PANGKALAN BALAI -  Tersangka perampokan terhadap tauke karet, Basri (43), warga Blok C Desa Air Bening, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas, tewas dihajar massa, setelah aksinya terpergok warga sekitar. Kejadian ini terjadi Sabtu (11/2) sekitar pukul 13.30 WIB, di Jalan Padat Karya, Desa Mainan, Kecamatan Sembawa, Banyuasin.

Berdasarkan informasi, korban Gunawan bersama temannya Ahmad. Keduanya warga Desa Rejodadi, Kecamatan Sembawa, membawa uang lelang getah sebesar Rp400 juta ke Dusun Sukadamai, Desa Mainan. Keduanya berangkat menggunakan sepeda motor menuju lokasi.

Di saat korban melintas, ternyata tersangka Basri (43) rupanya sudah berada di lokasi dengan sepeda motor FU BG 6963 AAI. Tersangka mencoba menakuti korban sembari menembakan satu timah panas ke dara, tapi korban tetap memacu motor kemudian menabrak tersangka hingga tersungkur.

Setelah itu kedua korban dan tersangka berkelahi mempertahankan uang sebesar Rp400 juta itu, serta merebut senpira dari tangan tersangka. Warga yang saat itu memang sedang habis menyadap karet mendengar suara tembakan serta teriakan minta tolong dari salah satu korban perampokan langsung mendatangi lokasi.

Warga selanjutnya memberikan bantuan terhadap korban yang sedang berkelahi dengan tersangka. Hanya dalam hitungan detik, warga pun berdatangan dan menghakimi tersangka. Tersangka tewas setelah dipukuli massa dengan luka memar yang cukup banyak. (qda)

PALEMBANG - Diduga membuat onar karena dipengaruhi minuman keras (miras), Septa Andre (34) tewas dengan dua luka tusuk di punggungnya, Kamis (9/2) sekitar pukul 20.30 WIB.

Informasi yang dihimpun, warga Kompleks Griya Sejahtera Blok C 13, Kecamatan Sukarami, sebelum tewas korban sempat nongkrong di depan pos satpam. Karena dipengaruhi minuman keras diduga korban membuat keonaran sehingga terjadi aksi pembunuhan tersebut.

Kapolsek Sukarami Achmad Akbar mengatakan sebelum tewas korban sempat mabuk dan membuat onar di kompleks tersebut. Dan korban pun sempat ditenangkan oleh pelaku. Namun upaya pelaku tidak berhasil.

" Diduga pelaku adalah penjaga keamanan di komplek sana. Dan saat ini kami masih mendalami kejadian tersebut," terangnya. (wly)

BANYUASIN – Suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas III Banyuasin mendadak heboh. Selasa (7/2) pukul 09.00 WIB, seorang narapidana (napi) di sana ditemukan tewas dalam kamarnya.
Dia, Iskandar (43), warga Lr Setia, Kelurahan 11 Ulu, Palembang. Warga binaan tersebut diduga tewas karena sakit. Sebelum meninggal, korban sempat mengeluhkan penyakit yang dideritanya.
“Dia memang mengeluh sakit sejak beberapa hari terakhir,” kata Kepala Lapas Banyuasin, Agus Susanto SSos. Korban sempat mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan lapas di poliklinik.
“Saat dicek tadi pagi (kemarin), ternyata meninggal,” jelasnya. Korban ditahan karena terjerat kasus penyalahgunaan narkotika dan menguasai senjata api secara ilegal. Dia divonis enam tahun empat bulan kurungan. Karena ia tidak membayar uang denda Rp800 ribu, masa tahanannya ditambah dua bulan.
Total hukumannya 6,5 tahun. Yang bersangkutan sudah menjalani masa hukuman selama tiga tahun terhitung 7 Juni 2014. “Jenazah akan dikembalikan kepada keluarga, dan keluarga menolak untuk dilakukan autopsi,” ujar Agus.
Kapolres Banyuasin AKBP Andri Sudarmadi SIK MH mengatakan, dari hasil identifikasi pihaknya, tidak ada bekas kekerasan di tubuh korban. “Tapi untuk mengetahui kematian korban, apakah karena sakit dan lain sebagainya harus melalui keterangan dokter,” pungkasnya.(qda/ce2)

INDERALAYA - Diduga dendam lama, Renaldi (24), warga Dusun 6, Desa Sakatiga, Kecamatan Inderalaya, Kabupaten OganIlir (OI) nyaris tewas dengan kondisi bersimbah darah. Korban ditikam oleh tersangka Gofur (17) salah seorang pelajar SMA di Palembang yang tinggal di Jl Taqwa, Lr Iskandar Mata Merah, Kecamatan Kalidoni Palembang.

Peristiwa penikaman tersebut terjadi Senin (6/2) sekitar pukul 23.30 WIB di Desa Sakatiga, oleh tersangka Gofur yang dibantu saudaranya Nuralamsyah (23) dan temannya Deni (22). Ketiganya warga Kalidoni Palembang.

Berdasarkan informasi, antara tersangka dan korban ternyata sudah lama kenal. Sebelum terjadi aksi balas dendam tersebut, tersangka bersama dua bersaudara Gofur dan Nuralamsyah pernahsekolah di Mts Sakatiga. Saat itu , kedua bersauadara (tersangka) pernah dipalak oleh korban. Ternyata kejadian tersebut masih terngiang-ngiang di pikiran kedua tersangka. (sid)

MUARADUA- Dua pemuda, Rabu malam sekitar pukul 20.00WIB terlibat duel maut di persimpangan Desa Sumber Raya Kecamatan Buay Pemaca. Salah satu dari dua pemuda Hendro bin Remis (27) warga  Desa Sumber Raya tewas dengan luka tusukan di bagian dada setelah sempat dilakukan pertolongan medis ke Puskesmas Buay Pemaca.

Sementara pelaku sendiri diketahui Budi bin Sarnubi (20) warga Talang Imus usai menikam korbannya dengan sebilah pisau langsung melarikan diri, dan hingga kini masih menjadi buron pihak kepolisian.

"Persitiwa perkelahian yang berujung maut ini terjadi Rabu malam, di jalan persimpangan Desa Sumber Raya,” kata Kapolres OKU Selatan AKBP Widayana Sulandari melalui Kapolsek Buay Pemaca Ipda Johan Safrie.

Menurut infromasi dan hasil pemeriksaan, sebelum persitiwa duel maut antar dua pemuda, sempat berpapasan ditengah jalan tepatnya dipersimpangan (simpang tiga) Desa Sumber Raya. Korban saat bertemu pelaku menanyakan kepada pelaku kalau yang mencuri ternak miliknya berupa sapi diduga dilakukan pelaku.

Keduanyapun terlibat adu mulut hingga pelaku mengakui jika dirinyalah yang mencuri sapi milik orangn tuanya. “Memang ia saya yang mencuri sapi punya bapakmy,”ujar pelaku ditirukan Kapolsek Buay pemaca kepada wartawan.

Karena pelaku seolah menantang dengan nada bicaranya, keduannyapun tanpa babibu langsung terlibat perkelahian di Simpang Tiga Desa Sumber Raya. Pergulatan itu pun berujung penusukan oleh pelaku terhadap korban menggunakan sebilah pisau cap garpu di bagian dada korban. Hingga korban Hendro pun tumbang dan sempat dilarikan ke Puskesmas terdekat oleh saudaranya bernama Merpin. (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (3/2).

 

KAYUAGUNG - Peristiwa kebakaran terjadi di Dusun IV, Desa Sriguna, Kecamatan Teluk Gelam, Ogan Komering Ilir, Selasa (31/1), sekitar pukul 02.30 WIB. Atas kejadian itu seorang nenek renta tewas terpangangg, penghuni rumah yakni Hopsah (85).

Informasi yang dihimpun, saat kejadian sebagian besar warga sedang tertidur pulas. Tiba-tiba terlihat warga ada kepulan asap dari rumah korban. Sontak warga langsung bergegas menyelamatkan korban. Namun api telah membesar dan korban terjebak dalam kobaran api tersebut.

"Pihak Dinsos OKI juga telah datang dan memberikan bantuan kepada keluarga korban. Untuk penyebabnya kita belum tahu," ungkap Camat Teluk Gelam, Narudin.

Ditambahkan Kades Sriguna, Ahmad Firdaus bahwa korban memang tinggal sendirian di rumah. Korban juga sakit-sakitan di rumahnya. Dia ada empat anak, tiga merantau dan satunya di desa tapi beda desa dan sudah berkeluarga. (gti)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (1/2). 

 

LAHAT - Lagi, kecelakaan maut memakan korban jiwa. Kali ini lakalantas terjadi di  Jalinsum Desa Ulak Pandan, Kecamatan Merapi Barat, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari Senin (30/1).

Sepeda motor Suzuki Satria FU tanpa nopol bertabrakan dengan Daihatsu Xenia, BG 1972 T. Akibatnya, dua pengendara sepeda motor tewas di tempat. Satu orang lagi kritis menjalani perawatan intensif di RSUD Lahat.

Informasi koran ini, sebelum kejadian Prayogi Gumay (20) pengendara sepeda motor bersama dua rekannya Robi Kawanhar alias Kecek (22) dan seorang perempuan Apriani (25), bergerak dari Kecamatan Merapi menuju Lahat. Mereka berbonceng 3.

Saat bersamaan Royan Asmara (40) bergerak dari Lahat kearah Merapi. Tiba di TKP, kedua kendaraan bertabrakan ala adu kambing. "Kuatnya benturan menyebabkan sepeda motor korban terseret beberapa meter dari lokasi kejadian,"ujar Iwan, salah seorang saksi mata yang berada di TKP, Senin (30/1).

Akibatnya Prayogi warga Kelurahan Bandaragung, Kecamatan Kota Lahat dan Kecek langsung meregang nyawa di tempat. Sementara, rekan perempuan mereka, Apriani, mengalami patah kaki dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. (irw)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (31/1). 

KECELAKAAN maut terjadi di Jl Alamsyah Ratu Prawiranegara arah Jembatan Keramasan, Kelurahan/Kecamatan Gandus, Palembang, Jumat (27/1) pagi. Seorang pengendara sepeda motor yang belum diketahui identitasnya mengalami kecelakaan karena terlindas kendaraan bertonase tinggi. Korban tewas di tempat kejadian perkara (TKP). Pengendara kendaraan tersebut melaju dari arah Jembatan Keramasan menuju Jembatan Musi II. (dom)

KECELAKAAN maut terjadi di Purwodadi, tepatnya di Jalur Malang-Surabaya, Jatim, Jumat (13/1). Sebuah dumtruk menabrak tujuh sepeda motor, enam mobil, dan satu truk. Akibat dari kejadian tersebut, empat korban tewas. (*)

JAKARTA - Polres Metro Jakarta Utara menduga adanya pelaku lain dalam tewasnya taruna STIP, Amirullo Adityas Putra (18). Meski sudah mengantongi lima tersangka penganiayaan, polisi masih belum yakin dan akan terus menggali peran dari masing-masing pelaku.
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombespol M Awal Chairuddin menjelaskan, tidak menutup kemungkinan pelaku penganiyaan bisa bertambah. Hal ini didasar atas tradisi serah terima alat musik drumband yang ternyata menganiaya siswa lain. Tewasnya Amir lantaran ingin menjadi pemukul tam-tam dalam eskul unggulan di sekolah tersebut. “Jadi tidak menutup kemungkinan tersangka bertambah. Kemudian apa yang menjadi hasil dari dokter itu bisa kami kembangkan,” kata Awal kepada media, kemarin (12/1).
Polisi juga menaruh curiga atas noda hitam pekat yang terdapat di lambung korban. Kapolres mengaku tengah menggali para pelaku apakah memberikan minuman jenis lain sebelum kejadian. “Dokter akan memberikan keterangan resmi. Kemungkinan diracun, masih kami dalami,” ujarnya.
Dirinya juga menginstruksikan agar dibukanya posko pengaduan jika siswa lain mendapat perlakuan serupa oleh seniornya. Hal tersebut sudah dikoordinasikan ke Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dan disetujui. “Dasar yang kami lakukan, melihat tindakan kekerasan itu rutin berjalan. Pembentukan posko ini sangat penting untuk mengklarifikasi, apakah banyak yang dirugikan dan ini akan menjadi barometer,” ujar perwira pemilik tiga melati di pundak ini.
Meski begitu, Awal juga bakal merahasiakan pelapor yang mengadu ke posko pengaduan. Nantinya data awal terkait, pelapor, peristiwa apa, kapan, dan siapa pelakunya akan diusut tuntas oleh pihak yang berwajib. Awal juga akan menyesuaikan dengan fakta di lapangan, guna menyocokan aduan dengan fakta yang ada.
Lebih lanjut, Awal menginstruksikan agar rekonstruksi digelar secepatnya. Melihat kasus ini sudah menjadi atensi publik. Tewasnya siswa siswa STIP, membuat Komisi V DPR gahar. Pasalnya, pada 2014 DPR dan STIP sudah sepakat agar tidak ada kegiatan kekerasan di sekolah pelayaran tersebut. “Kami merekomendasikan agar sekolah di sini ditutup atau ditutup sementara,” ujar Ketua Komisi V DPR Fary Djemy Francis kepada wartawan, kemarin.
Dengan tegas, Fary mengutuk kekerasan yang kembali terjadi di STIP. Dia mengatakan, pada 2014 silam, kejadian yang sama juga pernah terjadi. Saat itu, DPR juga memanggil pihak STIP dan Kementerian Perhubungan. Hasilnya, disepakati bahwa STIP harus melakukan pembenahan sistem pendidikan dan menghapus tindak kekerasan.
“Saat itu kesepakatannya, kalau ada tindak kekerasan lagi, sekolah akan ditutup,” tegasnya. Karena itu, ia menyesalkan kejadian itu terulang kembali. Pihaknya menilai kejadian ini terulang karena lemahnya pengawasan di dalam asrama. Dia akan menyelidiki untuk mencari tahu pihak yang bertanggung jawab atas sistem tersebut.
Sementara Sitti Aminah, ibu kandung Amirulloh Adityas Putra merasa kecewa kepada pihak kampus. Sitti yang menolak tawaran dari Menhrb Budi Karya Sumadi, membuat kakak korban, Amarulloh Adityas Putra. hanya bisa bengong. “Cukup Amirulloh saja (yang menjadi korban). Orang yang sukses enggak perlulah dari STIP segala. Maka dari itu saya melarang Amar (kakak kembar Amirulloh). Malah, dia bengong,” ungkap Sitti di kediamannya di Jalan Wakaras III, Gang 16 RT 07/14, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, kemarin.
Sitti mengaku takut bila Amarulloh tetap berkeinginan masuk ke STIP. Amir ini anak yang soleh, berbakti, tidak pernah mengeluh sedikit pun. “Bahkan, dia (Amirulloh) mendapat kekerasan di sekolahnya saja hanya diam. Meski dijamin Amarulloh bisa masuk ke STIP, saya langsung tolak. Tetap tak mau jikalau Amarulloh ke STIP,” tegas Sitti. (gum)

 

Halaman 1 dari 17

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca