumat (24/3) sekitar 11.30 WIB.

Selanjutnya, jenazah korban langsung diamankan dan diberikan kepihak keluarga. Sekitar pukul 14.35 WIB, sejumlah masyarakat ramai mendatangi kediaman Yensi di RT 03, Kelurahan Muara Beliti, Kabupaten Mura. Karena korban sudah tenggelam selama tiga hari, jenazah korban sudah mengalami kerusakan dan mengeluarkan bau tidak sedap. ‎ 

Dengan menggunakan baju kemeja panjang hijau toska, celana merah pendek, dan kain selendang merah untuk menggendong anaknya yang terlilit di bagian punggung korban. Sejumlah masyarakat, membakar kayu bakar untuk membuat asap, sehingga menghilangkan bau danur yang keluar dari tubuh korban. ‎

Muin (53) paman korban menuturkan, pihak keluarga meminta otopsi karena menyikapi kematian korban yang tidak wajar. Rencananya, ‎setelah melakukan otopsi di RS Sobirin Kota Lubuklinggau, jenazah akan dimakamkan di sebelah pemakaman kedua anaknya di tempat pemakaman umum (TPU), di Kecamatan Muara Beliti.

"Kami akan visum dulu ke rumah sakit, setelah diotopsi jenazah baru dimakamkan. Kita ingin tahu apa motiv yang mengakibatkan korban meninggal, karena kematian korban kami anggap tidak wajar," kata Muin.

Keluarga mengaku masih bingung atas kronologis kejadian yang disampaikan oleh saksi korban. Karena saat kejadian minim saksi dan perahu yang mereka tumpangi sampai saat ini tidak pernah ditemukan.

"Tidak ada yang menemukan perahu itu, kita tidak tahu apakah korban benar-benar tewas tenggelam atau ada kejadian selain itu. Yang pasti ketiga korban tewas di sungai," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kejadian tersebut berlangsung Rabu (22/3) sekitar pukul 08.00 WIB, ketika Yensi, Reza (4), Alif, balita sepuluh bulan, dan Mori suami korban hendak pergi berobat bisul ke pusat kesehatan di Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri. Dari lokasi rompok mereka menyadap karet. Selanjutnya mereka menaiki perahu untuk memotong jarak tempuh, namun perahu tersebut bocor dan karam.

Ketiga korban, Yensi, Alif dan Reza tenggelam sedangkan Mori selamat. Kondisi sungai saat itu tengah surut dengan kedalaman sekitar 4 meter, dengan luas sungai 40 meter. Kedua korban Reza dan Alif ditemukan setelah satu hari pencarian di sekitar TKP dan Yensi baru ditemukan setelah tiga hari pencarian. (cj13)

MUSI RAWAS – Pencarian tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, tepatnya wilayah Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, membuahkan hasil. Setelah satu hari satu malam, dua korban ditemukan mengambang di pinggir sungai.
Keduanya, Reza (4) dan Alif (10 bulan). Jasad kakak adik itu ditemukan sekitar pukul 04.13 WIB, kemarin (23/3). Tubuh Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.
Hingga sore kemarin, tim gabungan BPBD dan Basarnas serta pihak kepolisian bersama masyarakat masih terus melakukan pencarian. Korban yang belum ditemukan, Yensi (28), yang dua hari lalu tenggelam bersama kedua anaknya. Sedang Mori, suami korban yang juga ayah kedua bocah, selamat.
Keluarga Yensi menuding banyak kejanggalan dalam kasus ini. Saat kejadian, air sungai yang lebarnya 40 meter itu sedang surut. Selama menyadap karet, tidak pernah para korban melintasi sungai tersebut.
Alasan Mori mengajak istri dan kedua anaknya lewat sungai untuk berobat dianggap tidak logis. “Kakak korban sempat emosi karena ada kejanggalan,” kata Ema, tetangga Yensi.
Jenazah Reza dan Alif kemarin sudah dimakamkan di pemakaman umum RT 03, Kelurahan Muara Beliti, pukul 11.00 WIB. Keluarga berharap jasad Yensi segera ditemukan. Diketahui, Yensi merupakan anak bungsu dari pasangan Hatta dan Enap. Dia janda beranak satu yang dinikahi Mori sekitar 1,5 tahun lalu. dari pernikahan itu, Yensi melahirkan Alif.
Menurut Ema, warga tidak mengetahui secara pasti kronologis kejadian lantaran banyak isu yang berkembang seputar kasus itu. "Kita tunggu sajalah, biar kepolisian yang memprosesnya," timpalnya.
Camat Tuah Negeri, Henri membenarkan adanya dugaan kejanggalan dalam kasus
tersebut. Sampai saat ini, perahu yang dinaiki para korban belum ditemukan. Kepala Pelaksana BPBD Mura, ‎Paisol menuturkan, tim menggunakan sejumlah peralatan selam serta perahu karet untuk melakukan pencarian. Medan pencarian di lokasi dirasa cukup berat karena banyak bebatuan dan palung sungai.
Pihaknya menggunakan sistem manuver dan berusaha membuat ombak buatan untuk mengambangkan jasad korban ke permukaan air. Kapolsek Muara Kelingi, AKP Syarifudin mengungkapkan, pihaknya sudah memulangkan Mori ke Lubuklinggau, suami Yensi. Yang bersangkutan tidak ditahan.
"Untuk sementara kami simpulkan kasus ini kecelakaan murni. Tapi terus diselidiki,” ucapnya. Diwartakan sebelumnya, saat kejadian Mori mengajak istri membawa kedua anak mereka berobat. Reza, anak sulung mereka menderita penyakit bisulan. Naik perahu, mereka pun menyeberangi sungai. Belum mencapai tepian, perahu karam. Mori selamat, istri dan dua anaknya tenggelam.(cj13)

PALI - Lagi-lagi temuan ular piton kembali membuat heboh warga Bumi Serepat Serasan. Tak seperti sebelumnya, kali ini ular yang dikenal dengan lilitannya ini ditemukan, Davis (35), warga Desa Persiapan Dewa Sebane, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab lematang Ilir (PALI).

Informasi yang berhasil dihimpun, penemuan ular yang memiliki panjang sekitar sembilan meter ini, pertama kali ditemukan Rabu (22/3) sekitar pukul 22.30 WIB, saat Davis sedang asik mencari ikan di aliran sungai yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya, bersama kedua rekannya.

Disanalah, dirinya langsung mencoba menangkap ular tersebut dengan peralatan seadaanya. Dengan cara bergotong royong membawa ular tersebut ke rumahnya. Warga yang mengetahui itu langsung beramai-ramai mendatangi kediamannya lantaran penasaran ingin melihat ular tersebut.

"Mereka mencari ikan semalam, tapi ketika menyelusuri sungai,melihat adanya seekor ular piton sedang berada di pinggiran sungai," ungkap Kepala Desa Panta Dewa, Suwandi, yang bersebelahan dengan desa kediaman Davis ini, Kamis (23/3).

Dijelaskanya, untuk menangkap ular tersebut, ketiga warga tersebut tidak mengalami kesulitan.‎ (ebi)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3)

 

MUARA ENIM - Setelah tenggelam di Sungai Enim di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanjung Agung sejak Minggu (19/3) pukul 06.00 WIB, jenazah Heriwan ditemukan dalam keadaan tewas. Jasad Heriwan baru ditemukan di aliran Sungai Enim di Desa Lebak Budi, Kecamatan Tanjung Agung, Rabu (22/3) pukul 07.00 WIB.

Jasad korban Heriwan saat dievakuasi.
Jasad dalam keadaan luka bagian dada setelah ditusuk dan didorong sepupunya sendiri Mahartoni (48) ke sungai. Dua warga setempat yang menemukan jasad korban adalah Firman dan Hidayat saat akan mandi di pangkalan mandi Desa Lebak Budi.

"Kami melihat ada mayat tertelungkup yang mengambang dan berputar di pusaran air di Sungai Enim Desa Lebak Budi," kata Firman.

Kemudian keduanya langsung memanggil Herison, kepala dusun (Kadus) II Desa Lebak Budi. Kadus yang menerima laporan, langsung menghubungi Kades dan Polsek Tanjung Agung dan tim SAR yang dibantu masyarakat langsung melakukan evakuasi jenazah korban. Lalu korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Bukit Asam untuk dilakukan visum et repertum.

Kapolres Muara Enim AKBP Leo Andi Gunawan melalui Kasubag Humas AKP Arsyad dan Kapolsek Tanjung Agung AKP Iwan Gunawan mengatakan, jenazah korban sudah divisum. Korban tewas dalam keadaan luka tusuk dan tenggelam di sungai.

"Kita sudah menahan tersangka Mahartoni,"ujar Arsyad. (roz)

MUSI RAWAS - Tiga dari empat orang warga Dusun 8 Seriang, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura hilang tenggelam dialiran sungai Kelingi setelah perahu yang dinaiki mereka diduga bocor, Rabu (22/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Mereka satu keluarga yakni Mori (30), Yensi (28), Reza (4) dan Alif (10 bulan). Mori, sang suami selamat. Sedangkan istrinya yakni Yensi, Reza dan Alif hingga kemarin sekitar pukul 17.30 WIB belum ditemukan. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mura dibantu warga terus melakukan penyisiran serta pencarian dilokasi.

"Pada saat ketiga korban bersama dengan suami korban akan ke dusun dari kebun dengan menggunakan perahu biduk, tiba-tiba perahu biduk yang digunakan terisi oleh air, bocor di bagian belakang," kata Kapolres Mura, AKBP Hari Brata melalui Kapolsek Muara Kelingi, AKP Sarifudin.

Mengetahui perahu tersebut terisi air, suami korban melompat dari perahu untuk mendorong perahu yang digunakan ke tepi sungai. Lalu melihat suaminya melompat ke sungai, istri korban ikut melompat dengan menggendong anaknya yang berumur 10 bulan. Melihat ibunya meloncat, anaknya yakni Reza juga ikut meloncat.

"Diduga tidak bisa berenang, istri korban berpegangan di baju suaminya. Tidak lama kemudian suaminya mengetahui kalau istri dan kedua orang anaknya sudah tidak ada lagi, tenggelam dibawa arus," jelasnya.

Kemudian suami korban berenang ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri dan meminta pertolongan. Lalu sekitar pukul 11.30 WIB tim dari BPBD Kabupaten Mura tiba di TKP dan proses pencarian hingga pukul 18.30 WIB tadi  masih berlangsung. (wek)

Baca selengkapnya di harian Sumatera Ekspres Kamis (23/3).

 

MUARA ENIM-- Dua pria yang masih satu keluarga terlibat perkelahian di pinggir Sungai Enim, Minggu (19/3) pukul 06.00 WIB. Kejadian tepatnya di pangkalan pemandian di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim.  Keduanya masih saudara sepupu yakni Mahartoni (48), dan Heriwan. Keduanya warga Kampung II, Desa Sukaraja Kecamatan Tanjung Agung. Akibatnya, Heriwan tenggelam di Sungai Enim setelah ditusuk dengan pisau secara membabi buta oleh Mahartoni.

Bermula ketika Heriwan mandi di pangkalan pemandian Sungai Enim Desa Sukaraja. Tidak lama kemudian datanglah Mahartoni. Keduanya bertemu di pangkalan mandi. Lalu terjadi ribut mulut sehingga terjadi perkelahian fisik. Pada saat perkelahian terjadi di pinggir sungai, tersangka yang membawa sebilah pisau menghujamkannya ke tubuh korban berkaki-kali. Diduga korban terjatuh ke dalam sungai setelah ditusuk dengan sajam. Sampai saat ini belum diketahui kondisi korban dan korban belum ditemukan. Anggota Polsek Tanjung Agung masih melakukan pencarian terhadap korban yang tenggelam di Sungai Enim.

Kasubag Humas Polres Muara Enim AKP Arsyad didampingi Kapolsek Tanjung Agung AKP Iwan Gunawan mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP dan pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi."Pelaku atas nama Mahartoni ditangkap di rumahnya untuk dimintai keterangan lebih lanjut,"ujar Arsyad.

Dijelaskan Arsyad, berdasar pemeriksaan tersangka, tindak pidana penganiayaan terjadi karena pelaku dan korban sering bertengkar. Selama ini korban dan pelaku tinggal satu rumah yang dibagi dua. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

MUARA BELITI - Warga Desa Sri Penganten, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), dambakan akses penghubung keluar masuk di wilayahnya. Warga mengaku sampai saat ini masih kesulitan, karena hanya bisa mengandalkan jalur sungai dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam sebagai akses utama.

Rizal, warga Desa Sri Penganten menuturkan, masyarakat di desanya saat ini masih terisolir karena belum ada akses jalan penghubung di desa mereka dengan wilayah Kecamatan di STL Ulu Terawas. Warga berharap, pemerintah secepatnya membangun jalan, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.

"Rata-rata di sini kami banyak yang petani karet, untuk membawa hasil perkebunan atau keluar masuk desa kami cuma menggunakan perahu ketek. Kalau bisa, saya minta kepada pak bupati biar dipercepat pembangunan jalan," kata Rizal, Minggu (19/3).

Selain mengeluhkan akses penghubung, warga juga mengeluh karena belum adanya aliran listrik dari PLN yang masuk ke pemukiman. Untuk penerangan, warga terpaksa mengandalkan genset. "Masih pakai genset pak, listriknya belum masuk," timpalnya. (cj13)

JAKARTA – Impian Indonesia untuk mencapai akses universal 100 persen air minum, 0 persen pemukiman kumuh dan 100 persen stop bebas buang air besar sembarangan pada 2019 masih jauh dari angan. Hingga Maret 2017 sendiri, dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih ada 20,761 juta KK yang belum memiliki akses sanitasi alias tidak punya jamban. Akibatnya, buang air sembarang ini pun tak terelakkan.
Bila dibreakdown lagi, dari angka 20,761 juta KK tersebut paling banyak disumbang oleh Provinsi Papua dan Papua Barat. Di Papua, baru 15,59 persen warga yang memiliki akses sanitasi yang baik. Tak jauh beda, di Papua barat pun baru 22,23 persen warga buang air besar (BAB) dengan akses yang mumpuni. Kondisi ini jauh berbeda dengan wilayah Jogjakarta, yang warganya sudah 99,73 persen memperoleh akses sanitasi yang baik.
Kendati begitu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Imran Agus Nurali menampik bila kebiasaan buang air sembarang ini hanya terjadi di pedesaan. Sebab, daerah perkotaan seperti DKI Jakarta pun masih dijumpaik hal yang sama. ”Masih ada warga yang buang air sembarangan, seperti di sungai,”ujarnya di Jakarta, kemarin (17/3).
Namun bedanya, permasalahan di perkotaan sejatinya lebih mengarah pada sistem sanitasi yang kurang baik. Yakni, jarak antar jamban yang terlalu dekat, baik dengan jamban milik tetangga ataupun dengan sumur resapan.”Kalau tidak, kotoran manusia masih tetap di buang ke sungai meski ada jamban. Akhirnya menyebabkan kualitas air pun tidak sehat karena tercemar lalu dikonsumsi,” ungkapnya.
Akibatnya, berbagai ganguan kesehatan pun mengancam masyarakat. Mulai dari diare, cacingan, hepatitis, tifus hingga stunting (kerdil). Potensi stunting ini jadi salah satu yang paling mengkhawatirkan. Biasanya, resiko ini terjadi pada anak sejak masih dalam kandungan. Ibu yang tengah hamil tidak memiliki akses sanitasi yang baik. Kemudian, terserang E. coli hingga menyebabkan diare. Dalam jangka panjang, E.coli terus berkembang hingga menyebabkan diare kronis.
”kalau sudah kronis, diare yang kecil-kecil dalam waktu lama dikhawatirkan terjadi kerusakan dinding usus,” jelasnya. Jika sudah begitu, tentu menggangu penyerapan zat gizi makanan. ”Dikasih zat gizi macam-macam pasti akan keluar. Lalu terjadi ganguan tumbuh kembang balita dan menyebabkan stunting” sambungnya.
Masalahnya, stunting karena kekurangan gizi ini berbeda dengan genetic. Bila sudah stunting, maka kemungkinan besar akan berpengaruh pada intelektual anak. Dari data riskesdas 2013 sendiri, jumlah anak stunting di Indonesia mencapai 29 persen riskesdas.
Imran menjelaskan, sebetulnya banyak factor yang menyebabkan banyak warga masih buang air sembarangan. Akses kepemilikan jamban tidak berdiri sendiri. Ada factor lain seperti masalah geografis, kesadaran hidup bersih yang masih rendah, dan ketersediaan air bersih yang kurang. ”Kalau punya jamban tapi tidak ada air bagaimana. Kolaborasi antar kementerian/ lembaga ini memang sangat diperlukan,” tuturnya.
Pihaknya sendiri tengah melakukan pendekatan dengan metode pemicu. Yakni, memicu warga untuk tidak BAB sembarangan dengan menimbulkan rasa jijik. Biasanya, warga akan dikumpulkan dan diberi penjelasan soal alur resapan air. warga juga diperlihatkan secara langsung bagaimana kotoran manusia yang direndam dalam air. ”intinya kita picu untuk butuh jamban. Kemudian, kita giring untuk mau berperilaku hidup bersih dan memiliki sanitasi yang baik,” jelasnya.
Selain itu, Kemenkes tengah menggalakkan pelatihan untuk wirausaha pembuatan jamban berbasis masyarakat. Jamban buatan warga ini menyasar masyarakat miskin yang merasa tak mampu membeli jamban yang ada. ”kita latih membuat jamban. Kita pinjamkan cetakan jamban di puskesmas. Ini sudah berjalan di sejumlah daerah, seperti Maumere. Jamban dijual Rp 75 ribu dan tahan dua tahun,” ungkapnya. Tahun ini, untuk program sanitasi total berbasis masyarakat ini Kemenkes menganggarkan sekitar Rp 220 Miliar.
Perwakilan dari USAID IUWASH PLUS Alifah Lestari mengungkapkan, setiap tahunnnya lebih dari 6 juta ton kotoran manusia dibuang langsung hingga mengakibatkan air tercemar. Akibatnya, 100 ribu anak Indonesia meninggal karena diare dan 120 juta kejadian penyakit menyerang tiap tahunnya. ”Pemerintah harus kerja keras untuk bisa menuntaskan masalah air bersih ini,” ujarnya ditemui dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, pendekatan terhadap masyarakat harus dilakukan massif. Bukan hanya oleh Kemenkes namun juga kementerian/lembaga terkait. Seperti dari PU yang memberikan pengertian soal pentingnya kuras tinja pada septic tank di rumah. ”Sebab, banyak masyarakat yang justru bangga saat belum pernah kuras septic tank. Mikirnya, aman. Padahal bisa jadi resapannya buruk sehingga sudah meluber kemana-mana,” tandasnya. (mia/air)

 

Halaman 1 dari 22

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca